Dari Mas Satriyo, sungguh artikel yg bagus, terkait masalah khilafiyah dan 
ukhuwah.
Dan ini mestinya teladan utk kita semua, terlebih yg mengaku mengagumi 
pemikiran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Wassalam,



Nugon



http://groups.yahoo.com/group/insistnet/message/18654


Satriyo <lasykarl...@...> 

satriyo_as 


Ukhuwah dalam Pandangan Ibnu Taimiyah

Senin, 08 Maret 2010 17:32 Artikel



<http://www.inpasonline.com/index.php?view=article&catid=1%3Afikih-dan-syariah&i\

d=408%3Aukhuwah-dalam-pandangan-ibnu-taimiyah&tmpl=component&print=1&page=&optio\

n=com_content&Itemid=101#>

http://www.inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=408:ukhu\

wah-dalam-pandangan-ibnu-taimiyah&catid=1:fikih-dan-syariah&Itemid=101



Oleh: *Thoriq *







*Ikhtilaf Dalam Masalah Ijtihad *



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang orang-orang yang

bertaklid kepada sebagian ulama dalam masalah ijtihad, apakah harus dingkari

dan dijauhi? Beliau menjawab: “Alhamdulillah, dalam masalah-masalah ijtihad,

barang siapa mengamalkan pendapat ulama tidak boleh diingkari atau dijauhi.

Dan barang siapa mengambil salah satu dari dua pendapat juga tidak boleh

dingkari, jika dalam sebuah masalah ada dua pendapat. Apabila seseorang

mengetahui ada salah satu dari dua pendapat yang lebih rajih, maka hendaklah

ia mengamalkannya, jika tidak maka dibolehkan dia bertaklid terhadap

beberapa ulama yang bisa dijadikan rujukan untuk menjelaskan pendapat yang

lebih rajih diantara dua pendapat, *wallahu’alam*.” (*Majmu’ah Al Fatawa*,

vol. 20, hal. 115)



Beliau berkata di tempat lain:”Adapun ikhtilaf dalam permasalahan hukum,

bisa lebih banyak lagi. Seandainya saja jika dua orang muslim ikhtilaf dalam

suatu masalah dan keduanya saling menjahui maka tidaklah tersisa dari umat

ini kemaksuman dan persaudaraan…” (*Majmu’ah Al Fatawa*, vol. 24, hal 96).



Syaikhul Islam dalam *Khilaf Al Ummah fi Al Ibadat wa Madzhab Ahlu As Sunnah

* juga menyebutkan Imam Ahmad yang berpendapat bahwa membaca* basmalah

*dalam shalat

tidak perlu dengan *jahr.* Akan tetapi beliau membaca *basmalah* dengan *

jahr* jika shalat di Madinah, karena penduduknya membaca *basmalah* dengan *

jahr*. Qadhi Abu Yu’la Al Fara’ menjelaskan bahwa Imam Ahmad melakukan hal

itu dalam rangka menjaga ukhuwah (*Risalah Ulfah*, hal. 48).



*Larangan Berpecah-Belah *



Salah satu penyebab perpecahan umat adalah *imtihan* (menguji) dengan

penisbatan yang tidak berdasarkan nash. Seperti yang dicontohkan oleh Ibnu

Taimiyah, yaitu dengan mengatakan kepada seseorang:”Kamu Shukaily atau

Qarfandi?” Maka jika seseorang ditanya dengan pertanyaan seperti itu,

jawabnya adalah:”Saya bukan Shukaili atau Qarfandi, akan tetapi saya muslim

yang mengikuti Kitabullah dan sunnah rasul-Nya.”



Sebagaimana diriwayatkan, bahwa Ibnu Abbas ditanya oleh Muawiyah:”Kamu

mengikuti millah Ali atau millah Utsman?” Beliau menjawab: “Saya tidak

mengikuti millah Ali ataupun Utsman, akan tetapi saya mengikuti millah

Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam.”



Begitu juga tidak diperbolehkan *imtihan *(menguji)* *dengan penisbatan yang

sudah umum dipakai para ulama, seperti penisbatan kepada Imam* *(Al Hanafi,

Al Maliki, As Syafi’i atau Al Hambali), yaitu dengan mengatakan: “Kamu

Hanafi atau Maliki?” Juga penisbatan kepada guru ( Al Qadiri atau Al

‘Adawi), atau qabilah (Al Qaisi atau Al Yamani), atau negeri (Al Iraqi, Al

Mishri atau As Syami). Juga tidak boleh berloyalitas atas nama-nama ini dan

tidak pula menyakiti mereka yang bernisbah kepadanya. Adapun yang paling

muliya di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa, tidak pandang dari thaifah

mana pun dia (Lihat, *Majmu’ah Fatawa*, vol. 3, hal. 255).* *



*Loyalitas Tidak Didasari Atas Penisbatan*



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-rahimahullah- mengatakan: “Allah telah memberi

kabar, bahwa orang mukmin memiliki loyalitas kepada Allah, rasul-Nya serta

hamba-hamba-Nya yang mukmin. Mukmin di sini bersifat umum, barang siapa

beriman maka dia disifati dengan sifat ini. Baik mereka yang menisbahkan

diri, atas negeri, madzhab, thariqah atau yang tidak menisbahkan diri. Allah

telah berfirman:”Dan laki-laki yang beriman serta perempuan yang berimana,

sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain.”(At Taubah: 71).



Ibnu Taimiyah juga menyebutkan beberapa hadits, salah satunya adalah hadits

yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Permisalan orang-orang mukmin dalam

kecintaan, kasih dan sayang atas sesama mereka seperti satu tubuh, jika

salah satu dari anggota badan sakit maka seluruh badan ikut demam susah

tidur.” (Lihat, *Majmu’ah Al Fatawa, *vol. 3, hal. 257)



*Tawadhu’ Ibnu Taimiyah Kepada Ulama Madzhab Lain*



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak hanya cukup berfatwa, lebih dari itu,

amalan beliau mencerminkan apa yang beliau katakan. Ibnu Taimiyah tetap bisa

bersikap obyektif kepada para ulama lain walaupun mereka berbeda pendapat

atau madzhab. Meskipun beliau dalam banyak hal mengambil pendapat Madzhab

Hambali akan tetapi beliau memiliki beberapa murid yang bermadzhab lain,

seperti Ibnu Katsir (774 H) dan Imam Ad Dzahabi (748 H), keduanya bermadzhab

Syafi’i.



Antara Ibnu Taimiyah dan Taqiyuddin As Subki (756 H) yang bermadzhab Syafi’i

sering saling mengkritik lewat karya masing-masing, akan tetapi Ibnu

Taimiyah tetap memuji karya-karya Taqiyuddin As Subki, dan beliau tidak

memberi penghormatan kepada orang lain sebagaimana beliau menghormati

Taqiyuddin As Subki (lihat, *Tabaqat Asyafi’yah Al Kubra,* vol.10, hal.

194).



Yang juga perlu dicontoh dari Ibnu Taimiyah adalah sifat tawadhu’ beliau

terhadap ‘Alauddin Al Baji (724 H), salah satu ulama madzhab Syafi’i yang

mempunyai majelis perdebatan. Suatu saat mereka berdua bertemu, dan Al Baji

berkata kepada Ibnu Taimiyah: ”Bicaralah, kita membahas permasalahan

denganmu.” Akan tetapi Ibnu Taimiyah menjawab:”Orang sepertiku tidak akan

berbicara di hadapan anda, tugasku adalah mengambil faidah dari anda.”

(*Tabaqat

As Syafi’iyah Al Kubra*, vol. 10, hal. 342)



*Nasehat Ibnu Taimiyah*



Syikhul Islam –rahimahullah- mengatakan: “Perpecahan umat yang telah menimpa

para ulama, para masyayikh, umara’, serta para pembesarnya merupakan

penyebab berkuasanya musuh atas mereka. Dan itu disebabkan karena mereka

telah meninggalkan perintah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya…”



Di tempat lain dijelaskan, bahwa Allah berfirman:”Dan hendaklah ada dari

antara kamu satu golongan yang mengajak kepada kebaikan dan menyeru kepada

hal yang ma’ruf serta melarang hal yang mungkar. Dan mereka itulah

orang-orang yang memperoleh kemenangan.” Ibnu Taimiyah mengatakan:”Amar

ma’ruf adalah memerintahkan untuk bersatu dan berkumpul adapun nahi mungkar

adalah menegakkan hudud dengan Syari’at Allah.” (Lihat, *Majmu’ah Al Fatawa*,

vol. 3, hal. 259).



Maka, marilah kita rapatkan shaff, kikis rasa ta’ashub pada diri kita, juga

prasangka buruk terhadap yang lain, juga perasaan bahwa diri kita selalu

dalam kebenaran dan yang lain selalu berada dalam kebathilan, juga klaim

bahwa hanya kita yang memahami dien sedangakan yang lain hanyalah

*juhala’*yang tidak perlu didengarkan.

*Wallahu’alam bishowab.*









--

Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.

now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.

N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs.

im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können.

>> al-Ra'd [13]: 28





      

Kirim email ke