suatu sore di bawah pohon mahoni. Riri melihat Tara mendekatinya.
"Kak, lagi ngapain?" tanya Tara.

"Nungguin temen, nih. kamu lagi ngapain?"

"Lagi nyari temen curhat, ku kira Kakak lagi ngga sibuk."

"Emang ngga sibuk sih tapi ngga mungkin kan aku sengaja bengong di tempat 
begini."

"Hehehe... iya sih. semoga temen Kk lama datengnya. aku pengen curhat, deh."

"Iya, boleh. ada apa sih?" Riri penasaran meskipun geli dengan doa Tara.

"Gini, Ka. emangnya Kak ino dan kak oni pacaran ya? kayaknya mereka sering 
banget berduaan deh. mereka bukan saudara kandung kan?" tanyanya to the point 
membuat Riri tersudut. Riri mencoba mencairkan suasana dengan memikirkan 
kata-kata yang tepat untuk bisa dicerna.

"kenapa bisa langsung bilang mereka pacaran? kali aja kan mereka lagi diskusi, 
kan mereka emang seangkatan."

"Abisnya mereka sering banget jalan berdua, aku akan percaya mereka lagi 
diskusi kalo tiap berduaan mereka bawa buku dan sedang membaca buku."

"Lho? kalo baca buku sambil jalan, bisa bahaya ntar nyeblos ke got, dong? kan 
jalanan depan sekolah kita banyak selokan. hehehe... mungkin rumah mereka 
memang searah kali... jangan suudzon dulu, ya..."

"Kakak... ngga gitu... kalo rumah mereka searah kan ngga harus senempel itu, 
ka. padahal kan mereka aktif di rohis kita ya?"

"Iya sih," Riri menghela nafas. mulai kehabisan kata-kata untuk membuat adik 
kelasnya tidak berpikiran buruk tentang teman seangkatannya itu. Riri tahu ino 
dan oni memang pacaran, memang sering berduaan tapi...

"Aku pengen bilangin mereka, ka. tapi aku kan bukan siapa-siapa. oh iya, Kakak 
kan sering mentoring sama ka ino tuh, bilangin mentornya aja," katanya dengan 
bersemangat. Riri seperti melihat ada banyak lampu di otak adiknya itu.

"Jangan, mereka bisa di sidang. kita harus bisa mencari alternatif lain yang 
lebih manusiawi."

"Kan mereka aktivis, berarti mereka harus tahan banting, dong?"

"Aktivis kan juga manusia, punya rasa punya hati..."

"Jangan samakan dengan pisau belati..." Tara tertawa, angin semilir membuat 
rambutnya yang tergerai melambai. Sejenak Riri membatin, dek, kapan kamu mau 
pakai jilbab?

"Yah.. terus gimana dong, ka?"

"Gimana ya? aku juga sedang memikirkan yang terbaik untuk mereka. aku ingin 
mereka terjaga tapi tetep ada di rohis kita. oh iya, ngomong-ngomong kenapa 
tanya-tanya hubungan mereka?"

"hehehe... tanya kenapa...?" Tara membunyikan suara itu seperti di iklan. "Kak 
ino kan pinter matematika jadi aku pengen diajarin sama dia. kalo dia sama 
pacarnya terus, aku ngga enak ngedeketin ka ino. lagian sayang banget kan kalo 
pacaran padahal udah jadi aktivis rohis yang puitis dan romantis jadi ngga 
idealis? Eh, kalo bikin puisi aja, gimana?"

"Puisi? aku ngga bisa merangkai kata."

"Kalo pake hati, pasti bisa ka. kan dari hati tembus ke hati."
belum sempat Riri menjawab tiba-tiba temannya datang dan menyahut, "Kenapa 
ngomongin hati? mau bikin puisi?"

Tara menoleh lalu tersenyum, "Eh, Kak ino... tanya kenapa sama ka Riri tuh, 
hehehe..."


kamar, 17 maret 2010
*ketika teringat kisah tragis para aktivis


      Yahoo! Toolbar kini dilengkapi Anti-Virus dan Anti-Adware gratis.
Download Yahoo! Toolbar sekarang.
http://id.toolbar.yahoo.com

Kirim email ke