Mahasiswa : Kemana  Saja Kamu
<http://niendin.wordpress.com/2008/01/23/mahasiswa-kemana-saja-kamu/>
by Endin Surya  Solehudin
Mahasiswa, sering disimbolkan sebagai  kekuatan garis depan yang
melindungi hak-hak rakyat. Maka tidak  heran,penguasa sangat takut
dengan kekuatan `kaum intelektual', sehingga  aparat pemerintah
membuatperaturan yang mengatur barisan mahasiswa agar  tidak brutal dan
bebas—di-dikte. Selain melalui peraturan
tertulis, juga disengaja untuk memasukkan unsur-unsur ideologi tertentu 
ke dalam otak pemikiran mahasiswa.

apakah masih ada yang tersisa?
sejak langkah senjata
berhenti berdering di telinga
apakah masih ada yang tinggal?
dari laju perjuangan
yang meninggalkan jejak berdebu
di belakang

Kutipan puisi diatas penulis temukan dari secarik kertas yang 
ditinggalkan tergeletak di atas bangku halte—didepan Pusat Kegiatan 
Mahasiswa sebuah Universitas terkemuka. Bekas remasan tangan sangat 
jelas di ukiran kertasitu. Tampaknya, sang pembuat puisi tidak 
menginginkan puisinya dibaca orang, sehingga ia remuk-remaskan 
dansepintas seperti sampah kertas biasa yang sering hadir—berserakan
di  seputaran halte. Puisi yang sebenarnya tidak terlalu istimewa, namun
ketika penulis mencoba memahaminya, hanya menghasilkan senyum simpul 
yang pahit.

Ada nada kekecewaan. Begitu menyayat, sehingga sang pembuat tega 
membuang hasil karyanya itu. Ada pertanyaanyang sampai sekarang belum 
terjawab di benak penulis; apakah sekarang sosok pejuang itu masih ada? 
Memang, kemerdekaan Indonesia telah diraih sejak 17 Agustus 1945. Dengan
pengorbanan ribuan jiwa akhirnya kita
bisa memproklamasikan berdirinya Republik Indonesia tercinta. Ketika 
kita masih menginjak pendidikan dasar (SD) guru kita sering menekankan 
bahwa setelah tanggal 17 Agustus 1945 itu, Indonesia memasuki tahapan 
untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan. Guru kita pun sering 
bilang bahwa kita sebagai generasi muda bangsa, harus mengisi 
kemerdekaan dengan hal-hal yang positif dan tetap menjaga nama baik 
Republik Indonesia dimana pun kita berada. Namun, terjadikah hal itu 
kini?
Masih adakah Mahasiswa?
Mahasiswa, kata itu sudah tidak asing bagi telinga orang Indonesia. 
Mahasiswa, sering disimbolkan sebagai kekuatan garis depan yang 
melindungi hak-hak rakyat. Maka tidak heran, penguasa sangat takut 
dengan kekuatan `kaum intelektual', sehingga aparat pemerintah
membuat  peraturan yang mengatur barisan mahasiswa agar tidak brutal
dan bebas Selain melalui peraturan tertulis, juga disengaja untuk 
memasukkan unsur-unsur ideology tertentu ke dalam otak pemikiran 
mahasiswa. Juga dikondisikan, agar pemikiran ideologi-ideologi itu tetap
berada pada jurang pemisah dan berpotensi untuk menimbulkan bara 
konflik. Tentunya, hal ini tidak dilakukan secara langsung oleh pihak 
penguasa, tetapi sedikit-demi sedikit ditaburkan benih-benih perpecahan 
dalam tubuh mahasiswa sehingga para kaum muda ini tersekat pada 
pemikiran ideologinya masing-masing—saling membenarkan ideologinya
dan  menyalahkan ideologi orang lain.
Memang, argumen ini belum terbukti secara ilmiah, tetapi dalam realita 
kehidupan kampus, sangat kental sekali pengelompokkan-pengelompokkan 
ideologi tersebut. Buktikan saja sewaktu pra-Pemilu, Pilkada dan sewaktu
persiapan pemilihan pemimpin BEM. Ketika itu, kita bisa lihat betapa 
terpisahnya kekuatan mahasiswa yang bergerak tidak lagi dilandasi oleh 
nurani untuk membela rakyat tetapi terperangkap dalam kepentingan 
kelompoknya masing-masing. Lalu, apa masih ada sosok mahasiswa ?
Betapa pertanyaan yang amat sulit sekali untuk dijawab. Secara zahir, 
sosok mahasiswa memang ada, tetapi tak lebih hanya segumpalan daging 
yang dibalut oleh baju-baju trendi. Tak lebih hanya sekedar pemenuh 
sesudut-sudut mata, yang akan gempar jika nilainya tidak B atau tidak A.
Lalu, tak lebih dari acara infotainment yang menayangkan seputar gosip 
artis, dan juga tak lebih dari seekor anjing yang berkoar-koar 
menyampaikan retorika tentang kehidupan rakyat yang digencet 
globalisasi—tetapi sekali lagi, hal itu hanya pemanis bibir semata. 
Hanya sebagai pelepas utang saja kepada rakyat dengan memperlihatkan 
`ini lo, kami sedang berupaya berjuang untuk rakyat', padahal
tidak.
Begitulah orang Indonesia, yang memang masih dengan mudahnya dibohongi.

Kirim email ke