http://groups.yahoo.com/group/Tauziyah/message/21205


Rahima <rahimara...@...> 

rahimarahim 


Bismillahirrahmaanirrahiim.
 
“Bacalah
AlQuran dengan Tartil”
 
Waspadalah terhadap kesalahan didalam membaca AlQuran.
 
Perintah mempelajari ilmu Tajwid, sudah ada semenjak ayat
AlQuran diturunkan kepada nabi mulia, Rasulullah, Muhammad Shallallahu’alaihi
wasallam.
 
Diantaranya, firman Allah Ta’ala :”Warattilil Quraana
tartiilan”. (Dan bacalah AlQuran itu dengan perlahan/tartil/bertajwid)(Q.S Al
Furqan 32)
 
Dari As Sunnah. Dari hadits yang diriwayatkan dari Ummu
Salamah r.a(istri Rasulullah). ketika beliau ditanya tentang bagaimana bacaan
dan shalat Rasulullah, maka beliau menjawab:”Ketahuilah, bahwa Baginda shalat,
kemudian tidur yang lamanya sama seperti ketika beliau shalat tadi, kemudian
shalat yang lamanya sama seperti beliau tidur tadi, kemudian tidur lagi, yang
lamanya sama seperti shalat tadi, hingga menjelang shubuh. Kemudian (Ummu
Salamah) mencontohkan cara bacaan Rasulullah dengan menunjukkan satu bacaan
yang menjelaskan (ucapan) huruf-hurufnya satu persatu.”(H.R At Tirmidzi).
 
Dari Ijma’ ulama sejak dari dulu sampai sekarang telah sepakat
akan kewajiban mempelajari ilmu tajwid ini.
 
Didalam membaca AlQuran kita juga diperintahkan agar
berhati-hati didalam membacanya, jangan sampai terjadi kesalahan baca tanda
baca, huruf dan barisnya.
Kalau kesalahan membaca mad/panjang pendek, idgham, idhzar,
ikhfa, dllnya itu, mungkin masih bisa ditolerir, karena tidak begitu merubah
pengertian, atau makna dari AlQuran tersebut. 
 
Dan akan berbeda, kalau kesalahan membaca dari sisi salah
membaca lafaznya, atau barisnya, akan bisa merubah arti yang dimaksud oleh
firman Allah Ta’ala itu.
 
Itu sebabnya, selain kita mempelajari tajwid, kita juga
dituntut untuk mempelajari qaedah/grammar, undang-undang bahasa Arab, serta,
kita mempelajari makna dari lafaz tersebut.
 
Suatu contoh kesalahan yang pernah terjadi dimana sahabat
Umar bin Khattab ra. :”Dari abi Malikah, ia berkata, ada seorang Arab datang
kepada Umar bin Khattab, kemudian beliau meminta salah seorang dari yang hadir
agar membacakannya salah satu apa yang telah diturunkan dari AlQuran. Maka
berdirilah lelaki Arab tadi, dan membacakan kepadanya surah Al baraah(At
Taubah), lalu ia membaca :”Innallaaha barium minalmusyrikiina wa rasuuLIHI”.
 
Ia membaca kalimat “RasuuLUHU” dengan “RasuuLIHI”(seharusnya
baris depan, dibaca baris bawah LUHU, dibaca LIHI), dia menjadikan lafaz
“Rasuluhu”, menjadi ‘athaf(sambungan) dari lafaz sebelumnya yakni
“Minalmusyrikiina”(Musyrik baris bawah, karena didahului oleh huruf jar”Min”.
orang Musyrik, begitupula Rasulullah berlepas diri dari
perbuatan orang musyrik”, atau terjemahan bebasnya:”Allah dan RasulNya,
berlepas diri dari orang-orang musyrik”
 
Kalau “Rasuuluhu”, dibaca dengan “Rasuulihi”, akan merubah
makna ayat, dengan perubahan yang luar biasa salahnya. Bila dibaca “rasulihi”,
maka artinya menjadi :”Allah Ta’ala berlepas diri dari kaum musyrik dan
rasulNya”(Naudzubillahimindzalika). Tidak mungkin Allah yang sangat mencintai
kekasihnya bisa melepaskan tanggung jawab/alias Allah tak memperhatikan baginda
Rasulullah. 
 
Kesalahan luar biasa.
 
Itu sebabnya, setelah itu Umar Bin Khattab, menyuruh kita
ummat islam, agar, apabila kita membaca AlQuran, maka ketahuilah ilmu bahasa
Arab itu.
 
Contoh lain: “Waidzibtalaa IbraahiiMA, RabBUHU”(AlBaqarah
124). Karena orang bisa saja menduga, setelah kata kerja(fi’il), tentu ada 
subjeknya(fa’il=pelakunya),

 
Lafaz :”Ibtalaa”=kata kerja, maka dibacalah lafaz setelah
lafaz tersebut kata :”IbraaHIMU”.
 
Setelah subjek, predikat ditemukan, tentu ada
objeknya(pelengkap penderitanya=maf’ulumbih). Maka dibacalah kalimat sesudah
subjek tadi kata “rabbun” dengan RabBAHU” . dibacanyalah :”Waidzibtalaa
ibraahiiMu rabBAhu”(ini salah fatal)
 
Seharusnya yang menguji adalah Allah, yang diuji adalah nabi
Ibrahim.
Karena terjadi kesalahan baca, maka menjadi terbalik.
Ibrahim yang menguji Tuhannya..
 
Contoh lain: “Innamaa YakhshallaHA..min ‘baadihil ‘UlamaaU”
Kalau dibaca salah dan kebalik:”Innamaa yakhsyallaahU min
‘baadihil ulamaA”
Seharusnya yang takut kepada Allah adalah Ulama, karena
dibaca salah jadi artinya kebalik, yang takut kapada ulama adalah Allah.
 
Yang seharusnya maf’ul jadi Fa’il, objek jadi subjek, atau
sebaliknya. Ini semua karena kesalahan dari sisi tata bahasa(Nahu/sharaf,
baris, lafaz, dllnya).
 
Contoh lain, tulisan yang sama bentuknya, tetapi lain
barisnya :”jannah, jinnah, junnah”(ini kalau dilihat tulisan Arabnya sama
bentuknya”, tetapi berjauhan artinya, kalau salah-salah baca, akan salah
pengertian:”(silahkan lihat AlQuran surah Al Imraan 185, As Shaffaat 158,
AlMukminuun 70, Al Mujaadalah 16). Cobalah baca kebalik, artinya bagaimana?
Akan kelihatan aneh dan ganjil.
 
“jannah”=surga, Jinnah=Jin, Junnah=Perisai(tulisannya sama,
tapi beda barisnya, satu atas, satunya lagi depan, satunya lagi
bawah(JIN,JUN,JAN).
 
Dan masih sangat banyak lagi contoh-contoh apabila kesalahan
baca dalam AlQuran yang akan merubah arti.
Karena itulah para ulama ada mengarang buku khusus dalam
masalah ini, salah satunya masalah “Mutasyabihaat dalam AlQuran”, “Kesalahan
yang sering terjadi disaat membaca AlQuran”, dllnya. 
 
Karena itu, marilah sama-sama kita belajar dan mempelajari
AlQuran dengan ilmu tajwid, qawa’id, dan tafsir dengan baik. Barulah kita
menjadi manusia manusia yang terbaik, sebagaimana hadits Rasulullah
:”Sebaik-baik kamu adalah yang belajar AlQuran dan mempelajari”. 
 
Tidak ada ilmu yang paling baik selain belajar AlQuran ini.
Didalam AlQuran mencakup segala apa yang kita cari dan butuhkan, karena dia
adalah way of life, pedoman hidup kita. Hidayah, obat segala macam penyakit dan
sebagainya.
 
Mungkin, ini yang bisa saya sampaikan, apabila ada kekhilafan,
itu datangnya dari saya peribadi, kalau benar, kebenaran hanya milik Allah
semata.
 
Allahu ta’ala ‘alam
 
Wassalamu’alaikum, (Cairo,
25 Maret 2010, Rahima) 
Wasssalamu'alaikum. Rahima.S.Sarmadi.Abd.Rahim.(Doqqi,Cairo) 





"Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia 
lainnya".





      

Kirim email ke