Dari produk Kitab 9 Imam Hadits - Lidwa Pustaka i-Software, terdapat beberapa 
hadits yg sesuai dgn forward artikel di bawah.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail berkata, telah menceritakan 
kepada kami Al Mukhtar bin Al Fulful dari Anas ia berkata; Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah Ta'ala berfirman kepadaku: 
'Sesungguhnya umatmu masih saja selalu bertanya kepada sesamanya, sehingga 
mereka berkata; 'Allah telah menciptakan manusia, lalu siapakah yang 
menciptakan Allah? '" (HR Ahmad - No. 11557)


Dan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin ar-Rumi telah menceritakan kepada 
kami an-Nadlar bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Ikrimah -yaitu Ibnu 
Ammar- telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Abu 
Salamah dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam 
berkata kepadaku, "Wahai Abu Hurairah, mereka akan senantiasa bertanya kepadamu 
hingga mereka berkata, 'Ini Allah, lalu siapa yang menciptakan Allah'." Abu 
Hurairah berkata, "Ketika aku berada di masjid, tiba-tiba orang-orang dari kaum 
Baduwi mendantangiku seraya bertanya, 'Wahai Abu Hurairah, ini Allah, lalu 
siapakah yang menciptakan Allah'. Perawi berkata, 'Kemudian Abu Hurairah 
mengambil kerikil dengan telapan tangannya, lalu melempar mereka sambil 
berkata, 'Berdirilah, berdirilah, sungguh benar (perkataan) kekasihku'." (HR. 
Muslim - No. 193)

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma'ruf dan Muhammad bin Abbad dan 
lafazh tersebut milik Harun, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami 
Sufyan dari Hisyam dari bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Manusia senantiasa bertanya-tanya 
hingga ditanyakan, 'Ini, Allah menciptakan makhluk, lalu siapakah yang 
menciptakan Allah', maka barangsiapa mendapatkan sesuatu dari hal tersebut, 
maka hendaklah dia berkata, 'Aku beriman kepada Allah'." Dan telah menceritakan 
kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Abu an-Nadlar 
telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id al-Mu'addib dari Hisyam bin Urwah 
dengan sanad ini, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
"Setan datang kepada salah seorang dari kalian lalu berkata, 'Siapakah yang 
menciptakan langit, siapakah yang menciptakan bumi? ' lalu dia menjawab, 
'Allah', kemudian menyebutkan dengan semisalnya, dan dia
 menambahkan kalimat, 'Dan Rasul-Nya'. (HR. Muslim - No. 190)




http://groups.yahoo.com/group/tarbawi_community/message/9495


"haamsyak" <haams...@...> 

haamsyak 


Siapakah Yang Menciptakan Allah? 


Thursday, 15 April 2010 14:31 

  
 

Sepenggal kisah kehidupan di Hamburg, kota pelabuhan 
sungai Elbe. Kota hijau nan indah di utara Jerman itu menyimpan kenangan penuh 
hikmah.

Oleh: Abu Ammar

Hidayatullah.com--Hamburg 
adalah kota di bagian utara Jerman yang sangat indah dan termasuk kota terbesar 
kedua di Jerman dan ketujuh di Uni Eropa. Kota pelabuhan sungai Elbe ini 
memiliki tak kurang dari 40-an buah masjid, banyak di antaranya terpusat di 
dekat jantung kota dan stasiun utama kereta api (Hamburg Hauptbahnhof) serta 
terminal bus antar-kota dan antar-negara (Zentral-Omnibus-Bahnhof, ZOB). Di 
sekitar itulah bertaburan sejumlah masjid, tak terkecuali masjid yang menjadi 
pusat kegiatan ke-Islaman warga muslim Indonesia di Hamburg yang bernaung di 
bawah payung resmi Indonesisches Islamisches Centrum e.V.

Sabtu 10 April 
2010 itu cuaca masih dingin, masih di bawah 20°C, namun angin dingin yang 
berhembus memaksa orang mengenakan jaket tebal. Seperti biasa acara sabtu pagi 
hingga selepas Dzuhur diisi pengajian anak-anak, yakni belajar membaca Al 
Qur’an 
dan ceramah Islam dalam bahasa Jerman. Sorenya setelah Dzuhur giliran diadakan 
pengajian untuk mahasiswa dan remaja. 

Pengajian tersebut banyak 
melibatkan diskusi dua arah dan logika mengingat begitulah budaya dan pola 
pikir 
masyarakat yang ada di Jerman. Di antara yang dibahas adalah permasalahan yang 
mereka hadapi ketika bercengkerama dengan teman-teman Jerman mereka yang 
menanyakan seputar agama. Salah seorang peserta remaja, yang baru akan memasuki 
jenjang kuliah di perguruan tinggi, menanyakan bagaimana menjawab pertanyaan 
temannya: “Kalau alam semesta ini diciptakan Tuhan, lalu siapakah yang 
menciptakan Tuhan?” 

Nampaknya saat pengajian berlangsung, sang pembicara 
yang masih mahasiswa kelewat menjawab pertanyaan itu. Mungkin saking banyaknya 
masalah yang dibahas serta pembicaraan yang merambah ke mana-mana, sehingga 
terlupakan. Syukurlah sarana komunikasi internet cukup membantu, dan segera 
setelah pengajian usai, sang pembicara melayangkan email menjawab pertanyaan 
yang terlewatkan itu ke peserta pengajian. Sengaja isi jawabannya dipaparkan di 
sini, dengan maksud barangkali bisa diambil manfaatnya jika ada pertanyaan 
serupa di masa mendatang.
 
Pertanyaan:  Siapakah yang menciptakan 
Allah?

Jawaban: Sebelum menjawab pertanyaan ini, ini ibarat ada 
pertanyaan dgn logika serupa seperti ini: Mengapa ular kok tidak punya dua 
kaki, 
dua sayap, bulu dan dapat terbang seperti burung? Jawabannya: karena kalau ular 
punya ciri seperti burung, dia tidak dinamakan ular, tapi ya 
burung.

Mengapa kursi dan meja kok tidak bisa berbicara seperti 
pembuatnya, tidak punya otak, tidak punya keahlian membuat sesuatu seperti 
manusia? Jawabannya: ya karena kalau dia punya ciri dan sifat seperti manusia, 
maka dia bukan meja atau bukan kursi, tapi makhluk lain, atau mungkin malah 
dipanggil manusia.

Mengapa pisang kok tidak punya rasa, warna, bau, 
bentuk dan kesamaan dengan Pizza? Jawabannya: ya karena kalau pisang seperti 
itu 
berarti bukan pisang, tapi ya Pizza.

Sama, siapa yg menciptakan Allah 
atau Tuhan yang Maha Pencipta? Jawabannya: kalau Tuhan itu diciptakan maka dia 
tidak disebut Tuhan, tapi makhluk. Tuhan itu ya yang Maha Pencipta dan tidak 
diciptakan, abadi, dan Maha Segalanya. Itulah konsep Tuhan.
 
Jika 
seseorang berpikir siapakah yang menciptakan Tuhan Yang Maha Pencipta, maka 
logika berpikirnya yang keliru, karena ini menyamakan Tuhan dengan bukan-Tuhan, 
menyamakan Pencipta dengan yang diciptakan, dan sebagainya. Ini sama saja 
dengan 
logika berpikir keliru: mengapa ular kok tidak punya organ tubuh yang sama 
persis seperti burung, mengapa meja dan kursi kok tidak punya kemampuan seperti 
manusia yang membuatnya, kenapa pisang kok tidak seperti 
Pizza...?

Demikianlah sekelumit gambaran lika-liku pengajian di Hamburg, 
Jerman. Keadaan budaya, pendidikan dan pola pikir masyarakat yang hidup di 
negeri itu menuntut tantangan dakwah dengan bahasa, pola pikir, dan pengetahuan 
yang sesuai dengan masyarakatnya. [abuammar/www.hidayatullah.com]






      

Kirim email ke