Renungilah, para wanita ketika diajak mengenakan pakaian wanita muslimah yang 
syar’iy, maka mereka menolaknya dengan seribu alasan. Sehingga kita tidak bisa 
lagi membedakan antara wanita muslimah dan wanita kafir. Jika kalian berbelanja 
di mall-mall dan pusat perbelanjaan lainnya, maka kalian akan menyaksikan 
wanita-wanita kita berseliweran dan bekerja disana. Awal kita melihat mereka, 
kita menyangkanya wanita kafir, karena ia tidak berjilbab, dan ia bersolek ala 
wanita kafir. Tapi kita akan terperanjat ketika mengetahui bahwa ia adalah 
muslimah. Bukankah seorang wanita diperintahkan mengenakan jilbab yang tebal 
dan lebar sebagaimana dalam firman Allah -Ta’ala-,

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan 
wanita-wanita orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh 
tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, 
karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha 
Penyayang”. (QS. Al-Ahzab: 59).

Ketika para wanita kita diajak berjilbab yang syar’iy, maka mereka enggan dan 
menolak dengan dalih “kurang bebas”, “tidak modern, kuno!!”, “panas dan 
pengab”, “tidak sesuai gaya anak muda”, dan sederet alasan lemah. Lebih ironis 
lagi, wanita-wanita ini muak dan sinis saat melihat saudari-saudari mereka 
bercadar dan mengenakan jilbab lebar dab tebal.

Tengoklah, para lelaki muslim (tua-muda) tatkala dinasihati agar mereka 
memanjangkan jenggot, karena itu adalah petunjuk Nabi -Shallallahu alaihi wa 
sallam-, maka kalian akan melihat mereka akan memangkas, bahkan menggunduli 
jenggot-jenggot mereka, tanpa malu !! Tragisnya lagi, mereka sebaliknya malah 
membenci dan mencaci orang-orang yang memanjangkan jenggotnya karena ittiba 
(meneladani) Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Bukankah Nabi kita -Shollallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,

اُعْفُوْا اللِّحَى وَخُذُوْا الشَّوَارِبَ وَغَيِّرُوْا شَيْبَكُمْ وَلَا 
تَشَبَّهُوْا بِالْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى

“Biarkanlah jenggot kalian tumbuh, cukurlah kumis kalian, ubahlah (semirlah) 
uban kalian, dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi dan Nashrani ”. [HR. 
Ahmad dalam Al-Musnad (8657). Di-shohih-kan oleh Al-Arna'uth dalam Takhrij 
Al-Musnad (2/356)]

Penyerupaan dalam penampilan lahiriah akan berpengaruh untuk menumbuhkan kasih, 
cinta, dan kesetiaan dalan batin sebagaimana kecintaan dalam batin akan 
berpengaruh untuk menimbulkan penyerupaan dalam penampilan lahiriah. Ini adalah 
masalah yang nyata, baik secara perasaan maupun dalam prakteknya.

Lihatlah, pemuda dan orang-orang tua saat di ajak bermajelis ilmu untuk 
mempelajari ilmu agama, maka mereka berpaling dan enggan menghadirinya. Anehnya 
jika diajak menghadiri majelis-majelis syaithon, seperti bar, diskotik, atau 
konser musik, maka mereka akan hadir dengan langkah pasti dan hati girang.

Padahal Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda dalam menjelaskan 
keutamaan majelis ilmu dan orang menghadirinya,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا 
إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ 
الْعِلْمِ وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ 
وَالْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى 
الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ 
هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا 
وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ
 أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan, sedang ia mencari ilmu di dalamnya, 
maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para 
malaikat akan menghamparkan sayapnya karena mereka senang kepada pencari ilmu. 
Sesungguhnya seorang penuntut akan dimohonkan ampunan oleh segala sesuatu yang 
ada di langit dan bumi sampai ikan-ikan di air. Sesungguhnya keutamaan seorang 
yang berilmu atas ahli ibadah laksana keutamaan bulan atas seluruh 
bintang-bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi. Sedang para nabi tidaklah 
mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang 
mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang cukup” [HR. Abu Dawud dalam 
Kitab Al-Ilm (3641), At-Tirmidziy (2682), dan Ibnu Majah (223)]

Walapun demikian besar pahala yang didapatkan oleh orang yang menghadiri 
majelis ilmu, tapi kebanyakan orang diantara kita enggan menghadirinya, bahkan 
terkadang malu-malu dan malas-malasan. Kebanyakan orang lebih senang menghadiri 
majelis-majelis setan; di dalamnya dilantunkan lagu-lagu dan syi’ar setan.

Keterasingan para pengamal dan pejuang Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa 
sallam- amat terasa di akhir zaman ini. Di saat inilah dibutuhkan kesabaran 
yang tinggi dalam menghadapi berbagai macam tantangan lahir dan batin, 
tantangan dan halangan.

Al-Imam Ibnu Rajab -rahimahullah- berkata, "Orang mukmin hanyalah terhinakan 
diakhir zaman disebabkan asingnya ia diantara pelaku kerusakan dari kalangan 
pengumbar syubhat dan syahwat. Mereka semua (yakni, para pelaku kerusakan itu) 
membenci orang mukmin, menyakitinya, karena menyelisihi jalan mereka, 
menyelisihi keinginan mereka, dan pijakan mereka". [Lihat Kasyful Kurbah (hal. 
24)]

Seorang yang menegakkan dan mengamalkan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa 
sallam- di akhir zaman ini ibarat seorang yang menggenggam bara api; ia harus 
bersabar dan tegar. Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda,

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى 
الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ 
مِثْلَ عَمَلِهِ

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang kesabaran di kala hari itu 
laksana memegang bara api, karena bagi yang mengamalkan sunnah di hari itu dia 
akan mendapatkan pahala senilai 50 amalan seorang diantara kalian (sahabat) 
dimana merekan beramal seperti amalan seorang diantara kalian. [HR. Abu Dawud 
(3778), dan Ibnu Majah (4004). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam 
Takhrij Al-Misykah (3172)]

Di zaman inilah setiap orang yang membela Sunnah dan mengamalkannya akan 
merasakan keasingan di tengah kaumnya, sebab pelaku kebatilan dan maksiat lebih 
banyak jumlahnya. Dalam kondisi seperti ini, hendaknya para pengamal dan 
pejuang Sunnah bersabar dan tetap mengikuti jalan-jalan petunjuk yang telah 
digariskan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Al-Fudhoil bin Iyadh -rahimahullah- 
berkata,

اِتَّبِعْ طُرُقَ الْهُدَى وَلاَ يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِيْنَ, وَإِيَّاكَ 
وَطُرُقَ الضَّلاَلَةِ وَلاَ تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِيْنَ

"Ikutilah jalan-jalan petunjuk; anda tak akan dibahayakan oleh sedikitnya 
orang-orang yang menapaki jalan-jalan petunjuk. Waspadalah engkau terhadap 
jalan-jalan kesesatan, dan jangan tertipu dengan banyaknya orang-orang yang 
binasa". [Lihat Al-I’tishom (1/135), tahqiq Masyhur Hasan Salman]

Tetaplah bersabar di atas Sunnah, walaupun banyak orang-orang binasa yang 
membencimu karena mengamalkan Sunnah (petunjuk) Nabi Muhammad -Shallallahu 
alaihi wa sallam-. Kesudahan yang baik akan kalian raih di sisi Robb-mu, insya 
Allah.

Inilah beberapa buah patah kata sebagai risalah penghibur bagi para pencinta 
Sunnah. Mudah-mudahan bisa menjadi pelipur lara di kala menghadapi para 
pembenci Sunnah yang melecehkan para pencinta Sunnah. Inilah sedikit nasihat 
dari saudara yang kasihan dan cinta kepadamu. Semoga Allah -Azza wa Jalla- 
mematikan kita di atas Sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- 
sehingga kita termasuk golongan orang-orang yang akan mendatangi telaga Nabi 
-Shallallahu alaihi wa sallam-.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk al-Ghuroba’.. Allahumma amin.


http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/pelipur-lara-di-tengah-keterasingan.html

Kirim email ke