Seberapa jauh rasa cinta kita kpd Allah swt dan Rasulullah saw, kpd agama Islam 
ini, kpd orang yg dicintai oleh Allah swt dan Rasulullah saw?



http://groups.yahoo.com/group/tarbawi_community/message/9467


Yons Achmad <kolum...@...> 

freelance_corp 


(Kolom Harian) Warna Cinta Ternyata

Warna Cinta Ternyata
:yons achmad*
 
 
"Kau tahu itu cinta
ketika semua yang Anda inginkan 
adalah menjadikan orang
tersebut bahagia, 
bahkan jika Anda bukan
bagian dari kebahagiaan itu." 
 
Julia Roberts, Artis
 
Warna cinta itu apa ya? Tanya seorang teman dalam
status facebooknya.
Sebelum saya melanjutkan kolom ini, bolehlah
engkau jawab sekarang. Sesukamu. Yang penting engkau bahagia.
 
Warna.
 Ya warna. Kadang secara tak sengaja kita
masih saja salah mengenalinya.
 
Begitu juga saya. Lagi-lagi salah. Pagi tadi, saya
benar-benar baru menyadarinya.
 
Seperti biasanya, saya mulai mengawali kerja
sekitar pukul 08.00. Tak langsung bekerja memang. Sesampai kantor, saya
menyeduh minuman, biasanya secangkir teh hangat, tak terlalu manis. Lalu, saya
membuka koran online. Membaca opini, setidaknya empat media : Kompas, Jawa Pos,
Suara Merdeka dan Republika sambil menikmati secangkir teh itu. Untuk berita,
saya percaya Detik, Eramuslim dan Vivanews.
 
Begitu kebiasaan sehari-hari. Baru kemudian, cek
E-mail, kirim surat bisnis ke beberapa klien (ini harus alias wajib).  Lalu 
mengerjakan pekerjaan-pekerjaan klien
sampai siang.. Sore sampai malam biasanya janjian dan kongkow-kongkow bareng
klien.  Ealah kok malah cerita diri
sendiri. Maaf.
 
Begini. Pas tadi pagi baca koran online Kompas,
saya membaca kolom menarik tentang warna. Judulnya “Air Putih dan Gula Merah”,
ditulis oleh Sori Siregar, seorang cerpenis. Ia menyoal kelatahan masyarakat
kita. Ia ingin membangkitkan kesadaran kita tentang warna. Walau, sebenarnya Ia
ingin membongkar kesadaran masyarakat tak sekedar warna tapi “warna”
 
Masyarakat sering menyebut air putih, untuk
sebutan air yang kerap kita minum sehari-hari. Padahal kenyataannya tak
demikian. Air itu bening bukan putih seperti kapas. Tapi toh kita tetap 
menyebutnya air putih. Begitu juga mengatakan gula
merah untuk menyebut gula jawa, padahal warna sebenarnya bukan merah tapi
kecoklat-coklatan. Begitu Ia mengupas dalam kolom itu.
 
Memang sih
terserah kita mau menyebut air yang sering kita minum dengan sebutan air putih.
Toh kita tak akan dipenjara dengan
menyebut demikian. Tapi, kalau dipikir lebih dalam, apa iya kita mau salah
kaprah dengan sebutan itu? Atau jangan-jangan hidup kita memang  sering 
dipenuhi salah kaprah yang demikian.
Ahaaaa. Semoga saja tidak.
 
Lalu, ke soal warna cinta. Saya benar-benar tak
bisa menjawab apa itu warna cinta. Apa, biru? Ah itu kan menurutmu. Mungkin
orang lain menyebut warna cinta itu senja.
 
Saya malah berpikir begini. Ketika teman saya
menulis status tersebut. Yang menanyakan warna cinta. Ia, saya rasa memang tak
benar-benar ingin menanyakannya. Dan Ia tak butuh jawaban atasnya. Itu hanya
luapan tak tertahankan. Mungkin saja Ia sedang benar-benar kasmaran.
 
Bagi saya sendiri, cinta itu bukan soal warna,
tapi soal rasa. Ya, soal rasa. Yang namanya rasa itu soal selera. Dan yang
namanya selara itu sampai kapanpun tak bisa diperdebatkan. Tapi, rasa sebenarnya
punya wajah. Kita bisa memandangnya
 
Seorang yang menemukan kucing pincang kakinya,
lalu memungutnya untuk dirawat dirumahnya. Sampai Ia besar, bahkan sampai tua
dan mati, itu soal rasa. Itulah contoh wajah cinta yang sebenarnya. Kalau tak
ada rasa. Pastilah tak ada cinta. Itulah rumusnya.[]
Rumah Kelana : 9 April 2010  : 19.51
 
*Kolumnis, tinggal di Jakarta


-- 
==========
Yons Achmad
http://penakayu.blogspot.com
"Politik Memburuk, Sastra Membaik"


http://groups.yahoo.com/group/tarbawi_community/message/9474


Muhammad Syarief <rief...@...> 

rieff02 


(Hikmah) Mengukur Kekuatan Cinta

Manusia
mana yang tidak pernah merasakan cinta? Tentu semuanya pernah
merasakan. Karena setiap makhluk yang bernyawa, telah ditakdirkan
memiliki rasa cinta. Bahkan di fase tertentu, seorang manusia bisa
dibuat mabuk dengan indahnya cinta. Dengan cinta, kehidupan di dunia
ini dapat menjadi tentram, menumbuhkan rasa kasih sayang antar sesama,
sehingga perputaran regenarasi penghuninya berjalan dengan sempurna.
Hingga
sampailah kita pada satu kesimpulan,
bahwa cinta adalah fitrah manusia. Namun sebagai muslim, tentu kita tak
puas sampai di situ. Kita pun lebih tertarik mencari sesuatu yang lebih
hakiki, tak berhenti hanya dalam kerangka yang sifatnya materi saja.
Islam
telah banyak bicara tentang makna cinta hakiki. Pastinya tak seperti
agama cinta ala Anand Krishna, yang belakangan kasusunya santer di
media massa. Tapi cinta di sini, tak terhalangi oleh waktu, bahkan
mampu menembus batas dari waktu itu sendiri, luar biasa bukan?
Kekuatan
dahsyat ini lah yang memberanikan si kecil Ali ra. menggantikan posisi
nabi Muhammad Saw. di atas ranjangnya pada malam hijrah. Padahal
telah tersiar kabar di kota Mekkah, akan ada konspirasi yang
mengerikan. Karena setiap perwakilan kabilah dengan pedangnya yang
terhunus, siap mengepung rumah nabi dan menghabisinya di malam itu
juga. Namun Ali ra. tak gentar, ia pun berada di atas ranjang nabi
tanpa ada rasa khawatir. Tentunya keberanian ini tak lepas dari kuatnya
cinta Ali kepada Rasulullah Saw..
Tapi yang perlu diingat, cinta tak ujuk-ujuk datang,
ia harus dipupuk secara perlahan. Ibarat pohon yang baru ditanam, ia
harus rutin disiram, diberi pupuk dan dirawat. Dengan demikian kelak ia
akan tumbuh subur, akarnya kuat menghujam ke bumi,
batangnya menjadi kokoh dan dahannya meninggi menjulang ke langit.
Puncak
cinta dalam Islam yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Al Hadits,
ternyata hanya ditempati oleh Sang Pemilik Cinta dan makhluk yang
paling Ia cintai. Ya, porsi itu hanyalah untuk Allah dan Rasul-Nya.
Karena cinta terhadap keduanya, merupakan kunci yang menyelamatkan
hidup manusia, baik itu di dunia mau pun di akhirat.
Melalui
lisan mulianya, nabi Muhammad Saw. memberikan bocoran tentang siapa
saja dari umatnya yang bisa merasakan manisnya iman. Mengapa harus
iman? Ya, karena tanpa iman, mustahil seseorang akan selamat dunia
akhirat. Iman pun
diibaratkan seperti mutiara, saking berharganya, kehilangannya sama saja 
seperti mati sebelum waktunya.
Tiga
ciri yang disebutkan Nabi itu adalah, pertama, orang yang menjadikan
Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. Kedua, agar
mencintai seseorang semata-mata karena Allah Swt. Ketiga, tidak senang
kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah Swt.,
sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR.
Bukhari)
Ibarat
keping mata uang, iman dan cinta tak dapat dipisahkan. Di dalam sebuah
hadis lainnya, Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak beriman seseorang di
antara kalian, sampai menjadikanku lebih ia cintai dari pada kedua
orang tuanya, anaknya dan manusia lainnya”. (HR. Bukhari)
Suatu
ketika Umar bin Khatab ra., sahabat nabi yang tegas dan gagah perkasa,
curhat kepada Rasulullah. Ia berbicara tentang kualitas cinta dan
imannya. “Wahai kekasih Allah, engkaulah yang paling kucintai setelah
diriku”.jelasnya. “Tidak, Umar., kecuali setelah diriku lebih engkau
cintai ketimbang dirimu sendiri”.jawab Rasulullah. Seketika itu juga
Umar meralat cintanya dan kemudian berkata, “Mulai detik ini ya
Rasulallah, demi Allah, engkaulah yang paling ku cinta, bahkan melebihi
diriku
sendiri.” Dan Rasulullah pun kemudian membenarkan keimanan Umar saat
itu juga.
Dan
sekarang, marilah mengukur kekuatan cinta kita kepada Allah dan
Rasul-Nya. Selayaknya sudah tertanam dalam diri kita, keabadian jauh
lebih menggiurkan ketimbang hal-hal yang sifatnya sementara belaka.
Kalau yang ada di alam hidup ini masih lebih dicintai daripada Allah
dan Rasul-Nya, maka bersegeralah meng-upgrade iman kita. Sehingga kita
terhindar dari kategori orang fasik yang disebutkan dalam Al Qur’an.
Allah
Swt. telah berfirman, Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak,
saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah
lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di
jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At Taubah:
24)
Wallahu a’lam bishowab




      

Kirim email ke