http://groups.yahoo.com/group/warnaislam/message/7582
"Wasis Hadi Kamal" <wa...@...>wasis_kamal 
FW: [Group-rohis] Jadilah Kitab Walau Tanpa Judul
AssalamualaikumArtikel singkat yang menarik dari REPUBLIKA.Semoga 
bermanfaat. WassalamualaikumWasis Hadi Kamal
From: group-ro...@... [mailto:group-ro...@...] on Behalf Of Tarmizi abdullah
Sent: 27 April 2010 6:59
To: Wasis Hadi Kamal
Jadilah Kitab Walau Tanpa JudulSenin, 26 April 2010, 18:39 WIB    ilustrasiKH 
Hilmi Aminuddin

Kun kitaaban mufiidan bila 'unwaanan, wa laa takun 'unwaanan bila kitaaban. 
Jadilah kitab yang bermanfaat walaupun tanpa judul. Namun, jangan menjadi judul 
tanpa kitab.

Pepatah dalam bahasa Arab itu menyiratkan makna yang dalam, terutama menyangkut 
kondisi bangsa saat ini yang sarat konflik perebutan kekuasaan dan pengabaian 
amanah oleh pemimpin-pemimpin yang tidak menebar manfaat dengan jabatan dan 
otoritas yang dimilikinya. Bangsa ini telah kehilangan ruuhul jundiyah, yakni 
jiwa ksatria. Jundiyah adalah karakter keprajuritan yang di dalamnya terkandung 
jiwa ksatria sebagaimana diwariskan pejuang dan ulama bangsa ini saat 
perjuangan kemerdekaan.

Semangat perjuangan (hamasah jundiyah) adalah semangat untuk berperan dan bukan 
semangat untuk mengejar jabatan, posisi, dan gelar-gelar duniawi lainnya 
(hamasah manshabiyah). Saat ini, jiwa ksatria itu makin menghilang. Sebaliknya, 
muncul jiwa-jiwa kerdil dan pengecut yang menginginkan otoritas, kekuasaan, dan 
jabatan, tetapi tidak mau bertanggung jawab, apalagi berkurban. Yang terjadi 
adalah perebutan jabatan, baik di partai politik, ormas, maupun pemerintahan. 
Orang berlomba-lomba mengikuti persaingan untuk mendapatkan jabatan, bahkan 
dengan menghalalkan segala cara. Akibatnya, di negeri ini banyak orang memiliki 
"judul", baik judul akademis, judul keagamaan, judul kemiliteran, maupun judul 
birokratis, yang tanpa makna. Ada judulnya, tetapi tanpa substansi, tanpa isi, 
dan tanpa roh.

Padahal, ada kisah-kisah indah dan heroik berbagai bangsa di dunia. Misalnya, 
dalam Sirah Shahabah, disebutkan bahwa Said bin Zaid pernah menolak amanah 
menjadi gubernur di Himsh (Syria). Hal ini membuat Umar bin Khattab RA 
mencengkeram leher gamisnya seraya menghardiknya, "Celaka kau, Said! Kau 
berikan beban yang berat di pundakku dan kau menolak membantuku." Baru 
kemudian, dengan berat hati, Said bin Zaid mau menjadi gubernur.

Ada lagi kisah lain, yaitu Umar bin Khattab memberhentikan Khalid bin Walid 
pada saat memimpin perang. Hal ini dilakukan untuk menghentikan pengultusan 
kepada sosok panglima yang selalu berhasil memenangkan pertempuran ini. Khalid 
menerimanya dengan ikhlas. Dengan singkat, ia berujar, "Aku berperang karena 
Allah dan bukan karena Umar atau jabatanku sebagai panglima." Ia pun tetap 
berperang sebagai seorang prajurit biasa. Khalid dicopot "judul"-nya sebagai 
panglima perang. Namun, ia tetap membuat "kitab" dan membantu menorehkan 
kemenangan.
 
Ibrah yang bisa dipetik dari kisah-kisah tersebut adalah janganlah menjadi 
judul tanpa kitab; memiliki pangkat, tetapi tidak menuai manfaat. Maka, ruuhul 
jundiyah atau jiwa ksatria yang penuh pengorbanan harus dihadirkan kembali di 
tengah bangsa ini sehingga tidak timbul hubbul manaashib, yaitu cinta kepada 
kepangkatan, jabatan-jabatan, bahkan munafasah 'alal manashib, berlomba-lomba 
untuk meraih jabatan-jabatan. Semoga. 


      

Kirim email ke