Dari Imam Syafi'i rohimahullooh, kita bisa belajar adab berdebat/berdiskusi.
Semoga kita bisa meneladaninya.

Wassalam,




Nugon

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


http://almanar.wordpress.com/2006/11/09/imam-syafii-dan-para-lawan-debatnya

Imam Syafi’i dan Para Lawan DebatnyaNovember 9, 
2006 

Imam Syafi’i, salah satu imam madzhab empat, mujtahid mutlak, lahir di Ghaza 
150 H, wafat di Mesir 204 H. Beberapa karyanya antara lain Al Umm 
(fiqih), Ar Risalah (ushul fiqih), dll.Tidak diragukan lagi bahwa Imam 
Syafi’i amat akrab dengan perdebatan, beberapa ulama besar pun pernah terlibat 
perdebatan dengannya, seperti Muhammad bin Al Hasan, syaikh ahlu ra’yi, 
sahabat sekaligus “ustadz” Imam Syafi’i, juga Asbagh bin Al Farj bin Sa’di, 
faqih dari kibar ulama’ madzhab Maliki di Mesir, begitu pula pernah 
berdebat dengan Imam Ahmad bin Hambal tentang kekufuran mereka yang 
meninggalkan 
shalat.
Akan tetapi setiap ia berdebat dengan ulama’ lain ia selalu menggunakan adab 
dan sopan santun serta tidak mencela lawannya. Abu Utsman, putranya mengatakan: 
“Aku sekali-kali tidak pernah mendengar ayahku mendebat seseorang dengan 
meninggikan suaranya” (Tahdzibul Asma’ Wal Lughat, hal. 66, vol.1).

Ahmad bin Kholid bin Kholal berkata: “Aku mendengar Syafi’i berkata, “ketika 
aku mendebat seseorang aku tidak menginginkan dia jatuh kepada 
kesalahan.(Tawaliyut Ta’sis, hal. 65)

Syafi’i juga berkata: “Aku berdebat tidak untuk menjatuhkan orang” 
(Tahdzibul Asma Wal Lughat, hal 66, vol.1)

Hafidz Ad Dzahabi menukil di Siar A’lamin 
Nubala’, dari Imam Hafidz Abu Musa Yunus bin ‘Abdul A’la Ashodafi Al Misri, 
salah satu sahabat Imam Syafi’i, dia berkata: “Aku tidak melihat orang berakal 
melebihi Syafi’i, aku mendebatnya tentang suatu masalah pada suatu hari, 
kemudian kami berpisah, lalu dia menemuiku, dan menggandeng tanganku, lalu 
berkata: “Wahai Abu Musa, bukankan lebih baik kita tetap berteman walau kita 
tidak sepakat dalam satu masalah?”

Berkata Imam Ad Dzahabi: “Ini menunjukkan kesempurnaan akal imam ini, dan 
faham atas dirinya…” (Siar A’lam An Nubala’ hal. 16, vol. 10).
......
.....
...

silahkan langsung ke link website tsb jika tertarik membaca kelanjutan artikel 
tsb
tetapi intinya sudah tersampaikan.



      

Kirim email ke