http://www.forsansalaf.com/2009/jejak-hadits-dalam-kitab-ihya%E2%80%99/


Jejak Hadits Dalam Kitab IHYA’
        Submitted by forsan salaf on Wednesday, 5 August 20098 Comments

        
        
            
                          
           
        

Mendengar nama Al-Ghazali, yang muncul dalam benak kita bukanlah sosok seorang 
laki-laki, melainkan kumpulan tokoh-tokoh yang mumpuni dan kredibel dalam 
berbagai bidang yang berbeda. Al-Ghazali adalah ulama ushul;
seorang faqih, imam dan pejuang ahlussunnah dalam bidang teologi,
seorang budayawan yang berpengalaman dalam menghadapi problematika
lingkungan, rahasia-rahasia yang terpendam dalam sanubari dan
problematika hati nurani dan seorang filosof.

Al-Ghazali adalah poros ilmu pengetahuan pada zamannya. Ia selalu
merasa haus untuk menyelami berbagai disiplin ilmu dan tidak akan
merasa puas sebelum ia menguasai cabang-cabang ilmu tersebut.

Di samping golongan yang mengaguminya -sejak dulu hingga sekarang-
ternyata banyak juga tokoh yang mengkritiknya. Mereka menuduh
Al-Ghazali kurang memberikan perhatian terhadap ilmu hadits, sehingga
karya-karyanya dipenuhi hadits-hadits palsu. Mereka beranggapan,
kebanyakan riwayat yang ada dalam kitab Ihya’ Ulumiddin  dinukil dari 
kitab-kitab tasawwuf dan kitab-kitab fiqih terdahulu, sehingga validitasnya pun 
patut diragukan.

Pendapat para pengkritik di atas, disetujui oleh sebagian orang
tanpa terlebih dahulu melakukan peninjauan ulang karena mereka
menganggap pendapat tersebut sudah cukup valid. Sebenarnya, kalau kita
lakukan penelitian terhadap karya-karya Al-Ghazali terutama kitab Ihya’,
akan kita temukan bukti-bukti dan realitas yang bertolak belakang
dengan pendapat tersebut. Al-Ghazali menaruh perhatian yang besar
terhadap studi ilmu hadits sebelum menulis beberapa karyanya. Ia banyak
mengkaji kitab hadits-hadits shahih, terutama Shahih Imam Bukhori dan Imam 
Muslim. Hadits-hadits yang termuat dalam kitab Ihya’, banyak yang ia nukil dari 
kitab tersebut.

Ada beberapa hal yang membuktikan bahwa kredibilitas beliau dalam ilmu hadits 
tak perlu diragukan lagi.

Banyaknya hadits-hadits yang termaktub dalam kitab Ihya (4848)
adalah bukti bahwa Al-Ghazali benar-benar mendalami ilmu hadits dan
banyak membaca kitab-kitab hadits. Pengumpulan hadits dalam jumlah
sebanyak itu dalam satu kitab tidak mungkin dilakukan kecuali oleh
seorang yang benar-benar melakukan kajian yang mendalam dalam bidang
tersebut. Sebagai catatan, Imam Ibnu Majah dalam musnadnya mengumpulkan
4341 hadits. Sedangkan Imam Abu Dawud meriwayatkan 5274 hadits.

Al-Ghazali menuangkan hasil penelitiannya terhadap ilmu hadits dalam kitab Al 
Manqul min Ta’liqatil Ushul. Dalam kitab tersebut Imam Ghazali membagi ilmu 
hadits dalam tiga bagian :

Ilmu riwayah (ilmu tentang penyampaian hadits)
Ilmu dirayah (ilmu penelitian hadits)
Ilmu dirasat ma’ani hadits (ilmu tentang pemahaman makna-makna hadits) tentang 
hadits-hadits yang berhubungan dengan akhlaq, akidah dan hukum.


Pembahasan Al-Ghazali tentang ilmu dirayah hadits yang tertuang dalam kitab Al 
Mustashfa.
Dalam kitab tersebut Al-Ghazali menerangkan tentang ungkapan-ungkapan
yang digunakan para sahabat dalam meriwayatkan hadits, tentang hadits
mutawatir, hadits ahad, dan sebagainya.

Beberapa metode sebenarnya telah dilakukan Al-Ghazali dalam
meriwayatkan hadits. Pada saat memberikan penjelasan dalam studi ilmu
hadits, Al-Ghazali mengatakan bahwa dalam ilmu hadits terdapat beberapa
istilah yang perlu dipahami terlebih dahulu, antara lain:
Iqtishar, langkah-langkah untuk menyusun ilmu hadits seperti yang terdapat 
dalam dua kitab hadits shahih (Bukhari-Muslim)
Iqtishad, langkah yang dapat ditempuh oleh seseorang yang
mengkaji ilmu hadits dengan cara menambahkan kategori lain yang tidak
terdapat dalam kategori-kategori kedua kitab shahih di atas.

Sedangkan metode yang digunakan Al-Ghazali dalam mempelajari matan (isi, 
kandungan hadits) dalam kedua kitab shahih, agaknya mengikuti metodologi 
wijaadah (pembuktian yang kuat). Ia selalu berupaya untuk mengkonfirmasikan 
secara intensif dengan para ahli hadits (muhadditsin)
yang hidup pada masa itu. Misalnya, ia mempelajari dua kitab hadits
shahih dengan teliti, kemudian berupaya mengkonfirmasikan analisa
teksnya terhadap hadits tertentu kepada seorang yang ahli dalam matan hadits. 
Hal ini menguatkan kesimpulan di atas bahwa Al-Ghazali sangat mungkin berusaha 
untuk berhubungan (confirmed) dan mengambil manfaat dari keberadaan para ulama 
hadits yang masih ada pada saat itu.

Al-Ghazali mempelajari ilmu hadits dan mengetahui pentingnya metode pengambilan 
sanad (isnad al hadits) dan metode mendengar (sama’ al hadits) dari para ahli 
hadits. Dan hadits yang ia buktikan kebenarannya dengan cara wijadah (penguatan)
dan mungkin pula dengan ijazah dapat terwujud disebabkan oleh
intensitas pertemuannya dengan para ahli hadits dalam sebuah
pengembaraan intelektual yang sangat panjang sebelum ia mulai menulis
kitab Ihya’ Ulumiddin. 

Seringkali setelah menyebutkan satu hadits muttafaq alaih,
beliau menambahkan beberapa riwayat yang lain. Ini menunjukkan bahwa ia
banyak menelaah berbagai riwayat hadits. Dengan kata lain beliau banyak
membaca kitab Bukhari Muslim, sama seperti ia juga membaca
hadits-hadits lain, sehingga ia sering mengatakan, ‘dalam sebuah hadits lain’, 
‘dalam
Riwayat lain’, ‘dalam lafadh yang lain’, ‘tertulis dalam banyak lafadh
yang berbeda’, itulah yang tertulis dalam banyak khabar’, serta berbagai 
kalimat yang menunjukkan beliau banyak menelaah kitab-kitab hadits.

Beliau memang menukil hadits dari kitab tasawuf dan fiqh tapi
jumlahnya sangatlah sedikit bila dibandingkan dengan hadits yang
dinukilnya dari kitab-kitab hadits. Itu pun dilakukanyya setelah
mengkaji ulang secara mendalam, sehingga membuahkan keyakinan bahwa tak
satupun hadits yang disebutkannya termasuk dalam kategori maudlu’ (palsu). 
Kajian al Iraqi dan al Murtadha sudah membuktikan kenyataan ini

Perbedaan di kalangan para cendekiawan pun dalam mengomentari hadits-hadits 
dalam Ihya’, adalah satu bukti, bahwa pemahaman mereka dalam ilmu hadits 
sangatlah berbeda. Dengan demikian, memvonis bahwa dalam kitab Ihya’
banyak terdapat hadits-hadits palsu serta dipenuhi oleh kebohongan
adalah sikap yang terlalu tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan.

Abu Dawud mengatakan, mengutip dari Abu Zar’ah Ar Razy
: ”Ada dua puluh ribu pasang mata yang bersama-sama dengan Rasulullah.
Tiap pasang meriwayatkan darinya walau hanya satu kata, atau sebuah
kalimat tentang beliau SAW. Dan hadits beliau jauh lebih banyak dari
itu.” (Al Murtadha, juz I hal 50).

Karenanya, ketika Al-Iraqi mentakhrij hadits-hadits Ihya‘
dan merasa asing atas satu riwayat hadits beliau berkata, “Aku belum
menemukan dasar pengambilan hadits ini.” Beliau tidak mengatakan
“Hadits ini tidak berdasar sama sekali.” Ini cukup memberikan bukti
bagi kita, bahwa al Iraqi sendiri sangat berhati-hati dalam mengambil
keputusan atas apa yang belum diketahuinya, mengingat banyaknya
hadits-hadits Nabi yang mungkin saja periwatannya tidak sampai pada
sebagian ahli hadits. Dengan demikian tidak selayaknya kita mengatakan
sebuah hadits adalah palsu tanpa bukti-bukti yang memadai.

Al-Ghazali menuliskan hadits-hadits dalam kitab Ihya’ yang ia kutip dari 
berbagai kitab hadits dan kitab-kitab lainnya, seperti kitab tasawwuf dan 
fiqih, dengan keyakinan bahwa derajat hadits-hadits tersebut tidaklah sama, ada 
shahih, hasan ataupun dha’if.
Tentu saja keyakinan itu ia dapatkan setelah melihat berbagai pendapat
para ulama’ hadits dan para ulama’ lainnya yang juga mengetahui banyak
hal dalam ilmu-hadits, seperti Syaikh Abu Thalib Al-Makki. Ia mengkaji
pendapat-pendapat mereka dan mempertimbangkannya ketika akan menukil
berbagai hadits  ke dalam karya-karyanya, termasuk Ihya’ Ulumiddin.
Al-Ghazali juga sangat tahu bahwa semua hadits yang ia nukil dalam kitab Ihya’ 
tidak keluar dari kategori shahih, hasan, dha’if dan tidak satupun yang bisa 
dikategorikan sebagai hadits palsu (maudlu’).
Karena itu, ia tidak melakukan sebuah revisi apa pun dalam kitab Ihya’,
setelah ia merampungkan penulisannya dan mengajarkannya kepada
murid-muridnya di kota Thus.

Lebih dari itu, Al-Ghazali juga sangat yakin bahwa mengarang hadits
palsu dalam hal-hal yang berhubungan dengan keutamaan ibadah adalah
perbuatan maksiat. Beliau berkata, ”Ada sebagian orang berasumsi bahwa
boleh saja mengarang-ngarang sebuah hadits, bila itu digunakan dalam
pembahasan keutamaan amal, ibadah, dan ancaman terhadap kemaksiatan.
Mereka beralasan dengan tujuan yang baik, akan tetapi ini adalah asumsi
yang salah karena Nabi SAW bersabda, ”Barangsiapa dengan sengaja
berbohong atas namaku, maka kelak ia akan mendapatkan tempatnya di
neraka” (Ihya’, juz 3 hal. 136). Al Iraqi berkata bahwa hadits ini diriwayatkan 
oleh Bukhari dan Muslim dari berbagai jalur periwayatan.

Jika kenyataannya memang seperti itu, maka tidaklah masuk akal, bila
Al-Ghazali dengan sengaja menyebut hadits palsu atau meragukan dalam
karyanya, karena ia akan termasuk kelompok yang dimaksud oleh
Rasulullah dalam hadits di atas. Hal ini sangat dijauhi oleh Al-Ghazali

Sikap yang cenderung tergesa-gesa dari para pengritik Al-Ghazali di
atas sebetulnya bisa dipahami sebagai akibat dari sikap antipati
berlebihan dan tidak menerima secara lapang ketika sedang melakukan
riset dan kajian dengan tujuan mencari kebenaran terhadap karya-karya
Al-Ghazali, terutama Ihya’. Oleh karena itulah, mereka tidak bisa
melakukan studi kritis yang benar, ilmiah dan objektif. Sehingga tanpa
mereka sadari, mereka sudah terjebak sejak awal dalam kesalahan yang
tidak semestinya terjadi ketika memberikan penilaian.

Sedangkan para ulama dan ahli hadis yang bersikap arif dalam menilai 
hadits-hadits dalam kitab Ihya’
bisa dikatakan sikap tersebut merupakan hasil dari sebuah niat yang
memang benar-benar tulus untuk mencari kebenaran semata, bukan sekedar
subjektivitas, karena itu pula mereka berkenan mengkaji Ihya’
dengan hadits-hadits di dalamnya, melalui kajian yang benar, jujur dan
objektif. Sehingga mereka mampu menuliskannya dalam karya-karya ilmiah
mereka yang bermutu. Di antara mereka yang bersikap seperti ini adalah
Al-Iraqi dan Al-Murtadla. Keduanya telah bekerja keras dan serius
ketika melakukan riset ilmiah dan studi kritis untuk mengetahui dan
membuktikan hakekat hadits-hadits dalam Ihya’, sehingga mereka tidak 
terjerembab dalam kesalahan yang fatal. Masun Said Alwy




      

Kirim email ke