dibawah ini saya copas tulisan seorang aktivis yang ikut ke 
Gaza============================================


Gaza tidak membutuhkanmu -sharing tulisan Santi Soekanto


**

*Gaza Tidak Membutuhkanmu! *

* *

*Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.*

Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena
sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari 
Irlandia
dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan 
ikut
dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih 
tidak
pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran.

Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang 
membaca
Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. 
Beyza
Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta 
Muslimah
Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr 
Usama
Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara 
singkat
dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat.

Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran
perjalanan-perjalan an ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang
petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia 
“tangan
kanan” seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu 
konvoi
ke Gaza.

* *

*Activism*

Ada begitu banyak *activism, heroism…*Bahkan ada seorang peserta kafilah
yangmengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan “Heroes of 
Islam”
alias “Para Pahlawan Islam.” Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya
menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta’ala.

Yang wartawan sering merasa hebat dan *powerful* karena mendapat 
perlakuan
khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta 
lain
tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen 
atau
pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang 
besar
terhadap Gaza.

Kalau dibiarkan riya’ akan menyelusup, *na’udzubillahi min dzaalik*, dan
semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air
laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena 
menjadi
sumber amarah Allah Ta’ala.

* *

*Mengerem*

Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan 
pekejaan
menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu 
bagiku
untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau lakukan 
Santi?
Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung 
kepada
Allah dari ketidak-ikhlasan dan riya’? Kau pernah berada dalam situasi
ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya 
karena
posisimu di sebuah penerbitan? *And where did that lead you? Had that
situation led you to Allah, to Allah’s blessing and pleasure, or had all
those times brought you Allah’s anger and displeasure? *

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, *
Subhanallah, * sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh 
seisi
dunia di  sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai 
seorang
Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain 
sibuk
membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam 
pada
waktunya… Dari para ‘ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa 
pria
ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok
sejumlah perokok *ndableg*.

Kalau  hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, 
*Subhanallah,
*di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng 
karena
ketenaran mereka.

Semua berteriak, “Untuk Gaza!” namun siapakah di antara mereka yang
teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.

*Gaza Tak Butuh Aku*

Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak
membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan
aku.

Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza
hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau,
sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan
Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh 
berada
di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar
hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong 
agamaNya.
Menolong membebaskan Al-Quds.

Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, *Bir ruh, bid dam, nafdika ya
Aqsha…* *Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!*

Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan 
seruan
hati.

* *

*Cara Allah Mengingatkan *

Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara
terbaik untuk mengingatkan aku.

Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya – karena 
tak
mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun 
gerah
dan bau asemnya tubuhku.

Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang 
dioperasikan
dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan
*mampheeeeet* karena ada dua potongan kuning coklaaat…menyumbat
lubangnya! Apa yang harus
kulakukan? Masih ada satu bilik dengan toilet yang berfungsi, namun 
kalau
kulakukan itu, alangkah tak bertanggung- jawabnya aku rasanya? Kalau aku
mengajarkan kepada anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk 
membantu
mereka yang *fii sabilillah* akan dihitung sebagai amal *fii 
sabilillah*,
maka bukankah sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?

Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. Kotoran itu
*ndableg*bertahan di situ. Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan
kuisi dengan  air
sebanyak mungkin – sesuatu yang sebenarnya terlarang karena semua 
peserta
kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air – lalu kusiramkan ke 
toilet.

Masih *ndableg.*

Kucoba lagi menyiram…

Masih *ndableg.*

Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri…

Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol
*flush.*Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan
kiriku ke lubang
toilet…

Blus!

Si kotoran *ndableg* itu pun hilang disedot pipa entah kemana…

Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik
mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa 
tak
bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.

Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku berendah-hati, 
agar
aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan
pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau
bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran *ndableg* tadi.

*Allahumaj’alni minat tawwabiin…*

*Allahumaj’alni minal mutatahirin…*

*Allahumaj’alni min ibadikas-salihin… *

* *

*29 Mei 2010, 22:20*

*Santi Soekanto*

*Ibu rumah tangga dan wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla 
to
Gaza Mei 2010.*

 -Nabilah Fisabilillah-

Kirim email ke