Tipikal tulisan yang mengombinasikan tafsir dan sufisme.
Benar2 sesuai dengan selera saya saat ini .........................
Dari Republika Online
Menyibak Makna Spiritual Isra' Mi'raj
Jumat, 09 Juli 2010, 14:34 WIB
Oleh Nasaruddin Umar
Peristiwa Isra Mi'raj adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjid
Haram ke Masjid Aqsha yang sangat dramatik dan fantastik. Dalam tempo
singkat-kurang dari semalam (minal lail)-tetapi Nabi berhasil menembus
lapisan-lapisan spiritual yang amat jauh bahkan hingga ke puncak (Sidratil
Muntaha).
Walaupun terjadi dalam sekejap, tetapi memori Rasulullah SAW berhasil menyalin
pengalaman spiritual yang amat padat di sana. Kalau dikumpulkan seluruh hadis
Isra Mi'raj (baik sahih maupun tidak), maka tidak cukup sehari-semalam untuk
menceritakannya. Mulai dari perjalanan horizontalnya (ke Masjid Aqsha) sampai
perjalanan vertikalnya (ke Sidratil Muntaha). Pengalaman dan pemandangan dari
langit pertama hingga langit ketujuh dan sampai ke puncak Sidratil Muntaha.
Ada pertanyaan yang mengusik. Mengapa Allah SWT memperjalankan hambanya di
malam hari (lailan), bukan di siang hari (naharan)? "Maha Suci Allah, yang
telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil
Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya
sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat." (QS al-Isra [17]: 1).
Dalam bahasa Arab kata lailah mempunyai beberapa makna. Ada makna literal
berarti malam, lawan dari siang. Ada makna alegoris (majaz) seperti gelap atau
kegelapan, kesunyian, keheningan, dan kesyahduan; serta ada makna anagogis
(spiritual) seperti kekhusyukan (khusyu'), kepasrahan (tawakkal), kedekatan
(taqarrub) kepada Allah.
Dalam syair-syair klasik Arab, ungkapan lailah lebih banyak digunakan makna
alegoris ketimbang makna literalnya. Seperti ungkapan syair seorang pengantin
baru: "Ya lalila thul, ya shubhi qif" (wahai malam bertambah panjanglah, wahai
Subuh berhentilah). Kata lailah di dalam bait itu berarti kesyahduan,
keindahan, kenikmatan, dan kehangatan; sebagaimana dirasakan oleh para
pengantin baru yang menyesali pendeknya malam.
Di dalam syair-syair sufistik orang bijak (hukama) juga lebih banyak menekankan
makna anagogis kata lailah. Para sufi lebih banyak menghabiskan waktu malamnya
untuk mendaki (taraqqi) menuju Tuhan. Mereka berterima kasih kepada lailah
(malam) yang selalu menemani kesendirian mereka. Perhatikan ungkapan Imam
Syafii: Man thalabal ula syahiral layali (barangsiapa yang mendambakan martabat
utama banyaklah berjaga di waktu malam), bukan sekadar berjaga. Kata al-layali
di sini berarti keakraban dan kerinduan antara hamba dan Tuhannya.
Arti lailah dalam ayat pertama surah al-Isra di atas menunjukkan makna
anagogis, yang lebih menekankan aspek kekuatan spiritual malam (the power of
night). Kekuatan emosional-spiritual malam hari yang dialami Rasulullah, dipicu
oleh suasana sedih yang sangat mendalam, karena sang istri, Khadijah, dan
sekaligus pelindungnya telah pergi untuk selama-lamanya. Rasulullah
memanfaatkan suasana duka di malam hari sebagai kekuatan untuk bermunajat
kepada Allah SWT.
Kesedihan dan kepasrahan yang begitu memuncak membawa Rasulullah menembus
batas-batas spiritual tertentu, bahkan sampai pada jenjang puncak yang bernama
Sidratil Muntaha. Di sanalah Rasulullah di-install (diisi) dengan spirit luar
biasa sehingga malaikat Jibril sebagai panglima para malaikat juga tidak
sanggup menembus puncak batas spiritual tersebut.
Kehebatan malam hari juga digambarkan Tuhan di dalam Alquran: "Dan pada
sebahagian malam hari shalat Tahajudlah kalian sebagai suatu ibadah tambahan
bagi kalian: mudah-mudahan Tuhan kalian mengangkat kalian ke tempat yang
terpuji. (QS al-Isra [17]: 79).
"Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka
memohon ampun (kepada Allah)." (QS al-Dzariyat [51]: 17).
Kata lailah dalam ketiga ayat di atas, mengisyaratkan malam sebagai rahasia
untuk mencapai ketinggian dan martabat utama di sisi Allah SWT di malam hari.
Ayat pertama (QS al-'Alaq [96]: 1-5) di turunkan di malam hari, ayat-ayat
tersebut sekaligus menandai pelantikan Muhammad SAW sebagai Nabi di malam hari.
Tidak lama kemudian turun ayat dalam surah Al-Muddatstsir yang menandai
pelantikan Nabi Muhammad, sekaligus sebagai Rasul menurut kalangan ulama
'Ulumul Qur'an.
Peristiwa Isra dan Mi'raj, ketika seorang hamba mencapai puncak maksimum
(sudrah al-muntaha) juga terjadi di malam hari. Yang tidak kalah pentingnya
ialah lailah al-qadr khair min alf syahr (malam lailatul qadr lebih mulia dari
seribu bulan), bukannya siang hari Ramadlan (nahar al-qadr).
Kecerdasan
Surah al-Isra [17] diapit oleh dua surah yang serasi yaitu al-Nahl [16] dan
al-Kahfi [18]. Surah al-Nahl dianggap simbol kecerdasan intelektual, karena
berkaitan dengan dunia keilmuan (kisah lebah). Surah al-Kahfi sebagai simbol
surah kecerdasan spiritual, karena berkaitan dengan cerita keyakinan dan
spiritualitas (kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa, Ashabul Kahfi dan Dzulqarnain).
Sedangkan surah Al-Isra sering dijadikan sebagai simbol kecerdasan emosional,
karena di dalamnya diceritakan pengaruh kematangan emosional dan prestasi
puncak seorang hamba. Itulah sebabnya, ketiga surah yang menempati pertengahan
juz Alquran disebut dengan surah tiga serangkai, yaitu surah IQ, EQ, SQ.
Keutamaan di malam hari, juga banyak membuat anak manusia menjadi lebih sadar
(insyaf) dari perbuatan masa lalu yang kelam dan hitam. Malam hari banyak
menumpahkan air mata tobat para hamba yang menyadari akan kesalahannya. Malam
hari paling tepat untuk dijadikan momentum menentukan cita-cita luhur.
Mungkin inilah salah satu keistimewaan pondok pesantren yang memanfaatkan malam
hari untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti santrinya. Sementara di
sekolah-sekolah umum, jarang sekali memanfaatkan malam hari untuk pembinaan
budi pekerti. Padahal, Allah sudah mengisyaratkan bahwa pada umumnya shalat itu
ditempatkan di malam hari. Hanya shalat Zhuhur dan Ashar di siang hari,
selebihnya di malam hari (shalat Maghrib, Isya, Tahajjud, Witir, Tarawih, Fajr,
Subuh). Ini isyarat bahwa pendekatan pribadi secara khusus kepada Tuhan lebih
utama di malam hari.
Sebenarnya peristiwa Isra-Mi'raj mempunyai dua macam peristiwa. Pertama,
perjalanan horizontal dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha. Dan kedua, perjalanan
vertikal dari Masjid Aqsha ke Sidratil Muntaha. Perjalanan Isra mungkin masih
bisa dideteksi dengan sains dan teknologi, tetapi perjalanan Mi'raj sama sekali
di luar kemampuan otak pikiran manusia.
Perjalanan Mi'raj ini, juga masih diperdebatkan banyak ulama, apakah dengan
fisik dan roh Rasulullah atau hanya rohaninya saja. Mayoritas ulama Suni
memahami bahwa yang diperjalankan Tuhan ke Sidratil Muntaha ialah Nabi Muhammad
SAW secara utuh, lahir dan batin. Sementara pendapat lain memahami hanya
rohaninya saja.
Yang pasti, perjalanan singkat itu berhasil merekam berbagai pemandangan
spiritual bagi Rasulullah SAW, dan hendaknya bisa dijadikan pelajaran dan
hikmah bagi umat Islam. Sebab, perjalanan malam hari itu, telah membangkitkan
semangat baru Rasulullah dalam menyebarkan dakwah Islam.
This email and its attachments may be confidential and are intended solely for
the use of the individual to whom it is addressed. Any views or opinions
expressed are solely those of the author and do not necessarily represent those
of Bina Nusantara.
If you are not the intended recipient of this email and its attachments, you
must take no action based upon them, nor must you copy or show them to anyone.
Please contact the sender if you believe you have received this email in error.
This email and its attachments may be confidential and are intended solely for
the use of the individual to whom it is addressed. Any views or opinions
expressed are solely those of the author and do not necessarily represent those
of Bina Nusantara.
If you are not the intended recipient of this email and its attachments, you
must take no action based upon them, nor must you copy or show them to anyone.
Please contact the sender if you believe you have received this email in error.
--
This message has been scanned for viruses and
dangerous content by MailScanner, and is
believed to be clean.