http://groups.yahoo.com/group/tarbawi_community/message/9961
abe setiawan <setyawan_...@...>setyawan_abe
Offline
Send Email
Soedirman “pacar” Soekarno, idola Soeharto
Tulisan menarik niiik, yang ku copas dari
http://baltyra.com/2010/03/05/soedirman-pacar-soekarno-idola-soeharto/. Tak ada
salahnya kita meluangkan waktu merenung sejarah. Jas Merah Katanya.
Bila lalu pernah ada pelangimasih mungkin pelangi itu kembalimewarnai bumi
pertiwisemoga
********************************************************************************************
Soedirman “pacar” Soekarno, idola SoehartoIwan Satyanegara Kamah“IKUTLAH Bung
Karno dengan saya”, kata seorang jenderal bertubuh kerempeng, yang berani
membangunkan sang presiden dari tidurnya. Sang presiden, atasan si jenderal,
menolak ajakan jenderalnya untuk bangun dari tidur dan lari ke hutan bersama si
jenderal. “Saya harus tinggal di sini!”Percakapan antara sang presiden dan si
jenderal, terjadi pada hari naas, di pagi buta hanya beberapa jam sebelum
ibukota negara jatuh ke tangan musuh. Si jenderal punya alasan kuat mengajak
bosnya, untuk berjuang bersama di hutan sana, bukan di kota, apalagi
hanya ngendondi istana saja, yang sebentar bisa ditebak keadaannya.Si jenderal
itu baru berusia 32 tahun, akhirnya ngambek dan lari ke hutan dengan membawa
rasa dendam pada Belanda, juga rasa amarah pada Soekarno dan tokoh-tokoh sipil
republik ini. Soedirman si jenderal itu murka karena ternyata Soekarno dan
kawan-kawan membiarkan diri ditangkap
musuh. Baginya itu sebuah aib. Harga diri.Hari itu Minggu pagi saat orang
bersiap ke gereja, hari 18 Desember 1948, Jogjakarta ibukota negara jatuh ke
tangan kekuasaan Belanda. Republik Indonesia yang baru berusia balita, untuk
sementara hampir redup, tetapi bagi Soedirman tetap hidup.KAKAK DAN ADIKDalam
cerita relief perjalanan negeri ini, hubungan Soedirman dengan Soekarno terukir
dengan harmonis, bahkan kelewat akrab hingga seperti hubungan romantik penuh
gejolak konflik. Mereka berdua juga saling membutuhkan, saling menjaga, saling
menyapa, bahkan kian senyawa. Keduanya tak mudah tunduk dan gampang menyerah
untuk sebuah hal yang mereka tentang. Namun mereka kadang berlainan melihat
sebuah masalah penting, seperti ajakan Soedirman bergerilya yang ditolak
Soekarno.“…kalau Belanda menyakiti Soekarno, bagi mereka tak ada ampun lagi.
Belanda akan mengalami pembunuhan besar-besaran”, ancam Soedirman di depan
Soekarno di hari kelabu itu sebelum lari
ke belantara hutan. Kita semua tahu, Soekarno ternyata bukan hanya disakiti,
tapi juga dipermalukan dan dihina. Dia dibuang jauh oleh Belanda ke tempat
sunyi untuk beberapa bulan.Di hutan nan jauh di sana, sang jenderal teguh
mewujudkan janjinya dengan gerilya susah payah menghancurkan Belanda, dengan
satu paru-paru sambil ditandu keluar masuk hutan oleh anak buahnya yang setia
selama tujuh bulan. Dan akhirnya keluar dari hutan sebagai pemenang .Namun
sayang ketika negeri ini mulai kuat berdiri, persahabatan antara kedua orang
ini tidak berlangsung lama. Soedirman, tokoh yang dianggap banyak orang bagai
laksana ksatria, tak mampu mengalahkan penyakitnya sendiri di hari 29 Januari
1950.Setelah Soedirman wafat, Soekarno menempatkan sosok sahabatnya itu bagai
sebuah ikon sejarah. Nama Soedirman (kadang ditulis Sudirman) diabadikan
Soekarno dengan indah. Hampir semua pusat kota di negeri ini bernama Jalan
Sudirman. Di Jakarta saja, nama Soedirman telah
bersenyawa dengan nama sebuah kawasan elite bisnis, mewah dan bergengsi.Bagai
kakak beradik, usia mereka memang terpaut jauh dan membuat keduanya mudah
memposisikan diri dalam jarak antar pribadi yang sangat dekat. Soekarno
menganggap dirinya kakak bagi Soedirman (Soekarno lebih tua 15 tahun).“Nanda
do’akan kepada Tuhan, moga2 Dinda segera sembuh…”. tulis Soekarno dalam sebuah
surat yang romantis sebulan sebelum Soedirman wafat. Ketika mereka bertemu
sebelumnya di Istana Kepresidenan di Jogjakarta, Soekarno memeluk dengan akrab
dan mesra tubuh Soedirman yang letih dan kurus. Peristiwa pertemuan dua sahabat
ini sangat monumental dan menjadi legenda dalam sejarah fotografi Indonesia.
Dalam adegan pertemuan itu, Soekarno minta diulang adegan saat dia memeluk
mesra Soedirman, sehingga para fotografer yang menyaksikannya, bisa mendapat
momen yang tepat dari kamera.IDOLASetiap orang di negera ini, seolah seperti
ingin mendapat kebanggaan pernah dekat
bersama Soedirman. Baik Soekarno dan Presiden Soeharto, keduanya mengaguminya.
Di ruang kerjanya di Bina Graha, Soeharto memajang foto reproduksi berukuran
besar, dengan croppingbergambar dirinya bersanding bersama Soedirman pada masa
revolusi.Begitupun dengan seorang tokoh di balik layar berdirinya negeri ini,
seperti dr. Soeharto, dokter pribadi Presiden Soekarno. Sampai kini masih
mengingat kenangan indah, bagaimana menjelang dekat kematiannya, Jenderal
Soedirman mengirim kendil berisi gudeg khas Jogja kepadanya. “Terimalah
seadanya sebagai oleh-oleh untuk Kanda”, tulis jenderal termuda dalam sejarah
Indonesia kepada dr. Soeharto.Anak buah dan orang-orang dekat Soedirman yang
tentunya sepaham dengan Soeharto, banyak dijadikan pejabat tinggi dan orang
kepercayaan selama Soeharto menjadi presiden. Dia pun memberi banyak perhatian
kepada segala sesuatu yang berkaitan dengan diri Soedirman. Menteri Dalam
Negeri Soeparjo Roestam (1983-88) dan
Gubernur Jakarta Tjokropranolo (1977-1982) adalah contoh dua orang dekat
Soedirman yang berperan penting selama kekuasaan Soeharto.Ketika membangun
sebuah jalan baru yang besar dan lebar tahun 1962, untuk akses ke pinggiran
kota menuju sebuah stadion baru termegah di dunia saat itu, Soekarno pun
menamakan jalan tersebut dengan nama sahabatnya yang sangat dia cintai, Jalan
Jenderal Soedirman.Hingga kini jalan tersebut menjadi banking
line terpanjang di Jakarta (bahkan di Indonesia), dengan bertebaran nama
bangunan prestise mewah yang juga memakai namanya. Sebutlah Sudirman Mansion,
Sudirman Plaza, Sudirman Park Apartement, Sudirman Residence, Citiwalk
Sudirman, Wisma Sudirman, Sudirman Place, Menara Sudirman, Sudirman Central
Business District, Aston Sudirman, Menara Sudirman atau Balai
Sudirman.Kenyataan tersebut sangat berbeda jauh dengan kepribadian Soedirman
yang bersahaja dan sangat sederhana. Waktu saya mengunjungi sahabat saya di
daerah
Kejobong, Purbalingga, saya pernah mencoba mengunjungi daerah kelahirannya di
pelosok pendalaman kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, namanya Rembang (bukan
Rembang di pantai utara Jawa). Memang tak terlalu jauh dari Kejobong. Daerahnya
sangat terpencil sekali mirip tempat Robinson Crusoe tinggal. Sepi dan sunyi…
Bila Anda dari Purwokerto menuju kota kelahiran Soedirman, pasti juga akan
melewati sebuah pabrik gula di Kalibagor, Sokaraja (sudah tutup), yang pernah
menjadi tempat mencari nafkah ayah kandung Soedirman.Tandu Sudirman
Saya sulit membayangkan di tempat kelahiran itu, lahir seorang yang kemudian
menjadi tokoh paling penting di negara ini. Saya juga pernah sedikit terganggu
mendengar selentingan dari masyarakat sekitar sana tentang hubungan Soedirman
dengan ibunya. Memang sejak umur 8 bulan Soedirman tidak lagi hidup bersama ibu
kandungnya.Untuk menggali mencari kebenaran perjalanan hidup Soedirman, sudah
sulit mencari saksi hidup yang bisa bercerita dengan benar dan dapat
dipertanggung jawabkan. Waktu masih di bangku terakhir SMP saya bersama
teman-teman pernah menemui seorang kiai tua yang memiliki pesantren besar di
Rawamangun sekitar Juli 1981, untuk tugas pelajaran keagamaan di sekolah.Pak
kiai itu agak pendiam dan banyak memperhatikan kami. Namun dari mulutnya banyak
keluar nasihat yang kadang “berat” buat kami dan sulit mengerti. Eh, ternyata
beberapa minggu setelah itu, saya baru tahu dari sebuah majalah keagamaan
terkenal, bahwa pak kiai itu bernama KH
Muslich, yang juga kawan akrab Jenderal Soedirman. Dia ternyata juga adalah
sumber yang dipercaya pihak militer berkaitan dengan riwayat Bapak TNI
itu.Setelah 60 tahun wafatnya pada Januari 1950, Soedirman terukir indah dalam
sebuah persahabatan mesra dengan Soekarno. “Dan mohonkanlah djuga, supaya Nanda
didalam djabatan baru ini selalu dipimpin dan diberi kekuatan oleh
Tuhan”,tertulis sebuah kalimat indah dalam surat untuknya dari Soekarno.Melihat
hubungan kedua orang ini, saya semakin sulit mencari contoh untuk masa
sekarang. Di saat persahabatan dibangun atas dasar kepentingan sesaat.
Persahabatan masa kini mirip seperti kertas tisu. (*)