http://groups.yahoo.com/group/tarbawi_community/message/9978
Jika Kita Tetap Dibenci..
Assalaamu'alaykum wa rahmatuLLAHI wa barakatuh,Disaat semua kebaikan rasanya 
sudah kita kucurkan, disaat semUa empati telah diberikan dengan ikhlas, namun 
masih tetap ada yang membenci kita….. Suatu keniscayaan, dalam kehidupan nyata 
bahwa hak dan batil selalu berkejaran, disaat kita bermadzhab pada yang hak, 
maka pihak yang bermadzhab pada kebatilan akan meronta dan membenci….. Semoga 
artikel di bawah ini bisa memberikan sedikit pencerahan bagi kita dalam 
bersikap disaat ada pihak yang masih tetap membenci kita….. Semoga ALLAH SWT 
memberikan limpahan kesabaran dan ridho-NYA pada kita semua…… 
aamiin. Wassalaamu'alaykum wa rahmatuLLAHI wa barakatuh,Ediyus HzIsy 
Kariman, Aumut Syahidan!!!  ________ awal artikel ________ Jika Kita Tetap 
Dibenci….Oleh: Ustadz Sulthan HadiDisadur dari Majalah Tarbawi edisi206 Th 10. 
Jun 09.  Tujuan paling mulia dari hidup ini adalah mendapat ridha Allah swt. 
Sebab itulah yang akan membawa kepuasan,
 ketenangan dan keselamatan pada diri kita. Namun bukan berarti kita harus 
mengabaikan keridhaan manusia. Bukan. Karena kita pun tidak bisa hidup dengan 
nyaman tanpa ridha manusia. Kita tidak dapat hidup tenang jika masyarakat kita 
selalu memusuhi kita, memandang kita dengan tatapan yang buruk, sinis, penuh 
kebencian, walaupun sebenarnya kita sendiri tidak akan pernah membuat mereka 
selalu ridha dengan kita. Jika memang kita mesti berhadapan dengan kenyataan 
untuk selalu dibenci, maka tetaplah berdiri pada posisi kita, dengan tetap 
memperhatikan hal-hal berikut. Lakukan Sebaik Mungkin Membuat orang lain suka 
dengan kita tidaklah mudah. Menguubah benci menjadi cinta bukan pula perkara 
sepele. Sulit, dan penuh tantangan. Barangkali yang lebih mudah adalah, tetap 
konsisten pada keadaan kita, pada kebenaran yang kita yakini, pada kebaikan 
yang kita sampaikan. Jika kita memang membutuhkan sebuah kehormatan di mata 
manusia, untuk menghapus sebuah
 kebencian, maka kehormatan merupakan buah dari pohon bernama perilaku positif, 
konsistensi dan sikap profesional. Kehormatan tidak mungkin muncul dari 
tindakan-tindakan negatif. Bahkan, melakukan tindakan negatif sarna artinya 
kita mempertaruhkan kehormatan kita. Dan orang yang kehilangan kehormatan tentu 
tidak akan mendapatkan tempat yang terhormat. Maka janganlah kita mengorbankan 
kehormatan untuk menyenangkan orang lain. Mungkin saja mereka akan suka pada 
kita, tapi di dalam hati, mereka tetap merendahkan kita. Jadi, apa yang bisa 
kita lakukan adalah; tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai positif. Menjaga 
moral. Dan memastikan bahwa apa yang kita lakukan itu untuk meningkatkan nilai 
kebaikan diri kita. Berkontribusi kepada orang lain, memberi manfaat sebanyak 
mungkin. Dengan begitu, boleh saja orang tetap tidak menyukai kita. Tetapi, 
hati mereka menghormati. Hati mereka menyukai. Karena ada orang yang tidak mau 
secara terbuka mengakui
 penghormatan itu. Lidah mereka boleh mencela. Mata mereka boleh mencari-cari 
aib, kesalahan dan kelemahan. Mereka boleh memaki. Mereka boleh mengusir. 
Bahkan mereka boleh menyingkirkan kita dari komunitas, pekerjaan, atau jabatan, 
tetapi hati mereka memberikan pengakuan terhadap kemampuan dan kelebihan kita. 
Naluri mereka yang jujur tetap respek dan menaruh rasa hormat. Jikapun mereka 
tetap tidak mengghormati kita, ingatlah; nilai hidup kita tidak ditentukan oleh 
orang seperti mereka, melainkan oleh kontribusi yang bisa kita berikan kepada 
diri sendiri, dan orang-orang di sekitar kita. Karena itu, jangan berhenti 
melakukan yang terbaik. Yakinlah, bahwa dengan begitu kecintaan Allah swt 
semakin dekat. Karena Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya Allah menyukai 
jika seorang di antara kalian berbuat sesuatu, dia melakukannya dengan 
baik." Kendalikan Perasaan pada Reaksi Pertama Meski dibenci, kita harus tetap 
berlapang dada. Mendahulukan prasangka
 baik. Misalnya, dengan mengatakan, "Ya Allah, ternyata setiap orang memang 
lebih baik dariku." Ini bukanlah sebuah sikap pesimisme. Melainkan agar kita 
selalu termotivasi untuk semakin memperbaiki diri agar kita bisa menutup celah 
yang dianggap aib dan kelemahan oleh orang lain. Respon dan prasangka kita yang 
baik, dari reaksi pertama, akan melahirkan banyak manfaat. Di antaranya, 
hubungan persahabatan dan persaudaraan yang tetap terjaga. Sebab berbaik sangka 
dalam interaksi kita dengan sesama Muslim akan menghindarkan kita dari 
keretakan. Sebaliknya, keharmonisan hubungan akan semakin terasa karena tidak 
ada halangan psikologis yang menghambatnya. Selain itu, persangka baik juga 
menghindarkan kita dari beban dosa. Sebab buruk sangka itu akan membuat 
seseorang menimpakan keburukan kepada orang lain tanpa bukti yang benar, 
seperti ditegaskan Allah pada ayat, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah 
kebanyakan dari prasanggka, sesungguhnya sebagian dari
 prasangka itu adalah dosa." (QS. Al Hujurat:12) Berbaik sangka juga memberi 
kesan bahagia atas segala kemajuan yang dicapai orang lain, sehingga kita pun 
berusaha untuk mencapainya. Ini memiliki arti yang sangat penting, karena 
dengan demikian jiwa kita menjadi tenang dan terhindar dari iri hati yang bisa 
berkembang dan berlanjut pada dosa-dosa yang baru. Ini juga berarti, kebaikan 
dan kejujuran akan membawa kita pada kebaikan yang banyak. Sedang dosa serta 
keburukan akan membawa kita pada dosa-dosa berikutnya yang lebih besar lagi 
dengan dampak negatif yang semakin banyak. Berburuk sangka akan melahirkan 
banyak kerugian, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Karena itu 
Rasuulullah mengingatkan kita untuk selalu jujur dan menjauhi dusta dan 
prasangka buruk. Beliau bersabda, "Hendaklah kamu selalu bersikap 
jujur. Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa 
kepada surga. Selama seseorang jujur dan selalu memilih
 kejujuran dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. 
Berhati-hatilah terhadap dusta,sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan 
kejahatan membawa kepada neraka. Selama seseorang berdusta dan selalu memilih 
dusta dia akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (HR. 
Bukhari) Dan dusta yang paling nyata adalah prasangka buruk. Sebagaimana sabda 
Rasulullah, "Jaujilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan yang 
paling dusta." (HR. Muttafaqun’alaih) Sesekali, Berilah Hadiah Menyemai cinta 
di hati manusia tidak hanya punya satu pintu. Begitu juga, mengghilangkan 
dengki dan prasangka buruk dari orang lain tidak semata dilakukan dengan satu 
cara. Ada banyak pintu, dan ada sejumlah cara untuk memulainya. Tetapi ada satu 
cara yang bisa menyatukan keduanya, yaitu dengan saling memberi hadiah. Dalam 
sebuah hadits dari Atha bin Abdillah Al Khurasani ra, Rasulullah 
bersabda, "Saling berjabat tanganlah kalian, nisscaya akan
 hilang rasa dengki; dan saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian kalian 
akan saling mencintai dan akan lennyap rasa permusuhan." (HR. Imam Malik) Dalam 
dakwah dan juga aktifitas keehidupan yang lain, manusia tidak lepas dari 
interaksi dengan sesamanya. Dan dari setiap interaksi itu tentu kita 
mengharapkan lahirnya keakraban, kerja sama yang baik, dan hilangnya kecurigaan 
dan sekat-sekat yang sering membatasi hubungan kita, antara satu dengan yang 
lain. Seorang da'i, misalnya, ia dituntut untuk memaksimalkan interaksinya 
dengan orang lain agar dia berhasil menghilangkan prasangka buruk masyarakat 
terhadap dakwah yang diembannya. Dan memberi hadiah merupakan salah satu seni 
interraksi yang mampu melahirkan dampak dan pengaruh yang luar biasa terhadap 
orang-orang yang menjadi objek dakwahnya. Memberi hadiah, terkadang menjadi 
solusi yang sangat tepat bagi seorang da'i kehilangan sentuhan untuk melunakkan 
hati mad'u. Dalam hal apa saja, memberi
 hadiah bisa menjadi solusi untuk merapatkan hubungan. Karena itu, Rasulullah 
saw sering menganjurkan kita melakukannya. Beliau saw sangat mendorong kita, 
kaum Muslimin agar saling memberi hadiah, bahkan meskipun hadiah itu terlihat 
sepele dan tampak kurang bernilai. Seperti anjuran beliau, "Berbagilah, meski 
hanya sebuah tungkai kambing." Di zaman para sahabat, kita temukan betapa 
seorang sahabat Anshar pernah menawarkan separuh hartanya kepada Abdurrahman 
bin Auf ra yang hijrah ke Madinah bersama Nabi. Bahkan, sahabat itu siap 
menceraikan salah seorang istrinya untuk kelak dinikahkan kepada Abdurrahhman 
bin Auf. Sepertinya, sahabat Anshar itu menanggkap suatu kesulitan dari 
sahabatnya yang terusir dari Makkah itu, setelah meningggalkan semua hartanya 
demi menunaikan perintah Rasul untuk berhijrah. Tanpa menunggu diminta, ia 
langsung menawarkan meski akhirnya tawaran yang tulus itu ditolak Abdurrahman 
ra. Kita perlu bejar dari sejarah ini, bahwa
 memberi hadiah itu penting. Terutama kepada orang-orang yang secara nyata 
menampakkan penolakan dan ketidaksukaannya kepada kita. Ini adalah solusi 
pertemanan dari Rasulullah, yang dijadikan kebiasaan di kalangan sahabat 
beliau. Jika Memang Baik, Beranilah Memuji Sirah kehidupan Rasulullah menyimpan 
banyak sekali teladan persahabatan dan jalinan kemanusiaan yang mengispirasi. 
Khususnya, bagaimana menyenangkan orang lain dan menghilangkan kebencian dan 
perasangka buruk. Selain memberi hadiah, Rasulullah saw juga mengajarkan kita 
untuk memuji orang lain, atas prestasi dan kebaikan yang dimilikinya. Karena 
pujian itu akan memberi dampak yang baik orang yang dipuji, menghilangkan 
kedengkian dan kecurigaannya. Tetapi kita harus melakukannya secara bertanggung 
jawab dan di tempat yang benar. Jangan sampai pula, pujian itu diberikan secara 
berlebihan. Pujian seperti ini berpotensi merusak kepribadian dan dapat 
membunuh karakter seseorang. Karenanya, untuk
 menghindari efek negative itu, Rasulullah saw telah memberikan contoh yang 
baik. Di antaranya, beliau melakukannya di belakang orang yang beliau puji. 
Misalnya, ketika seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam, 
Nabi menjawab bahwa Islam adalah shalat lima waktu, puasa, dan zakat. Maka 
orang Badui itupun berjanji untuk menjalankan ketiganya dengan konsisten, tanpa 
menambahi atau menguranginya. Setelah si Badui pergi, Nabi saw memujinya di 
hadapan para sahabat, "Sungguh beruntung kalau ia benar-benar melakukan " 
janjinya tadi." Setelah itu beliau menambahi, "Barangsiapa yang ingin melihat 
penghuni surga, maka lihatlah orang (Badui) tadi." (HR. Bukhari dan 
Muslim) Beliau juga sering melontarkan pujiannya dalan bentuk doa. Misalnya, 
ketika beliau melihat ketekunan Ibnu Abbas ra dalam mendalami tafsir Al Qur'an, 
beliau saw tidak serta merta memujinya. Beliau lebih memilih untuk mendoakan 
Ibnu Abbas ra, "Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam
 ilmu agama dan ajarilah dia tafsir (Al Qur'an)." (HR. Al Hakim) Begitu pula, 
di saat Nabi saw melihat ketekunan Abu Hurairah ra dalam mengumpulkan hadits 
dan menghapalnya, beliau lantas berdoa agar Abu Hurairah ra dikaruniai 
kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihapalnya. Doa ini kemudian 
dikabulkan Allah swt dan Abu Hurairah ra menjelma sebagai sahabat yang paling 
banyak meriwayatkan hadits. Menjaga Hubungan Persaudaraan Ikatan ukhuwah adalah 
aspek vital yang harus selalu diperhatikan dalam setiap interaksi kita dengan 
orang lain. Karena itu, Islam berkali-kali mengingatkan kita untuk selalu 
menjaganya, baik melalui firman Alllah swt di dalam Al Qur'an maupun melalui 
sabda Rasulullah saw di dalam Al Hadits. Segala hal yang mungkin memutuskannya, 
akan selalu dicegah. Rasulullah saw dengan tegas memerintahkan umatnya untuk 
senantiasa menjaga hubungan persaudaraan. Abdullah bin Abi Aufa ra 
menceritakan, "Ketika sore hari pada hari Arafah, waktu
 kami duduk mengelilingi Rasulullah saw, tiba-tiba beliau bersabda, "Jika di 
majelis ini ada orang yang memuutuskan silaturahim, silahkan berdiri, jangan 
duduk bersama kami." Saat itu, di antara yang hadir hanya ada satu yang 
berdiri, dan orang itupun duduk di bagian belakang. Kemudian lelaki itu pergi, 
dan tidak lama berselang ia datang dan duduk kembali. Lalu, Rasulullah saw pun 
bertanya kepadanya,"Karena di antara yang hadir hanya kamu yang berdiri, dan 
kemudian kamu datang dan duduk kembali, apa seesungguhnya yang terjadi?" Lelaki 
itu menjawab, "Begitu menndengar engkau bersabda, aku segera menemui bibiku 
yang telah memutuskan silaturahim denganku. Karena kedatanganku tersebut, ia 
berkata, "Untuk apa kamu datang, tidak seperti biasanya kamu datang kemari." 
Lalu aku menyampaikan apa yang telah engkau sabdakan. Kemudian ia memintakan 
ampun untukku, dan aku meminta ampun untuknya (setelah kami 
berdamai)." Rasulullah saw pun bersabda kepadaanya,
 "Kamu telah melakukan perbuatan yang baik, duduklah, rahmat Allah tidak akan 
turun kepada suatu kaum jika di dalamnya ada orang yang memutuskan silaturahim. 
" Saling marah, membenci atau menebar kebencian adalah perilaku yang bisa 
merusak hubungan persaudaraan. Maka ketika apinya mulai tampak, yang dinyalakan 
oleh kita atau orang lain, segeralah berusaha memapadamkannya sebelum membakar 
dan menghanguskan ikatan persaudaraan kita. Ibnu Rajab Al Hambali berkata 
"Sesama muslim dilarang saling membenci dalam hal selain karena Allah, apalagi 
atas dasar hawa nafsu. Karena sesama Muslim itu telah dijadikan Allah 
bersaudara dan persaudaraan itu saling cinta bukan saling benci." Memang, 
persaudaraan tidak hanya rusak oleh kebencian. Tetapi kebencian juga tidak 
hanya merusak persaudaraan. Kebencian bisa melahirkan kerusakan yang lebih 
besar, bencana yang lebih luas, tidak hanya di dunia tetapi juga di 
akhirat. Syaikh Muhammad Hayat As Sindi menegaskan,
 "Janganlah kalian melakukan apa yang akan menyebabkan saling membenci karena 
itu akan menyebabkan bermacam-macam kerusakan di dunia dan bencana di 
akhirat." Karena itu tahanlah diri kita untuk tidak membenci, dan tetap berbuat 
baik ketika dibenci agar kebencian itu tidak menimmbulkan kerusakan yang lebih 
besar pada diri kita, dan pada hubungan kita dengan sesama manusia.  ________ 
akhir artikel ________


      

Kirim email ke