http://groups.yahoo.com/group/tarbawi_community/message/9973
Terimalah Kelebihan dan Kekurangan
Assalaamu'alaykum wa rahmatuLLAHI wa barakatuh, Sesungguhnya manusia diciptakan 
bersifat keluh kesah lagi kikir. (QS. Al-Maa’arij:19) Sifat keluh kesah selalu 
menggiring kita meratapi atas kekurangan yang dimiliki…. Dan akhirnya 
terjerumus pada keputus-asaan…. Padahal jika kita mau menghitung segala 
kelebihan dan kenikmatan yang telah dikaruniakan ALLAH SWT pada kita, walau 
telah habis air-laut dijadikan tinta dan telah gundul pepohonan dijadikan 
pena…. Niscaya tak akan habis-habisnya kenikmatan tsb dicatat.. Rasa syukur 
adalah suatu keniscayaan yang menentramkan jiwa bagi orang yang 
berakal….. Duhai KEKASIHku yaa RABBUL’alamiin…. Kami mohon lindunganMU dari 
ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak mau khusyuk, dari nafsu yang 
tidak pernah kenyang-kenyangnya terhadap dunia ini, serta dari doa’ yang tidak 
ingin lagi ENGKAU dengarkan dari kami….. Jauhkanlah diri kami dari sifat keluh 
kesah…. Dan masukanlah kami kedalam
 golongan hamba-hambaMU yang pandai bersyukur…… Aamiiin ya 
RABBAL’alamiiin….. Maafkan saya atas semua kesalahan… Wassalaamu'alaykum wa 
rahmatuLLAHI wa barakatuh,Ediyus HzIsy Azizan, Aumut Syahidan!!! ________ awal 
artikel ________ Tarbawi Edisi: 233, 29 Juli 2010Terimalah Kelebihan dan 
KekuranganOleh: Ustadz M. Lili Nur Aulia Telitilah, pikirkanlah tentang 
orang-orang hebat itu. Yang mengukir hidupnya dengan tinta yang selalu nyata 
dalam lembar-lembar sejarah. Telitilah sekali lagi dari sisi yang berbeda 
... Saudaraku,Kepandaian, keulungan, kehebatan, keluarbiasaan seseorang, 
bagaimanapun . tetaplah dia manusia. Kita mungkin terpana dengan kehebatannya 
yang jarang dimiliki orang lain. Kita mungkin juga terkagum-kagum dengan 
kebisaannnya yang tak banyak dipunyai orang selainnya. Tapi, bagaimanapun ia 
tetaplah manusia. Ada orang yang Allah swt berikan kemampuan berpikir dan 
menganalisa begitu dalam dan tajam dalam suatu masalah, tapi ia
 hampir tak mampu berbicara dan menyampaikan pandangannya dengan baik. Atau, 
kebalikannya, ada orang yang begitu mahir menyampaikan pikirannya, sementara 
ketajaman pikiran dan analisanya bisa dikatakan standar saja. Ada orang yang 
terkenal sangat murah hati, mudah memberi dan penuh belas kasih terhadap orang 
yang memerlukannya. Tapi di sisi lain, ia penakut, penuh khawatir terhadap 
kemungkinan, dan cenderung memilih diam ketimbang melakukan sesuatu yang baik 
tapi berisiko. Ada orang yang kaya dan memiliki harta banyak, tapi ternyata ia 
mempunyai saudara yang miskin. Atau, ada orang yang menghapal AI Qur’an dan 
bahkan banyak menghapal hadits-hadits Rasulullah saw, tapi ia tak memiliki 
obsesi atau semangat berdakwah. Sementara ada orang yang semangat dan obsesi 
dakwahnya begitu tinggi, tapi ia minim hafalan Al Qur’annya dan ilmu 
keislamannya. Apa yang kita pahami dari semua realitas ini? Saudaraku,Mari kita 
perhatikan sisi-sisi hidup seperti itu, pada
 diri para ulama dan salafushalih. Adalah Imam Jalaluddin AI Mahally seorang 
tokoh besar bermadzhab Syafi'i. Dialah yang menulis kitab tafsir terkenal 
berjudul "AI Jalalain". Tapi tahukah kita, Imam Jalaluddin dalam riwayat 
tentangnya disebutkan sebagai ulama yang lemah dalam hafalan? Disebutkan, 
beliau berupaya menghapal satu bagian dari suatu buku, dan itu memerlukan waktu 
lama sekali. Sampai satu pekan lamanya, bahkan belum bisa menghapal satu lembar 
pun dari buku itu. Bahkan, karena upaya dan keseriusannya menghapal, ia pun 
mengalami sakit demam dan mengeluh pusing yang sangat di kepalanya. Ia pun lalu 
menyatakan gagal menghapal bagian buku yang ingin dihafalnya. Ada pula, Imam-As 
Suyuthi rahimahullah. Siapakah yang tak pernah mendengar nama ulama yang banyak 
menganalisa hadits-hadits Rasulullah saw ini? Ternyata, Imam Suyuthi adalah 
orang yang sangat lemah dalam hitung menghitung. Atau, tokoh sekaliber Imam 
Ibnu Taimiyah yang pakar dalam ilmu
 hadits fiqih, mengajar, menyampaikan fatwa, sejak beliau masih berusia 17 
tahun. Bahkan Ibnu Taimiyah juga mendalami ilmu tafsir dan beragam ilmu Islam 
lainnya. Tapi, ia tidak memiliki ilmu qiraat atau ilmu pembacaan Al Qur’an yang 
berbeda-beda. Saudaraku,Ada kisah lucu terkait hal ini, tentang Syaikh Khudhari 
Bek rahimahullah. Ia seorang ulama yang menulis banyak kita tentang sejarah 
Rasulullah saw, sejarah para khulafa Ar Rashidin, sejarah Daulau Umawiyah dan 
Abbasiyah. Ali Thanthawi memilih kisah tentang Khudari Bek, katanya: "Syaik 
Khudari di akhir-akhir usianya mengalami sakit. Ia menduga bahwa di dalam usus 
di perutnya terdapat ular. Syekh Khudari berusaha melakukan konfirmasi tentang 
dugaan itu kepada dokter. Ia juga bertanya ke sejumlah ulama. Tapi umumnya 
mereka segan menerangkan penyakit yang diderita Syekh Khudari. Dengan maksud 
bergurau, mereka mengatakan, "di dalam ususnya ada sarang cacing, tidak mungkin 
sarang ular." Tapi Syekh Khudari
 tidak percaya. Ia pun mencari ahli kedokteran yang kebetulan ahli kejiwaan. 
Setelah menyampaikan kisah dan keluhannya, sang dokter berusaha menenangkannya 
dengan menjadikannya tidak sadar. Setelah sadar, sang dokter meletakkan ular 
kecil di hadapannya dan menggambarkan ular seperti itulah yang selama ini 
menjadikannya sakit. Melihat ular itu, air muka Syekh Khudori berseri-seri. 
Tubuhnya menjadi segar dan ia merasa sehat bahkan bisa berjalan dan berloncat. 
Setelah sebelumnya ia selalu mengeluh sakit. Setelah itu, Syakh Khudori tidak 
pernah sakit lagi (Shuwar wa Khowatir Ii syaikh Thanthawi 
17-26) Saudaraku, Kita umumnya pernah mengenal nama Dale Carnegie. Ia tercatat 
telah memberikan sebanyak 150 ribu pidato dalam partisipasinya di berbagai 
program pendidikan. Ia mengembangkan kursus keterampilan dasar hubungan antar 
manusia. Salah satu prinsipnya yang terkenal adalah: Lihatlah sesuatu dari 
perspektif orang lain. Berikan penghargaan dengan jujur dan
 tulus serta kembangkan empati. Tapi ternyata Dale Carnegie bukan sosok yang 
diianggap sukses membina komunikasi di dalam rumah tangganya. Pernikahan 
pertamanya berakhir dengan perceraian, lalu ia menikah lagi yang berakhir 
dengan perceraian. Saudaraku,Apa yang kita pelajari dari semua hal ini? 
Kepandaian dan keluarbiasaan di satu sisi, yang menyimpan aib dan kekurangan di 
sisi lain. Kehebatan yang mengagumkan banyak orang, yang menutupi sisi 
kelemahan dan mengherankan banyak orang. Semuanya menunjukkan dan meneguhkan 
bahwa tak ada yang sempurna dalam hidup yang diciptakan Allah swt. Tidak ada 
kesempurnaan, keluarbiasaan, kehebatan sejati kecuali milik Allah 
swt. Ketidaksempurnaan ini adalah milik kita semuanya. Dan itu menyebabkan tak 
satupun dari kita layak menyandang rasa sombong atas prestasi, pendapat dan 
pemikiran atau apapun. Itu sebabnya juga, Allah swt meski menempatkan 
Rasulullah saw di tempat yang sangat mulia di hati kita, namun Rasulullah
 saw juga bersabda, "Innii basyarun ansaa kamaa tansauun", aku ini adalah 
manusia yang bisa lupa sebagaimana kalian juga lupa. Barangkali, hikmah lain 
yang penting juga kita sadari adalah, tidak begitu mudah mengagungkan sosok 
orang secara berlebiihan, sebagaimana tidak gampang menjatuhkan vonis yang 
merendahkan dan menjatuhkan orang yang semula dikenal mempunyai kelebihan. 
Menerima, bahwa seorang yang dimudahkan Allah swt memiliki sebuah keistimewaan, 
tetap memiliki kekurangan, yang tidak menghapus keistimewaannya 
itu. Saudaraku,Pujilah Allah swt atas karunia-Nya yang luar biasa kepada kita. 
Dan bertanyalah pada diri sendiri, apa yang sudah kita tulis di lembar-lembar 
hidup kita sekarang? []________ akhir artikel ________



      

Kirim email ke