http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/31413
Detikcom : Muhammadiyah-NU Luncurkan Buku Koruptor itu Kafir
http://us.detiknews.com/read/2010/08/18/234626/1423087/10/muhammadiyah-nu-luncurkan-buku-koruptor-itu-kafir?991102605  Muhammadiyah-NU
 Luncurkan Buku Koruptor itu Kafir akarta - Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama 
(NU), dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, menyebut seseorang yang 
melakukan korupsi adalah "kafir".

Bahkan kedua organisasi Islam modern dan tradisional itu perlu menjelaskan 
konsep bersamanya itu dalam sebuah buku. Buku itu kini telah terbit dengan 
judul "Koruptor itu Kafir", Telaah Fiqih Korupsi dalam Muhammadiyah dan 
Nahdatul Ulama (NU)."

Buku warna hitam dan bersampul obor terbakar dengan tangkai berlapis uang itu 
diluncurkan di restoran Bumbu Desa, Jl Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat, 
Rabu (18/8/2010) menjelang buka puasa. Sang editor, yang juga salah satu 
kandidat ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bambang Widjojanto, hadir 
sebagai pemapar berdampingan dengan Sekjen Suriyah PBNU Malik Madani.

Secara teknis penyajian, buku yang diterbitkan Mizan dengan pendanaan dari 
Kemitraan Partnership ini dibagi menjadi empat bab. Bab pertama berisi korupsi 
dalam persepsi Muhammadiyah disambung strategi organisasi yang telah berumur 
seabad itu dalam pemberantasan korupsi. Sementara bab 3 dan 4 menjadi jatahnya 
NU dengan sub topik yang sama.

Seperti terbaca dalam pengantar Bambang, buku ini menghadirkan telaah hukum 
korupsi dalam Islam. Korupsi merupakan dosa besar tidak kepalang. Meskipun para 
penulisnya tidak secara eksplisit mengatakan bahwa korupsi dapat menghilangkan 
keimaanan, namun penjelasan itu sangat ditekankan.

"Misalnya Prof Din Syamsuddin, ketua umum PP Muhammadiyah mengatakan korupsi 
adalah syirik modern karena tidak lagi meyakini Allah sebagai Tuhan, tetapi 
menjadikan uang sebagai sumber kekuatannya, the power of money," kata Bambang 
(hal xxi).

Di dalam Islam, tindakan syirik merupakan perbuatan yang tidak dimaafkan oleh 
Allah. Bila dipandang korupsi adalah bentuk dari perbuatan syirik, menurut buku 
ini, jelas para koruptor sejajar dengan para musyrikin. Koruptor akan dilaknat 
oleh Tuhan, seperi yang tercantum dalam sebuah hadits, "Allah melaknat orang 
yang melakukan suap (risywah) dan menerima suap" (HR Ibn Majah).

Sementara kalangan NU menyodorkan pandangan bahwa korupsi itu sama dengan 
pencurian. Sebuah hadits mengatakan, "Pencuri tidak mungkin dilakukan dalam 
keadaan beriman". Singkat kata, salah satu bentuk tindakan mencuri adalah 
korupsi itu sendiri. Jika demikian, maka koruptor tidak mungkin melakukan 
korupsi dalam keadaan beriman pula.

Secara etimologis, kata ka-fa-ra (korupsi), itu bisa berarti mencuri. Ketika 
hadits itu memaksudkan bahwa tidak mungkin orang yang beriman melakukan 
pencurian, dalam hal ini korupsi, bisa diartikan bahwa ketika orang melakukan 
korupsi, hatinya tertutup, sehingga Allah pun dilupakan.

Lantas bagaimana korupsi itu bisa diberantas? Buku ini menjelaskan, Islam telah 
mengajarkan cara pembuktian terbalik sebagai salah satu alternatif untuk 
menumpas perbuatan korupsi. Padahal, tema itu sekarang ini menjadi perdebatan 
alot di ranah hukum positif. Pembuktian terbalik pernah ada ketika Umar Bin 
Khathab meminta Abu Hurairah menjelaskan asal-usul harta yang diperolehnya saat 
menjabat Gubernur Bahrain. Berikut nukilan kisah Umar Bin Khathab tersebut:

"Ketika Abu Hurairah menghadap Umar bin al-Khaththab setelah kembali dari 
Bahrain, dia membawa 400.000 (dinar) dari Bahrain. Kemudian Umar bertanya: 
Apakah engkau menzalimi seseorang?" Abu Hurairah menjawab: "tidak". Umar 
bertanya: Apakah engkau mengambil sesuatu yang bukan haknya?" dia menjawab 
"Tidak". Umar kembali bertanya: "Berapa yang telah engkau ambil?". Dia menjawab 
"20.000". Umar bertanya: "dari mana engkau memperolehnya?" dia menjawab: "Saya 
berdagang. Umar berkata: "Hitung modal pokokmu dan penghasilanmu. Ambil dan 
kembalikan sisanya ke Baitul Ma."

"Jadi pergi kemana-mana ternyata ada di sekitar kita. Tinggal kita saja yang 
kurang dalam menggalinya," seloroh Bambang tentang referensi pembuktian 
terbalik yang ternyata sudah tersedia dalam sejarah kejayaan Islam tersebut.


      

Kirim email ke