Assalamu'alaikum wr. wb.,

Alhamdulillah, sejak pagi saya berkesempatan menerima sedekah dari orang2 
yg--insya Allah--memiliki pengetahuan agama yg baik. Pencerahan mereka sgt 
panjang. Insya Allah, saya akan bersedekah dg hal yg sama ke teman2 semua, 
termasuk Sdr. Rara, dlm konteks menghormat bendera.

Utk saat ini, sy ingin merespon pertanyaan Sdr. Rara ttg mencium hajarul aswad 
dan al Qur'an. Maaf, saya baru sempat membuka surel Sdr. Rara pd pagi ini.

Hajarul aswad: Umar ibnu Khattab (RA) pernah katakan, "Andaikan Nabi (SAW) tdk 
mencium hajarul aswad, niscaya aku tdk akan melakukannya." Dari riwayat tsb 
terlihat betapa Umar pun pd dasarnya tdk mau mencium benda tak hidup. Barulah 
setelah Nabi mencontohkan itu, maka Umar dan kita mengikutinya. Itu pun bukan 
merupakan suatu hal yg fardhu 'ain, krn bukan mrpk rukun haji maupun umrah.

Penting diingat, bedakan antara urusan ritual seremonial dg urusan lain 
(termasuk berkaitan dg analogi Sdr. Rara perihal "kita naik mobil dan Nabi naik 
unta"). Dlm ihwal ritual seremonial, hukum dasar segala sesuatunya adl 
dilarang, kecuali ada dalil yg membolehkan. Sdgkan dlm urusan lain (termasuk 
berkaitan dg analogi Sdr. Rara perihal "kita naik mobil dan Nabi naik unta"), 
hukum dasarnya mubah.

Mengapa ritual seremonial punya aturan main yg berbeda? Dlm tafsiran saya, krn 
ini sangat rentan bergesekan dg ketauhidan.

Ilustrasi konkret dr hal tsb terlihat pd prosesi penciuman hajarul aswad. Andai 
Nabi tdk mencontohkan, pasti Umar dan kita tdk akan pernah mau menciumnya. 
Karena, bukankah mencium dan menghormat berhala adl ritual seremonial yg justru 
diperangi sejak zaman Nabi Ibrahim (AS)?

Lalu ttg mencium al Qur'an. Kita tentu tahu, awalnya segala firman dicatat oleh 
para sahabat Nabi (SAW) pd pelepah kurma, tulang belulang, kulit kayu, dan 
sejenisnya. Pada masa itu, al Qur'an belum berbentuk mushaf (kumpulan lembaran, 
kitab) spt yg ada pd masa sekarang.

Jelas sudah; semasa Nabi (SAW) hidup tdk ada prosesi penciuman al Qur'an krn 1) 
blm berbentuk mushaf, 2) Nabi (SAW) adl buta huruf (beberapa pemikir tasawuf 
menolak anggapan Nabi sbg sosok yg ummi), dan 3) Nabi (SAW) hapal firman Allah 
di luar kepala. 

Bagaimana dg setelah Muhammad wafat? Baru pd masa Umar ibnu Khattab (RA), dan 
lebih serius lagi semasa Utsman ibnu Affan (RA), dilakukan upaya pengumpulan 
lembaran2 tadi. Persoalannya, sy tdk pernah membaca adanya prosesi penciuman al 
Qur'an oleh para sahabat. Mereka membaca al Qur'an, menghapal al Qur'an, 
memperbanyak al Qur'an. Hanya itu.

Tambah asyik (pelik?) adl adanya perdebatan di kalangan ulama ttg "apakah al 
Qur'an mrpk makhluk atau bukan makhluk?". Tapi ini tdk usah dibahas saat ini 
juga.

Atas dasar itu, pertanyaan Sdr. Rara ttg mencium al Qur'an sungguh2 tdk
dpt saya jawab. Toh Nabi 'tdk punya' al Qur'an berbentuk mushaf. Dg kata lain, 
pertanyaan Sdr. Rara tdk memiliki basis analogis, dg alasan yg sama.

Allahu a'lam.

Wassalam,
Reza

NB:
Mudah2an forum kita ini mjd lebih semarak dan mencerdaskan dg diskusi2 seperti 
ini, ya.
Teman2 yg lain, bagaimana?

--- On Wed, 8/25/10, Rara Marulent <[email protected]> wrote:

From: Rara Marulent <[email protected]>
Subject: Re: [muslim_binus] Awas, syirik!
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 25, 2010, 12:19 PM










        











Bagaimana mengenai menciumi hajar aswad dan kabah juga kitab suci Al Quran?

--- Pada Sab, 21/8/10, Nabilah Fisabilillah <[email protected]> 
menulis:

Dari: Nabilah Fisabilillah <[email protected]>
Judul: Re: [muslim_binus] Awas, syirik!
Kepada: [email protected]
Tanggal: Sabtu, 21 Agustus, 2010, 11:30 PM







 



    
      
      
      jadi pengen ikutan nimbrung,,,
sebenarnya tergantung niat yg hormatnya...
kalo sayang banget sama bendera sampai diliatin ke puncak tiang bahkan dicium 
dan dipeluk... dikasih sesajen dan disembah2 maka itu termasuk syirik.

kalo cuma ikutin kata pimpinan utk menghormati sekedarnya, maka itu biasa aja. 
karena apa? menghormati bendera hanya pada 17an dan hari senin (utk yg 
sekolah), selain itu bendera tak pernah dihormati lagi, bahkan yg kuliah pun 
udah ngga hormat2an lagi sama bendera (kecuali yg masih seneng ikut paskibra). 

misalnya setelah upacara terus hujan, apakah langsung diturunin? wallahu 
alam... (tergantung niat orangnya jg)

menurut saya, ini hanya simbolisasi agar ngga lupa sama sejarah Indonesia 65 
tahun yang lalu. 65 thn yg lalu Soekarno dan Bung
 Hatta melakukan hal yg sama bersama golongan tua dan golongan pemuda (panjang 
kalo ngebahas sejarah).

apa jadinya kalo hormat bendera ngga pernah ada?
maka lagu Indonesia Raya akan sama datarnya dengan lagu Mengheningkan Cipta dan 
lagu Garuda Pancasila yang ngga begitu terkenal sejarahnya. Lagu Indonesia jg 
akan terasa tidak bernyawa dan tidak berenergi.

itu menurut pendapat saya... 
wallahu alam
^_^
 -Nabilah Fisabilillah-
MFB: "Fisabilillah2013"





    
     



 












    
    







 




      

Kirim email ke