2011/1/18 Adi Nugroho <[email protected]>

> Perkawinan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri
> itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik:
> “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau
> istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.
>
> Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang
> dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan
> bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami
> tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh
> dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.
>
> Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna
> ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.
>
> Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan
> sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di
> ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.
>
> Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk
> masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya
> bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.
>
> Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami
> terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan
> kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang
> suami dan bukan ada pada sang istri.
>
> Sang suami memanggil sang istri yang telah lama  menunggunya, dan tampak
> pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki
> ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan
> mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang
> mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu
> untuk sembuh.
>
> Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna
> ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang
> menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.
>
> Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun
> pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat
> dan sanak saudara.
>
> Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri
> bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di
> mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar
> selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta
> cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan
> shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama
> Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan
> memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa
> bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya
> bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga
> saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.
>
> Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini
> cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti
> …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.
>
> Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun
> lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.
>
> Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah
> SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.
>
> Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab
> mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.
>
> Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah
> memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu,
> selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini,
> kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya
> anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.
>
> Sang istri pun bad rest di rumah sakit.
>
> Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas
> keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.
>
> “Haah, pergi?”. Kata sang istri.
>
> “Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal,
> semoga dapat”. Kata sang suami.
>
> Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang
> istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan
> ginjal dari sang donatur.
>
> Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya:
> “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan
> diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.
>
> Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang,
> dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.
>
> Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami
> itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya,
> tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang
> dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.
>
> Dan subhanallah …
>
> Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak.
> Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.
>
> Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan
> studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai
> seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan
> hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.
>
> Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan
> buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan.
> Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut,
> membuka-bukanya dan membacanya.
>
> Hamper saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan
> rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon
> suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan
> maaf dari suaminya.  Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya
> dengan menangis pula.
>
> Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak
> berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan
> menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.
>
> (Diterjemahkan dari kisahk yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini,
> yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)
>

Akhlak yang sungguh mulia, subhanallah.
terima kasih atas cerita inspiratifnya mas Adi.

--

Kirim email ke