*Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak
berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan
menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali...*

Wah selama 3 bulan pasti tekenang masa mudah tuh.. hehehe.....

2011/1/18 Ronald Rianda <[email protected]>

>
>
> 2011/1/18 Adi Nugroho <[email protected]>
>
> Perkawinan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri
>> itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik:
>> “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau
>> istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.
>>
>> Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang
>> dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan
>> bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami
>> tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh
>> dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.
>>
>> Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna
>> ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.
>>
>> Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan
>> sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di
>> ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.
>>
>> Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk
>> masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya
>> bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.
>>
>> Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami
>> terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan
>> kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang
>> suami dan bukan ada pada sang istri.
>>
>> Sang suami memanggil sang istri yang telah lama  menunggunya, dan tampak
>> pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki
>> ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan
>> mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang
>> mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu
>> untuk sembuh.
>>
>> Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna
>> ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang
>> menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.
>>
>> Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan
>> namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga,
>> kerabat dan sanak saudara.
>>
>> Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri
>> bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di
>> mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar
>> selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta
>> cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan
>> shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama
>> Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan
>> memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa
>> bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya
>> bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga
>> saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.
>>
>> Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku,
>> ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan
>> mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di
>> hadapannya.
>>
>> Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun
>> lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.
>>
>> Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah
>> SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.
>>
>> Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab
>> mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.
>>
>> Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan
>> mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara
>> kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti
>> ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin
>> punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.
>>
>> Sang istri pun bad rest di rumah sakit.
>>
>> Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada
>> tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.
>>
>> “Haah, pergi?”. Kata sang istri.
>>
>> “Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal,
>> semoga dapat”. Kata sang suami.
>>
>> Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang
>> istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan
>> ginjal dari sang donatur.
>>
>> Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam
>> dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi
>> meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.
>>
>> Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang,
>> dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.
>>
>> Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang
>> suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk
>> istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain
>> dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.
>>
>> Dan subhanallah …
>>
>> Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak.
>> Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.
>>
>> Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan
>> studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai
>> seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan
>> hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.
>>
>> Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan
>> buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan.
>> Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut,
>> membuka-bukanya dan membacanya.
>>
>> Hamper saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan
>> rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon
>> suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan
>> maaf dari suaminya.  Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya
>> dengan menangis pula.
>>
>> Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak
>> berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan
>> menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.
>>
>> (Diterjemahkan dari kisahk yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini,
>> yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)
>>
>
> Akhlak yang sungguh mulia, subhanallah.
> terima kasih atas cerita inspiratifnya mas Adi.
>
> --
>
>


-- 
بسم الله الرحمن الرحيم

Who I'am ?
+ NewBie and
+ Bloger active
www.portme.net
Ym-Chat : muzammi_06
Gm-Chat :muzammi06

Kirim email ke