lanjuuuts bro On 6/19/07, Mochammad Irfan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sampai di daerah Banjarnegara, kami berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar sekalian istirahat untuk melemaskan otot yang mulai kaku terkena dinginnya angin malam. Saat itu waktu menjelang shubuh. Sempet ngobrol sebentar dengan Bro pengendara Tiger Silver, ternyata beliau lagi solo riding ke Semarang. Lumayan cepet juga tuh anak, dari Jakarta katanya sekitar jam 12 malam. Perjalanan kami lanjutkan kembali, menembus diginnya angin dan balutan kabut yang menyelimuti jalanan dan perbukitan yang kami lalui. Makin lama kabut serasa makin tebal. Si komenk mencoba mengikuti KRR Merah bro Andri dan CBR Item-nya Bro Saiful. Di belakang terlihat KRR Item Buluknya bro Zulux mencoba mengikuti. Jalanan makin banyak tikungan dan naik turun, pandangan makin terbatas. Kaca helm selalu berlapis air akibat kabut, sebentar di hapus, sebentar kabur lagi. KRR Merah terlihat memberi jalan kami untuk maju, otomatis yang di depan sekarang CBR Item. Si komenk mencoba tetap mengikuti, tak berapa lama KRR Item Buluk maju ke depan mencoba mengikuti CBR. Makin lama kabut makin tebal. Untunglah sinar matahari sedikit demi sedikit mulai menerangi jalanan. Lama-lama KRR Item Buluk mulai "menyerah" akibat pandangan makin terbatas. Si CBR item makin gila aja, si Komeng mencoba mengikuti, tapi makin lama makin ngos-ngosan akibat kalah tenaga. Dan lagi apabila di ajak manuver rebah, terasa ayunan suspensi depan dan belakang makin tidak kompak akibat jalanan yang sedikit bumpy. Makin lama CBR gila itu makin hilang dari pandangan. Sampai di sekitar Karang Pucung, gw coba untuk mengurangi kecepatan sambil menunggu peserta yang lain di belakang. Sampai di Wangon, gw mampir dulu untuk mengisi lagi BBM yang makin mendekati batas merah. Setelah usai isi bensin, si Komenk gw parkir di sudut depan pom bensin sambil menunggu temen2 yang lain, dengan harapan mereka kalo lewat pasti melihat si Komenk. Tak berapa lama terlihat KKR Item Buluk melintas, langsung masuk ke pompa bensin isi BBM juga. Kemudian kami mencoba mencari warung terdekat untuk sekedar ngopi dan ganjal perut sekedarnya sambil menunggu temen2 yang lain. Coba kontek-kontek, teryata Bro Arman dg Thundie 125 nya mengundurkan diri di Majenang karena satu dan lain hal dan memutuskan unutk kembali ke Jakarta. Sayang sekali, padahal sudah sepertiga perjalanan. Berikut ini si Komenk dan SI Buluk lagi istirahat di sebelah pompa bensin Wangon. (bersambung)
