(Embedded image moved to file: pic11701.gif)                               
                                                                            
                                                                            
  (Embedded image moved to file: pic23990.gif) (Embedded image moved to     
 file: pic04488.gif) (Embedded image moved to file: pic05025.gif) (Embedded 
 image moved to file: pic00524.gif)                                         
                                                                            
                                                                            
                                                                            
 Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang      
 senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.                   
                                                                            
 Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,              
 tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.                           
 Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel  
 sangat mencintai anak kecil itu.                                           
                                                                            
 Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak     
 lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia      
 mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.                              
                                                                            
 "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.            
                                                                            
 "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab          
 anak lelaki itu.                                                           
                                                                            
 "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk           
 membelinya."                                                               
                                                                            
 Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau   
 boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya.                          
 Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."               
                                                                            
 Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di 
 pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak 
 pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.                          
                                                                            
 Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang           
 melihatnya datang.                                                         
                                                                            
 "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.                         
                                                                            
 "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.                              
                                                                            
 "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat   
 tinggal. Maukah kau menolongku?"                                           
                                                                            
 "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan 
 rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.                       
                                                                            
 Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu   
 dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak  
 lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon     
 apel itu merasa kesepian dan sedih.                                        
                                                                            
 Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa     
 sangat bersuka cita menyambutnya.                                          
                                                                            
 "Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon apel.                          
 "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang.  
 Aku ingin pergi berlibur dan berlayar.                                     
 Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"                         
 "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan 
 menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.                           
                                                                            
 Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. Kemudian, anak lelaki itu       
 memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.        
 Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.  
 Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.     
 "Maaf anakku," kata pohon apel itu.                                        
                                                                            
 "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."                           
                                                                            
 "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu."     
                                                                            
 Jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa   
 kau panjat." Kata! pohon apel.                                             
                                                                            
 "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu.        
                                                                            
 "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.   
                                                                            
 Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini."         
 Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.                            
                                                                            
 "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki.              
                                                                            
 "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat.                          
 Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."                      
                                                                            
 "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat        
 terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di       
 pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."                    
                                                                            
 Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.                      
                                                                            
 Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya. 
                                                                            
                                                                            
 Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua      
 kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. 
                                                                            
                                                                            
 Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang       
 ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.                       
 Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk           
 memberikan apa yang bisa                                                   
 mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa     
 anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi        
 begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.                          
                                                                            
 Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang        
 terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita        
 sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup 
 yang telah dan akan diberikannya pada kita .                               
                                                                            
                                                                            
 ___________________________________________________                        
                                                                            
                                                                            
 .                                                                          
                                                                            
                                                                            
                                                                            
                                                                            
                                                                            
                                                                            
                                                                            
                                                                            
                                                                            







<Disclaimer> :
This e-mail is confidential. If you are not the intended recipient you must
not disclose, distribute or use the information in it as this could be a
breach of confidentiality. If you have received this message in error,
please advise us immediately by return e-mail and delete the document. The
address from which this message has been sent is strictly for business mail
only and the company reserves the right to monitor the contents of
communications and take action where and when it is deemed necessary. Thank
you for your co-operation.

<<attachment: pic11701.gif>>

<<attachment: pic23990.gif>>

<<attachment: pic04488.gif>>

<<attachment: pic05025.gif>>

<<attachment: pic00524.gif>>

Kirim email ke