bagus banget artikelnya sampe merinding oeiiiiiiii mbacanya, jadi mrasa sebrapa baik pun kita kepada ortu kayaknya gak bakalan bisa balas jasa mereka.
salam MX-er MX the Cars H 2159 DA --- In [email protected], Yepi-Ahmad Saifullah <yepi- [EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > (Embedded image moved to file: pic11701.gif) > > > (Embedded image moved to file: pic23990.gif) (Embedded image moved to > file: pic04488.gif) (Embedded image moved to file: pic05025.gif) (Embedded > image moved to file: pic00524.gif) > > > > Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang > senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. > > Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, > tidur-tiduran di keteduhan rindang daun- daunnya. > Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel > sangat mencintai anak kecil itu. > > Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak > lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia > mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. > > "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. > > "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab > anak lelaki itu. > > "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk > membelinya." > > Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau > boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. > Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." > > Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di > pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak > pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih. > > Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang > melihatnya datang. > > "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel. > > "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. > > "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat > tinggal. Maukah kau menolongku?" > > "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan > rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel. > > Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu > dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak > lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon > apel itu merasa kesepian dan sedih. > > Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa > sangat bersuka cita menyambutnya. > > "Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon apel. > "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. > Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. > Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" > "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan > menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. > > Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. Kemudian, anak lelaki itu > memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. > Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. > Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. > "Maaf anakku," kata pohon apel itu. > > "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." > > "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." > > Jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa > kau panjat." Kata! pohon apel. > > "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu. > > "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. > > Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." > Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. > > "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki. > > "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. > Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." > > "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat > terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di > pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." > > Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. > > Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya. > > > Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua > kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. > > > Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang > ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. > Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk > memberikan apa yang bisa > mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa > anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi > begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. > > Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang > terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita > sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup > yang telah dan akan diberikannya pada kita . > > > ___________________________________________________ > > > . > > > > > > > > > > > > > > > > > <Disclaimer> : > This e-mail is confidential. If you are not the intended recipient you must > not disclose, distribute or use the information in it as this could be a > breach of confidentiality. If you have received this message in error, > please advise us immediately by return e-mail and delete the document. The > address from which this message has been sent is strictly for business mail > only and the company reserves the right to monitor the contents of > communications and take action where and when it is deemed necessary. Thank > you for your co-operation. >
