widih...ko jadi rasis sih.......kl ada yg baik ya untuk kebaikan bersama atuh kan pak susno tugasnya di jabar...hehehhehehhe jadi ikutan rasis deh gue hehhehehhehe

On Feb 13, 2008, at 12:05 PM, Junianto M wrote:

wong palembang,sumatera selatan...dong
 "laskar wong kito" champion double:
 copa dji sam soe & liga djarum
 nih baru applause

 Regards,
 Junianto M

 Sri Haryono wrote:
 >
 >
 > Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji,
 > "Jangan Pernah setori Saya"
 > Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008
 >
 > RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H.,
> M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat > polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar
 > sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai
 > pukul 16.00 WIB.
 > Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit.
 > Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya "galak" dan
> "menyentak". Saking "galaknya", anggota Satlantas harus ditanya dua kali
 > tentang kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.
 > Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di
 > lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan
> lainnya). "Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya.
 > Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi
> pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah > ingin dilayani," tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.
 > Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari
> pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan > bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan
 > kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.
 > Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah,
> menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau minggu depan masih > ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan," kata suami dari Ny.
 > Herawati itu.
 > Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di
> lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke
 > pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno
> tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil > Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK > adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan
 > Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji besi.
> Berikut petikan wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy Suhaeri
 > dengan pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar
 > menguak korupsi.
> Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau korupsi? > Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja sebagai
 > seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan. Terbayang
> 'kan betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan yang pas-pasan.
 > Oleh karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke Akpol karena gratis.
> Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa di > antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat. Sepertinya, > enak sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat. Sejak itulah,
 > terpatri di benak saya, ada yang tidak benar di negara ini dengan
> kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya sangat bersyukur > bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi di PPATK. Itulah tugas > saya yang paling berkesan selama ini karena bisa menjebloskan menteri,
 > mantan menteri, dan direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada
 > kepuasan batin.
> Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang perang
 > melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?
 > Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau
> pungli, terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar adalah > korupsi. Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung? Karena
 > sejak zaman Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat
> hukum yang korup. Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa memberantas
 > korupsi kalau kitanya sendiri korupsi.
 > Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya "bersihkan" dulu di dalam,
 > baru membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati,
 > direktur, dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi.
 > Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini.
> Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan tertingginya, > yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu pejabat-pejabat di
 > Polda. Baru kemudian ke kapolwil, kapolres, dan seterusnya.
> Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di Polda
 > Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi yang
> bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari tukang ketik,
 > atau petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran. Akan
 > tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu.
> Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya macam-macam, > seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari pengusaha-pengusaha, > mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil anggaran anggota saya. > Oleh karena itu, saya tidak akan minta duit dari dirlantas, direskrim, > atau kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran mereka, atau uang bensin
 > mereka.
 > Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan
> karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah saja.
 > Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.
> Untuk program "bersih-bersih" itu, kira-kira Anda punya target sampai
 > kapan?
 > Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita
> menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut nama > kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. Kita tidak akan
 > jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau polisi
 > berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran.
> Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. Jika memang > saya harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena semuanya saya
 > pecat gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang harus ditakutkan.
> Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari korupsi. Polisi
 > itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya justru merasa lebih
> tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang anggotanya banyak korupsi. > Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus korupsi > bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik tipikor Polda
 > Jabar mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan alasan perlu
 > kajian yang mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama?
> Hahaha.... (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih
 > mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus
 > pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan
 > pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa
 > kemungkinan lainnya.
> Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. Misal, > uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana > uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu > paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan rekanan.
 > Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang
> sulit dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat. > Harus diakui, itu (memberantas korupsi) memang susah karena korupsi itu
 > nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah jabatan.
> Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi kapolda.
 > Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung datang.
> Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau > saya, jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk apa > sih duit banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji saya saja > sekarang sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada uang tunjangan > ini-itu. Sudah lebih dari cukup. Anak-anak saya juga sudah kerja semua.
 > Bahkan, gajinya lebih besar dari saya.
> Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat mengungkap
 > kasus korupsi?
 > Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah
 > bersih di dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan
 > menjadi salah satu target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus
 > korupsi biar Jabar bergetar.
 > Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut
> kasus-kasus korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK pasti > mau membantu asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga
 > bisa diberi kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap "bermain"
 > bagaimana bisa dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama kita, maka
 > banyak kasus yang masuk.
 > Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi
 > digenjot. Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib
 > administrasi, salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara
> berbasis IT yang terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa?
 > Agar kita tahu setiap ada perkara yang masuk.
 > Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui jumlah
> perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana tahu > isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, nantinya ada > klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil, polres, > dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi. Soal lapor
 > boleh di mana saja.
 > Kita juga harus mempertanggungjawabkan hal itu ke pelapor dengan
 > mengirim surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik
 > ini, ini, dan ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini akan
> menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui semua > ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling tidak suka > yang pabaliut-pabaliut. Mungkin, bagi sebagian orang, pabaliut itu enak
 > karena sesuatu yang tidak tertib administrasi itu paling enak untuk
 > diselewengkan. Benar tidak?
 > Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar
 > kemungkinan akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan
 > anggaran yang minim. Menurut Anda?
 > Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau
> anggaran sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk menyidik. > Mencari klien yang kehilangan barang di sini, memeras di tempat lain.
 > Siapa yang suruh? Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis
 > untuk menyidik. Kita tidak perlu sok pahlawan.
> Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak perlu
 > ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu kasat
> serse setor ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk melayani > kapolda. Jangan pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya putus agar
 > tidak ada lagi sistem setoran.
 > Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga
> karena mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau > bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha > judi, dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya hanya Rp
 > 5-6 juta.
 > Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin
> kaya. Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha. > Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di lingkungan
 > kepolisian?
 > Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana
 > yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas
> dilarang dan ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan.
 > Titik.
> Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan
 > dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta
 > nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan
 > petantang-petenteng, tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan
> memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong kita
 > lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan), sementara rakyat
 > macet. Itu juga korupsi.
 > Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya
 > korup dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya
 > dengan pelacur. ***
 >

Salam,
Dasep permana
08151608581 - 021 98778661
YM: dasep_permana

Kirim email ke