Guys...ini ada info bagus....

gue rencananya mo kesana malem ini jam 7pm........
terutama bagi para Koordinator pliz hadir untuk liat pameran ini sebagai 
referensi.

moga-moga kalian bisa bergabung...
 
WORK SMART, TRAVELING HARD
 
Charlie Tendean
www.c10dean.multiply.com



----- Forwarded Message ----
From: linda <[EMAIL PROTECTED]>
To: Aa <[EMAIL PROTECTED]>; Ambi Borneo <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; yeyen Halimun <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; Usep 
Suhud <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: linda <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, July 17, 2007 9:49:46 AM
Subject: Fw: Mata Hati-Kompas


 
Dear all, 
scara NT akan bikin pameran foto, mungkin ini bisa dijadikan referensi, klo dah 
ada yg tau info ini, diabaikan saja. 
 
Tema fotonya : MATA HATI *singkat padat, menohok! hahahaaaa....maksud 
loeeeeeeee................???!!!*
 
 
Linda



Pameran Foto "Mata Hati"
Jejak Panjang Imaji Dua Dimensi 
Arbain Rambey
Adegan dalam foto buatan tahun 1987 ini sungguh memesona. Seorang tukang becak 
berusaha mempertahankan becaknya yang akan diangkut oleh dua petugas tramtib. 
Si tukang becak jelas pihak yang lemah. Siapa pun yakin bahwa adegan foto itu 
akan berakhir dengan diangkutnya becak untuk dimusnahkan. 
Simpati kita mudah jatuh kepada si tukang becak. Adegan itu adalah adegan hidup 
dan mati. Si tukang becak mempertahankan alat yang memberinya nafkah 
sehari-hari. 
Di sisi lain dua petugas tramtib itu juga punya sisi benar karena mereka 
menegakkan peraturan untuk menertibkan kota Jakarta. 
Foto becak yang meraih Penghargaan Adinegoro untuk Kategori Foto Jurnalistik 
tahun 1988 tadi adalah satu dari sekitar 300 foto yang dimuat dalam buku foto 
Mata Hati 1965-2007, yaitu kumpulan foto terbaik harian Kompas dari era 1965 
sampai 2007. Buku ini akan diluncurkan Senin (16/7) malam ini di Bentara Budaya 
Jakarta. 
Selain itu, peluncuran buku ini juga disertai pameran dengan foto-foto sama 
yang berlangsung sampai tanggal 23 Juli. 
Apa hebatnya foto? 
Mari kita kembali ke foto becak tadi. Anda mungkin heran kalau foto itu 
ternyata bukan dibuat oleh fotografer Kompas, melainkan oleh seorang reporter 
wanita. Reporter itu, Evie Fadjari, hanya dengan kamera saku, bahkan dari balik 
setir mobilnya yang terkena kemacetan, berhasil merekam sebuah "adegan" yang 
akan lama terekam dalam benak orang yang melihat foto itu. Satu generasi lagi 
pun mungkin orang sudah tidak tahu becak itu seperti apa. Foto Evie tersebut 
dengan sederhana telah merekam sebuah sejarah kehidupan Jakarta. 
Masih banyak foto terbaik Kompas yang lahir dari reporter, seperti foto 
peledakan Candi Borobudur tahun 1985 karya Djoko Poernomo atau foto sastrawan 
Pramudya Ananta Toer mengetik di Pulau Buru karya Sindhunata tahun 1977 (foto 
ini tak mungkin dimuat pada era Orde Baru). 
Satu kesimpulan langsung bisa kita ambil. Ternyata foto hebat bisa lahir dari 
siapa pun. Foto bagus tidak harus lahir dari orang yang memang profesinya 
fotografer. 
Inilah uniknya dunia foto jurnalistik. Seorang fotografer Kompas dituntut untuk 
punya kemampuan fotografi tinggi, lalu dididik lagi sampai sekitar setahun 
dalam fotografi sebelum boleh berkarya. Padahal, hasil kerjanya akan dinikmati 
oleh orang awam yang mungkin sama sekali tidak mengerti fotografi. 
Alinea terakhir tadi juga melahirkan pertanyaan klasik, "Apa definisi foto yang 
bagus itu?" 
Pemilihan foto 
Demikianlah, fotografi memang bukan matematika yang ada rumusnya. Maka, kalau 
pilihan foto-foto yang dianggap terbaik dari Kompas ini ada yang dianggap tidak 
baik, wajarlah itu. 
Memilih foto yang baik identik dengan membeli baju. Anda akan dengan mudah 
membeli baju bagus kalau punya uang banyak. Namun, apakah Anda bisa membuat 
definisi baju bagus? Apakah Anda berpatokan pada definisi itu saat membeli 
baju? 
Fotografer Kompas Julian Sihombing jelas telah bekerja keras memilih sekitar 
300 foto yang bisa dianggap terbaik dalam era 1965-2007. Julian dipercaya 
menjadi penentu tunggal karena dia dianggap paling tahu jejak panjang "selera 
Kompas" serta agar proses pemilihan bisa efisien. Anda bisa membayangkan betapa 
rumitnya kalau untuk membeli sebuah baju, ada lima orang yang boleh menentukan 
pilihan. 
Kerja Julian memang sangat keras. Ada ratusan ribu foto dokumentasi harian 
Kompas sejak harian ini berdiri tahun 1965. Dari ratusan ribu foto tersebut, 
banyak yang masih berupa negatif yang baunya sangat asam dan ada pula yang 
berupa cetakan nyaris rusak. 
Patokan pertama untuk mendapatkan pilihan foto terbaik adalah foto-foto yang 
meraih penghargaan. Selain Penghargaan Adinegoro, Mata Hati juga memuat foto 
yang meraih Penghargaan World Press Photo 1979, yaitu foto pesut Mahakam sedang 
melahirkan karya almarhum Kartono Ryadi. 
Kemudian, pilihan kedua untuk mendapatkan materi foto terbaik adalah dari 
foto-foto yang pernah menghiasi halaman satu Kompas, atau istilahnya menjadi 
foto HL. 
Foto Susi Susanti menangis saat menyanyikan Indonesia Raya di Olimpiade 
Barcelona 1992 adalah salah satu yang utama. Sekadar informasi, foto Susi ini 
dimuat nyaris satu halaman penuh di halaman satu Kompas saat itu. 
Namun, ternyata dua patokan itu juga belum membuat lancar pemilihan. Foto-foto 
era sebelum tahun 1970 sering sudah sulit ditemukan lagi. Pada awal berdirinya 
Kompas, dokumentasi foto masih sangat sederhana dan belum memikirkan hal-hal 
beberapa tahun ke depan. 
Selain itu, pada era percetakan sebelum digital, foto masuk ke surat kabar dari 
cetakan positif. Cetakan positif ini pula yang disimpan dokumentasi Kompas, 
sementara negatif fotonya ada yang disimpan sendiri oleh fotografernya. 
Saat dibutuhkan untuk pameran, ada fotografer yang sudah meninggal atau ada 
yang sudah lupa di mana menaruh negatif fotonya. 
Buku Mata Hati tidak semata memuat foto yang pernah dimuat di Kompas. Banyak 
foto yang karena keterbatasan halaman lalu tidak jadi dimuat walau secara umum 
bagus. 
Buku dan pameran foto "Mata Hati" juga memberi tempat pada foto-foto yang oleh 
editor dianggap punya kecerdasan dalam merekam sesuatu. 
Tidak kronologis 
Mata Hati memang tidak berpretensi untuk merekam sejarah walau kenyataannya 
banyak sejarah Indonesia terekam di situ, dari G30S, peristiwa Malari 1974, 
Reformasi 1998, tsunami Aceh 2004, sampai dengan aneka pemilu. Oleh Trinid 
Kalangi, perancang visualnya, foto-foto disusun bukan berdasarkan waktu ataupun 
urutan peristiwa, tetapi berdasarkan "nada" foto itu. 
Memang masuk akal pilihan ini karena kalau foto-foto disusun secara kronologis, 
yang terjadi adalah halaman-halaman awal berisi foto hitam putih, lalu 
halaman-halaman akhir foto berwarna. Pilihan kronologis juga tidak diambil 
karena realitas ini: dari tahun 1998 sampai 2004 Indonesia sangat muram penuh 
bencana dan kerusuhan. 
Sebuah kerja memang harus ada titik akhirnya. Perasaan tidak puas bisa saja 
muncul, terutama pada fotografer-fotografer yang fotonya tidak terpilih, atau 
ditolak. Akan tetapi, sesuai dengan kesepakatan bersama, pilihan editor tidak 
boleh diganggu gugat.


       
____________________________________________________________________________________
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 
http://mobile.yahoo.com/go?refer=1GNXIC
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
NATURE TREKKER INDONESIA EVENT
==============================
- Bazaar
- Travel Photography Workshop
- Photo Exhibiton
- Entertainment

Come and joint with us..

Organized by : 
nature trekker indonesia 
[www.nature-trekker-indonesia]

~ Indonesia is beautiful city..(eh..country) ~

*
Bagi yang belum terima file dokumen event, bisa diakses di :
http://groups.google.com/group/nattrek-event/files?hl=en
<html>
<body>
<img 
src="http://www.nature-trekker-indonesia.com/images/banners/banner_nti.jpg"; 
align=center>
</body>
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke