Akibat Berbuat Baik
*******************
Aku tinggal di salah satu kota di Canada, kira-kira sudah hampir 6tahun. Aku
tinggal sendiri di salah satu gedung apartemen dekat downtown area. Kamarnya
satu, ada ruang tamu, kitchen, balcon buat smoking,murah juga. Kadang
teman-teman menginap, meminjam komputer, karena milikku pentium ii, dan semua
software, games etc aku punya. Jadi mereka betah nginep di sofa, atau bawa
sleeping bed. Also, aku punya 50 inch TV, DVD player, Video, games dan
lain-lain, jadi tempat ini siip. Aku
bukan orang yang berada banget,semua itu hadiah dari saudara-saudara yang ikut
bahagia karena aku bisa sekolah disini. So, syukurlah.
Mungkin karena apartemen dan barang-barang electronic di rumahku, aku dikagumi
wanita-wanita orang putih di sini. Dikira aku loaded banget, alias rich boy.
Jadi banyak yang tidak nolak kalau aku ajak jalan.Bukannya mau show-off, but
aku bisa mendapatkan perempuan yang aku maukapan saja, tapi aku nggak mau
perempuan yang mencintaiku karana harta kekayaanku.
Soal pacaran, aku tidak pernah punya berlangsung lama, karena aku salah gaul.
Tiap-tiap wanita yang aku pacarin, semuanya mata duitan. Kalau tidak dibeliin
barang ini, atau itu, marah deh, terus mau putus. Jadi sudah kira-kira 2 tahun
aku tidak ada gandengan.
Terus satu hari, aku menang lotre $300. Aku pergi ngambil duitnya dari salah
satu gedung lotre tersebut dan jalan menuju pulang. Waktu itu lagi agak dingin,
salju lagi turun sedikit-sedikit. Terus, waktu lagi jalan, tiba-tiba ada suara
?Excuse me, spare some change?? Aku lihat ke arah kiri, ada dua gadis lagi
duduk di lantai depan Starbucks Cafe sambil tangannya di ulurkan ke arahku.
Yang satu lagi hanya duduk merangkul kakinya.
?Duh kasihan banget? pikirku. Aku berhenti, meraba kantong celanaku, dan aku
keluarkan 2 helai $5.
?Ini, silakan?, aku bilang..
?Terima kasih Mas,? kata gadis yang memegang uang.
?Terima kasih kembali? kataku lagi, sambil jalan pergi. Memang benar, setelah
aku memberi uang tersebut, ada rasa yang hangat dalam hati. Sesampai di
apartemen, aku cari sleeping bag bekas dan beberapa baju tebel. Tapi saya lupa
kalau semuanya sudah kusumbang ke Salvation Army beberapa minggu yang lalu.
Terus aku pikir, hmm, sudah mau natalan, teman-teman pada pulang ke Indonesia,
aku nggak ada teman main?, gimana kalau aku undang saja tu cewek.
Lalu aku pergi ke tempat kedua gadis itu. Tapi mereka sudah nggak ada lagi. Aku
lihat kiri dan kanan dan ternyata kedua gadis itu ada di depan McDonald?s,
sambil megang kantong buat memesan makanan. Aku tunggu mereka di deket
Starbucks Cafe, dan sewaktu mereka melihatku lagi, si gadis yang aku kasih uang
tadi senyum padaku dan bilang ?Hi, lagi ngapain Mas?, Traktir kita dong??
sambil tertawa.
Aku senyum saja ?Oke, Nich beli aja?. Si cewek yang aku kasih duitnya, namanya
Lily dan cewek yang satunya lagi ternyata adiknya, bernama Lianne. Lily berumur
17 dan Lianne berumur 14. Mereka datang dari kota lain dengan cara hitchhike.
Aku jongkok dengan mereka, ngobrol-ngobrol sebentar, sambil nebeng makan
kentang gorengnya yang di tawari Lianne.
Kurang lebih setengah jam kemudian, entah kemasukan apa, aku ajak mereka ke
apartemenku untuk menginap. Mereka kaget. Pertamanya sih pada nggak mau, tapi
abis aku yakinkan, bahwa aku tinggal sendirian, tidak ada teman dan bla bla
bla, mereka akhirnya mau juga.
Sesampai di apartemenku, mereka ber wah.., wah.., wah. Aku dimintai handuk buat
mandi. Ternyata mereka nggak pakai baju tebal-tebal banget. Si Lily cuma
memakai t-shirt Marilyn Manson, sweater gap yang kotor dan jaket kulit, dan
Lianne memakai lebih tebal, mungkin karena diberi sama Lily.
Dua-duanya memang cakep sih, kulitnya putih banget (habis orang putih sih),
nggak tinggi banget, kira-kira 160 cm. Lily berambut pirang kotor
(dirty-blonde) sebahu, dan Lianne berambut pirang terang, seleher lebih dikit,
agak berombak. Aku beri 2 pasang t-shirtku dan beberapa celana pendek milik
bekas pacarku. Mereka masuk ke kamar mandi bersama dan dan aku cuek-cuek saja,
habis adik-kakak. Aku siapkan hot chocolate dan cookies.
Sehabis mereka keluar dari kamar mandi, waduh, cantiknya mereka berdua minus
make-up tebal, ikat rambut, dan garis-garis hitam di muka. Seperti mimpi degh.
Belum pernah aku melihat kecantikan semacam itu. Mungkin di majalah, dan film,
tapi mereka ada didepanku. Lily memakai t-shirt GAP-ku yang berwarna putih,
tanpa bra, karna aku bisa melihat putingnya yang pink dengan jelas. Lianne
memakai t-shirt Planet Hollywoodku yang berwarna putih juga dan without bra.
Setelah itu kita ngobrol-ngobrol sambil minum hot choco. Lianne orangnya
pendiam, tapi senyum terus. Kalau Lily agak energetic dan bawel. Sewaktu kita
ngobrol-ngobrol, si Lianne berdiri dan berjalan menuju kulkas. ?Mau Minum
Champagne?? tanyanya.
?Boleh?, kataku, ?Tapi.., kamu kan masih anak-anak? kataku sambil tertawa
karena aku pikir si Lianne cuma bercanda.
Dia buka botol champagne tersebut dan meminumnya sedikit, lalu dia bawa buat
kakaknya, Lily. ?Gile, dikirain becanda? pikirku.
Beberapa jam kemudian, ruang tamuku berasa agak panas, soalnya heaternya rusak.
Aku meminta izin untuk tidur, tapi dipaksa temenin ngobrol. Aku suruh nonton TV
saja, tapi mereka tidak mau. Kelihatannya sih dua-duanyajuga sudah agak mabuk,
soalnya pipi mereka merah banget, dan ngomongnya sedikit ngacau.
Terus aku suruh mereka tidur di kamarku yang queen-sized bed, dan aku tidur di
sofa. Mereka menarikku untuk tidur dengan mereka. Waduh, rezeki, pikirku.
Aku ikut saja, tiba-tiba mabuk dan puyengku hilang! hehehehe, mungkin karena
pikiran kotor dan feeling bahwa aku akan score dengan mereka berdua.
Kita tiduran di ranjangku, terus aku memeluk Lily karena dia lebih deket dengan
tanganku. Aku menciumnya dan dibalas juga ciumanku. Tanganku bekerja dari
rambutnya, leher, sampai payudaranya yang lumayan besar buat anak 17 tahun.
Kulepas T-shirtnya dengan cepat karna sudah napsu banget Lama tidak dapat!
Kusedot-sedot dengan kencang puting susunya, dan Lily merintih rintih Aku
melirik ke arah Lianne, ternyata dia berbaring sambil nontonin kita. Aku cuek
saja dan nerusin plorotin celana dan celana dalam Lily. Bulu kemaluannyamasih
jarang-jarang dan berwarna pirang juga. Hmm.., lezat?, sudah lama nggak dapat
nih, pikirku sambil memainkan lidahku di liang kenikmatannya yang sudah merah.
Kumainkan lidahku di clitorisnya dengan cepat, dan lily merintih rintih.
Rintihannya semakin membuatku buas. Aku keluarkan teknik cunnilingus yang
diajari teman jepangku, ?teknik meminum air?. Lily meraung raung seperti orang
kesetanan, tangannya menjambak rambutku dan pinggangnya naik turun. Setelah dia
beberapa kali orgasme, aku cium seluruh tubuhnya sampai bibirnya. Terus dia
berkata ?do my sister?
Aku melihat ke arah Lianne dan dia sudah telanjang dan bermain dengan
klitorisnya. Aku cium dan sedot payudaranya yang masih belum matang (maklum 14
tahun), dengan putingnya yang pink. Lianne menggigit bibir bawahnya, menahan
rasa ekstasi. Pelan-pelan kucium seluruh tubuhnya sampai ke arah liang
kewanitaannya. Wah, merah dan rapet banget! Rezeki besar. Kumainkan lidahku di
liang kewanitaannya, bermain di clitorisnya. Lianne merintih-rintih. Aku
keluarkan tehnik meminum airku sampai lianne orgasme dua kali juga..
Kemudian aku berbaring dan kakak-adik itu menciumi seluruh tubuhku. Aduh, aku
merasa duniaku akan hancur, saking enaknya. Sampai mereka lepas celana boxerku
dan bermain dengan penis dan bolaku. penisku nggak besar-besar banget sih,
normal buat orang bule! he.., he.., he.., he.., kira-kira 7 inchi, tebal dan
berurat. Mereka berdua berebut penisku, dan akhirnya aku menarik Lianne buat
duduk di mukaku. Lianne membuka kakinya dimukaku dan aku bagai disurga! setelah
Lianne orgasme lagi, aku tidurkan dia di sampingku, dan aku suruh Lily untuk
naik menunggangiku. Dengan pelan-pelan, Lily naik memasukkan penisku ke liang
kenikmatannya dengan susah.
Setelah kusuruh dia membasahi penisku dengan ludahnya, akhirnya amblas juga
penisku. Setelah masuk penisku semuanya, pelan-pelan aku naik turun dan
bergerak memutar, sambil memijat-mijat payudara Lily yang tegak dan kenyal. Aku
pelukLily sambil menghunjam penisku dengan cepat. Lily berteriak teriak
keenakan sambil cursing. Kusuruh dia berbalik, punggungnya menghadap dadaku. My
favorite position. Aku naik turun dengan cepat juga sambil aku menyuruh Lily
untuk menggoyangkan pinggulnya sambil memijit-mijit payudaranya. Entah berapa
kali akumerasakan sesuatu yang hangat di penisku dan Lily berteriak, ?Aahh?
fuck? shit!
Saya rasa dia orgasme sampai 3 kali! Aku jilat cairan kewanitaannya sampai
bersih, terus pindah ke Lianne. Aku jilat dan basahi lagi liang kewanitaannya
yang masih merah dan berdenyut-denyut. Aku coba untuk memasukkan penisku tapi
liang senggama Lianne masih kecil banget. Aku naik ke mulut Lianne dan menyuruh
buat mengisap dan membasahi penisku. Dengan mata tertutup setengah sadar, dia
melakukannya. Setelah cukup basah, aku coba lagi. Sempit banget! tapi senti
demi senti masuk semuanya juga Lianne meraung-raung kesakitan. Aku goyang
pelan-pelan, sambil menyedot puting susunya yang masih pink dan muda banget,
missionary style.
Terus aku menyuruhnya berbalik, doggie style, tanpa melepas penisku dari liang
kewanitaannya. Aku dorong-dorong, memutar, naik turun seperti rodeo, sambil
memeluk tubuh Lianne yang meronta-ronta seperti ikan kehabisan air aku cium
rambutnya, menggigit gigit pelan bahunya dan memainkan jari-jariku di
kelentitnya.
Sekitar 20 menit kemudian, setelah beberapa gaya dan setelah Lianne orgasme
untuk ke entah berapa kalinya, aku keluar juga. Aku tiduri mereka berdua side
by side dan memuncratkan spermaku ke muka mereka. Sehabis itu kita tidur, tapi
aku belum puas juga dengan Lianne yang liang kenikmatannya sangat rapat. Dengan
posisi 69 aku bermain dengan liang surganya, entah sampai berapa lama.
Besoknya, di meja makan, kita ketawa-tawa dan bercanda-canda. Tapi malamnya,
mereka bercerita apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Ternyata mereka di
perkosa oleh pacar ibu mereka, dan mereka lari dari rumah. Selama 5 hari penuh
berpesta seks, aku akhirnya menyuruh mereka untuk telepon pulang. Setelah lama
aku bujuk, akhirnya mereka telepon pulang. Ibu mereka khawatir sekali dan ingin
mereka pulang segera. Pacar ibunya sudah di tangkap oleh yang berwenang.
Aku beri $100 buat Lily dan Lianne, untuk uang saku dan ongkos naik bus.
Setelah itu, aku antar ke Bus Station, dan mereka said bye-bye dengan ciuman
mesra di pipi kiri dan kanan.
Tamat
=======================
Still From www.17tahun.com
Keep Smile n Play Safe