17tahun.com nya sudah tidak ada lagi ya?

2009/2/11 Moderator Ceria <[email protected]>

>    Kolong
>
> *******
>
> Setelah lulus SMA, saya ingin merantau kuliah di Jawa. Oleh karena itu
> Surabaya yang menjadi tujuan, karena saya masih punya keluarga dari ibu di
> sana. Paling tidak mbah saya dari ibu masih lengkap dan tante-tante (bulik)
> dari ibu juga banyak di sana.
>
> Mungkin saya cucu kesayangan, sehingga kedatangan saya disambut gembira
> oleh kedua mbah dan tante-tante. Rumahnya tidak terlalu besar, tetapi
> memiliki halaman lumayan. Kalau tidak salah yang ukurannya sekitar 500 m2.
> Selama mencari perguruan tinggi yang cocok, saya menginap di rumah mbah.
> Kelak jika sudah diterima di Perguruan Tinggi, saya berencana kost.
>
> Saya tidur sekamar dengan mbah. Berhubung kamarnya hanya cukup dimuat oleh
> sebuah tempat tidur ukuran besar, saya diajak oleh tante saya tidur di
> kolong tempat tidur mbah. Rupanya dia memang biasa tidur di situ dengan
> gelaran kasur tipis. Bagi saya malah enak tidur di kolong begitu, selain
> rada sensansi karena gelap, juga leluasa karena ternyata tempatnya cukup
> luas.
>
> Satu, dua, tiga malam saya tidur biasa-biasa saja. Meskipun di sebelah saya
> tidur tante saya yang belum kawin dan beda usia kami sekitar 7 tahun. Dia
> adalah adik ibu saya yang terkecil. Dia memang anak bungsu. Saya tidak
> berminat sama tente saya ini, karena selain segan tentunya dia bukan tipe
> saya. Orangnya agak hitam, susunya tidak terlalu besar. Meski dia sudah
> bekerja, tetapi cara berpakaiannya sederhana dan jauh dari sebutan sexy.
>
> Jadinya saya walau tidur berdua dan bergelap-gelapan, tidak ada perasaan
> apa-apa. Sampai satu malam saya terbangun karena rasanya gerah. Pelan-pelan
> saya buka mata saya untuk mengenali situasi. Ternyata saya dijadikan guling
> oleh tante saya. Meski gerah, berat, dikeloni oleh wanita dewasa begini,
> tentunya pelan-pelan ya saya tidak dapat netral lagi.
>
> Sedapat mungkin saya menetralkan emosi. Namun, semampu-mampunya mengontrol
> emosi, ada juga yang tidak mau dikontrol. Tapi, saya tetap bersikap diam.
> Untungnya adik kecil ini tidak tertindih kaki tante saya, sehingga saya
> masih dapat berdiam. Waktu itu saya berpikir berkali-kali, menimbang
> berulang-ulang. Apakah ini kesengajaan atau tidak sengaja. Jika salah
> mengantisipasi, saya bisa berabe. Oleh karena itu lebih baik dianggap kurang
> mampu menanggapi peluang dari pada dianggap kurang ajar (gengsi kali ya).
>
> Malam itu saya akhirnya tertidur sambil menahan beban, dan seingat saya
> paginya dia tidak lagi merangkul saya. Kami tidak berubah, dan dia bersikap
> seperti sebelumnya, meskipun pada mulanya saya rada rikuh juga menghadapi
> tante saya ini. Malam kedua saya agak lama tertidur, tante di sebelah
> nampaknya sudah lebih dulu lelap. Kini dia ulangi lagi memeluk saya.
> Celakanya adik kecil saya tertindih pahanya. Saraf motoriknya langsung
> bekerja untuk memuai, saya tidak kuasa mencegahnya. Kali ini pun saya tidak
> berani bereaksi. Saya nikmati saja seolah-olah saya keponakan tersayang
> tidurnya dikeloni. Ya apa boleh buat, sama sekali saya tidak berani
> membayangkan mencumbui tante saya ini, jadi ya saya pasrah jadi orang bego.
>
> Setelah kejadian dua malam itu, saya jadi merindukan segera tidur lagi.
> Malam ketiga kami masuk ke bawah kolong bersama-sama setelah keadaan kamar
> mbah gelap. Dia senyum yang saya tidak tahu artinya, dan terpaksa saya balas
> juga senyumnya sekedar menghormati. Seperti biasa, saya memang lebih sering
> tidur telentang, dan biasanya sampai pagi tetap begitu. Tante langsung
> memeluk saya, padahal dia belum tidur. Komputer di kepala langsung
> menganalisa, ooo.., ternyata selama ini ada unsur kesengajaan. Tapi
> kesengajaan dalam rangka apa, susah pula ditebak.
>
> Kalau dalam keadaan sadar begini saya tetap diam, saya khawatir dianggap
> tidak normal, atau paling tidak demi penghormatan saya harus merespon.
> Jadilah saya membalas ikut merangkulnya. Ada celakanya, karena tangan saya
> sebelah kiri tertindih badannya, dan posisinya kira-kira menyentuh bagian
> selangkangan tante saya. Wah posisi susah ini, mau digeser jalannya buntu,
> tidak digeser, nyaris menyentuh vaginanya.
>
> Kesemutan deh tangan ini akhirnya, karena saya tidak berani menggerakkan
> tangan itu. Kami saling berhadapan, dan ternyata mulut saya tidur lebih
> rendah, sehingga kening saya tepat di depan mulutnya. Saya merangkul tanpa
> mengeluarkan kata-kata, dan tanpa gerakan apa pun. Eh lha kok dia nyium
> kening saya, dan makin mengeratkan rangkulan. Saya jadi terjebak harus
> mencium lehernya. Untung tadi sebelum tidur saya sempat berbalur baby
> cologne, jadi bau badan saya mungkin seperti bayi. Saya pun mengendus bau
> bedak yang segar dari tubuh tante.
>
> Ciuman tante kok kayaknya bukan ciuman seperti dari ibu ke anaknya, tapi
> ada rasa lain. Sebabnya dia bertubi-tubi menciumi saya di sekitar kening,
> lalu pelan-pelan ke mata, ke hidung, ke pipi. Saya berkesimpulan tante saya
> ini mulai bernafsu, dan keputusan saya hanya menikmati serangannya dan
> berusaha tetap pasif namun kooperatif.
>
> Pelan-pelan saya dongakkan kepala, sehingga ia berhasil mencapai bibir
> saya. Kini dia tidak lagi sekedar merangkul tetapi mulai agak menindih dan
> dengan ganasnya menyedot mulut saya, dan memainkan lidahnya ke dalam mulut
> saya. Saya merespon seadanya, sebagai tanda saya menghormati inisiatifnya.
> Untungnya kamar mbah saya ini di bagian depan rumah, jadi dekat dengan
> jalan, sehingga suara-suara lalu lintas di jalan membuat kamar ini tidak
> hening. Jadi jika pun ada suara-suara yang keluar dari cumbuan kami, hampir
> pasti tidak terdengar ke atas.
>
> Saya baru sadar jika payudara yang menempel di dada saya ini tidak dilapis
> BH. Dan untungnya dia mengenakan daster dengan kancing di depan dan
> belahan dadanya agar rendah. Tante saya ini aktif sekali, dia buka
> pelan-pelan kancing piyama saya dan dia ciumi dada dan puting susu saya.
> Aduh gelinya dan rangsangannya sulit saya pendam lagi.
>
> Tiba-tiba ditariknya kepala saya ke bagian dadanya, dan sepertinya dia
> menyuruh saya menciumi bagian dadanya. Dia pun membuka satu persatu kancing
> di dadanya. Ya ampun, payudaranya kenyal sekali. Putingnya yang masih kecil
> saya jilati dan sedot bergantian kiri dan kanan. Dia seperti kepedasan, tapi
> mendesisnya berbeda.
>
> Tangannya perlahan-lahan merambat ke selangkangan saya. Dia meraba adik
> saya dari bagian luar celana yang rasanya sudah mau meledak.
> Dikucel-kucelnya celana saya dengan gerakan hiperaktif. Saya jadi pecah
> konsentrasi menciumi payudaranya, sehingga akhirnya saya posisikan diri
> telentang. Dengan demikian tanggannya lebih leluasa meraba anu saya dari
> luar. Dia tidak puas pelan-pelan mencari celah untuk memasukkan tanggannya
> ke dalam celana saya. Digenggamnya rudal saya, dan dikocok-kocok. Saya
> menjadi sangat terangsang. Tetapi saya berhasil mengendalikan diri agar
> tidak cepat muncrat.
>
> Dilucutinya celana saya sehingga rudal tegak bebas siap diluncurkan.
> Sementara itu tangannya membimbing tangan saya mengarahkan ke vaginanya.
> Saya turuti tanpa perxxxxxxxxxanan, dan segera mencari segitiga emasnya.
> Saya raba dari bagian luar dasternya, dan pelan-pelan saya tarik dasternya
> ke atas sehingga tangan saya dapat menyentuh CD-nya. Celananya terasa agak
> lembab terutama di bagian bawah. Tangan saya berusaha mencari jalan ke dalam
> celana dalamnya dan mendapati gundukan dengan bulu tipis dan belahan yang
> basah.
>
> Segera saya cari klitorisnya. Dia lalu tidur telentang sambil berusaha
> melepas CD-nya sendiri. Setelah tanpa CD dia memberi keleluasaan tangan saya
> mengucek-ucek klitroisnya. Dalam hal mengucek, saya telah memiliki
> ketrampilan, sehingga gerakan saya sangat diresponnya dengan rangsangan yang
> semakin hebat dirasakannya. Dia kini tidak lagi mengocok-kocok rudal saya,
> sudah lupa kali.
>
> Tidak lama kemudian tangan saya dijepitnya dengan kedua paha dan tangannya
> menekan tangan saya ke kemaluannya. Saya berhenti mengucek-ucek. Vaginanya
> terasa berdenyut-denyut seperti denyutan kalau rudal saya memuntahkan
> pelurunya. Dalam keadaan orgasme itu saya segera menyergap mulutnya, dan
> saya sedot kuat-kuat. Dia sampai terengah-engah, dan saya kembali telentang
> sambil rudal tetap siaga di tempatnya. Saya pasrah saja tidak lagi mengambil
> inisiatif apa-apa.
>
> Sekitar 5 menit kemudian dimiringkan badannya menghadap saya. Dan saya pun
> ditariknya agar juga miring menghadap dirinya. Ditepatkan vaginanya ke rudal
> saya, dan kakinya sebelah naik ke badan saya. Rudal saya digesek-gesekkan ke
> vaginanya, dan sesekali dia usahakan dimasukkan ke dalam liang vaginanya.
> Tapi usaha memasukkan itu selalu gagal, karena sempitnya liang senggama itu.
> Saya pasrah saja. Habis kolong tempat tidur itu begitu rendah, sehingga
> tidak mungkin saya mengambil posisi menindihnya.
>
> Linu juga rasanya kepala rudal ini digosok-gosokkan ke arah klitorisnya,
> tetapi dia sangat menikmati sampai akhirnya dia kelojotan sendiri karena
> orgasme. Saya tetap pada posisi nanggung, sementara dia sudah 2 kali
> Orgasme. Apa boleh buat lah, tidak ada kesempatan dalam kesempitan.
> Tiba-tiba dia keluar dari kolong menuju kamar mandi. Barangkali mencuci
> kemaluannya karena sudah belepotan dengan cairannya sendiri.
>
> Tidak lama kemudian dia masuk kembali, dan segera menyusup ke bawah kolong.
> Tapi dia tidak langsung di sisi saya, posisinya nanggung, dan mulutnya dekat
> sekali ke rudal saya yang sudah kembali berada di balik celana, meski
> voltase-nya belum turun. Ditariknya celana saya pelan-pelan, dan segera
> disergap peluru kendali itu dengan sedotan yang sangat kuat. Rasanya seluruh
> saluran mani dan kencing bagai ditarik keluar, linu geli dan enaknya bukan
> main.
>
> Perlahan-lahan dan hati-hati dia memposisikan liang senggamanya menghadap
> ke mulut saya, dan dia tarik badan saya sampai pada posisi miring. Saya tahu
> maksudnya, agar saya menciumi kemaluannya. Dan astaga.., ketika saya buka
> dasternya ke atas, dia tidak lagi mengenakan CD dan vaginanya bau wangi
> sabun. Pelan-pelan saya julurkan lidah saya ke arah belahan kemaluannya, dan
> mencari klit-nya. Kepala saya dijepit diantara kedua pahanya, sehingga saya
> susah bergerak. Sementara rudal masih terus dilomoti dan disedot.
>
> Saya temukan klit-nya, dan perlahan-lahan saya jilati terus menerus dengan
> gerakan yang sedapat mungkin konstan. Dia semakin semangat menghisap rudal
> saya, saya pun makin tinggi, mungkin dia juga karena gerakannya makin tidak
> terkontrol. Saya menikmati gerakannya yang sedang terangsang, saya jadi
> makin terangsang dan siap meledak. Tidak lama berselang, saya pun meledak
> tetapi saya berusaha terus menjilati. Mendapati ledakan saya rupanya dia pun
> terpicu pada orgasme karena tiba-tiba kepala saya dijepit sekuat-kuatnya.
>
> Saya tidak tahu apakah mani saya ditelan atau tidak, karena saat mau
> meledak tadi saya tidak beri aba-aba, tetapi ketika meledak pun dia tidak
> melepaskan rudal saya. Sesaat tembakan terakhir saya, kepala rudal ini
> rasanya ngilu luar biasa sehingga saya menahan kepalanya agar tidak
> bergerak. Lemas rasanya badan saya seperti habis lari marathon 10 km. Saya
> tidur telentang dan rasanya dia mengelap mani saya yang tercecer dengan
> kain, yang mungkin sudah disiapkan.
>
> Hampir setiap malam kami melakukan seperti itu. Dan polanya selalu serupa.
> Sampai suatu malam kami menikmati yang lebih leluasa. Pasalnya mbah berdua
> menginap di salah satu rumah anaknya. Jadilah kami yang harus tidur berdua
> di tempat tidur mbah.
>
> Kami masuk ke kamar tidur seperti biasanya sekitar jam 10 malam. Pintu
> langsung dikunci dan kamar gelap gulita. Kami memulainya dengan cumbuan
> berat sampai akhirnya telanjang bulat berdua. Dia mengarahkan badan saya
> agar menindihnya dan kakinya dilebarkan dan ditekuk sehinga lubang vaginanya
> terbuka lebar. Pelan-pelan dituntunnya rudal saya ke arah lubang vaginanya
> yang telah siaga.
>
> Saya terus terang tidak tahu apakah dia perawan atau tidak, tetapi
> nyatanya memperjuangkan kepala rudal masuk ke lubang vaginanya susahnya
> bukan main. Setelah kepala rudal terbenam, pelan-pelan saya dorong tetapi
> masih sulit, meskipun dia sudah membuka selebar-lebarnya. Sambil saya
> tekan pelan, saya lebih tegangkan rudal saya sampai menjadi sangat kaku. Cara
> ini ternyata mampu menembus ke dalam gua lebih dalam. Tetapi tetap saja ada
> halangan. Dia agak merintih sambil berbisik, sakiitt. Saya tahan setengah
> jalan, mungkin baru sepertiga perjalanan. Lalu saya tekan sedikit sambil
> kembali menegangkan rudal, masuk lagi sedikit. Rasanya sudah setengah batang
> saya terbenam. Dia tahan lagi badan saya karena katanya sakit. Saya pun
> menahan, lalu menarik sedikit dan mendorong sedikit. Jadi untuk beberapa
> saat kami main setengah tiang. Dia mulai merasa nikmat dengan permainan
> setengah tiang itu, sementara saya merasakan nikmat yang tanggung.
>
> Sambil menarik dan mendorong, saya mencuri dorongan lebih banyak dan
> seperti gerakan piston, ternyata batang saya mulai lebih jauh terbenam.
> Meskipun begitu, masih ada seperempat bagian yang tersisa masih belum dapat
> masuk karena terhalang sakit. Saya kembali bermain tigaperempat tiang, dan
> pada satu kesempatan setelah gerakan itu licin, saya hunjam sampai seluruh
> batang saya tertanam. Merdeka, saya berhasil, meski dia mendesis rada
> kesakitan. Saya berhenti untuk memberi kesempatan agar rasa sakitnya
> berkurang. Pelan-pelan saya gerakkan maju mundur lagi. Kini dia tidak lagi
> merasakan sakit seperti semula. Tapi mungkin masih ada sakit meski sedikit.
> Saya lakukan gerakan pelan sambil mencari posisi yang tepat.
>
> Sampai pada posisi dimana dia memberi respon saya bertahan di posisi itu.
> Tidak lama kemudian dia mengunci badan saya dan saya rasakan vaginanya
> berdenyut, padahal saya juga sudah hampir dan sudah lari pada persneling 5.
> Kini terpaksa kembali ke posisi netral dan maju lagi perlahan-lahan dengan
> persneling satu, dua sampai lima saya pusatkan perhatian karena saya sudah
> hampir meledak. Saya tidak lagi dapat memikirkan apa-apa ketika rudal saya
> hampir meledak, dia malah kelojotan dan berdenyut-denyut vaginanya membuat
> ledakan saya bagaikan bom atom. Mungkin kami mencapai orgasme yang sama.
>
> Saya tidak lagi dapat menimbang harus ditembak di dalam atau di
> luar,pokoknya pada saat itu rasa enak sudah mengalahkan semua pertimbangan.
> Malam itu kami main sampai 3 kali. Celakanya atau untungnya mbah menambah
> hari menginapnya sehingga malam kedua kami mengadakan reli dan memecahkan
> rekor saya 9 kali ejakulasi, dia entah berapa kali, karena saya tidak mampu
> menghitung, apalagi permainan saya makin lama untuk ronde-ronde berikutnya.
> Pada ejakulasi yang kesembilan rasanya tinggal angin saja yang keluar dari
> peluru kendali ini.
>
> Seharian itu kemudian saya tidur kecapaian, selain membalas tidur malam
> yang terbengkalai, juga memulihkan tenaga yang musnah. Meskipun sudah
> demikian jauh kami berbuat, tetapi jika di hadapan saudara-saudara kami
> tidak berubah sikap, artinya saya tetap saja menganggap dia tante saya dan
> saya keponakannya. Tapi di balik itu kami punya cerita yang dahsyat. Setelah
> reli itu saya sampai sekarang tidak pernah mampu lagi mencapai 9 kali dalam
> semalam meskipun dengan wanita yang lain.
>
>
>
>
>
> Tamat
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> =======================
>
> Still From www.17tahun.com
>
>
> Keep Smile n Play Safe
>
>  
>

Kirim email ke