Kolong
*******
Setelah lulus SMA, saya ingin merantau kuliah di Jawa. Oleh karena itu Surabaya 
yang menjadi tujuan, karena saya masih punya keluarga dari ibu di sana. Paling 
tidak mbah saya dari ibu masih lengkap dan tante-tante (bulik) dari ibu juga 
banyak di sana.

Mungkin saya cucu kesayangan, sehingga kedatangan saya disambut gembira oleh 
kedua mbah dan tante-tante. Rumahnya tidak terlalu besar, tetapi memiliki 
halaman lumayan. Kalau tidak salah yang ukurannya sekitar 500 m2. Selama 
mencari perguruan tinggi yang cocok, saya menginap di rumah mbah. Kelak jika 
sudah diterima di Perguruan Tinggi, saya berencana kost.

Saya tidur sekamar dengan mbah. Berhubung kamarnya hanya cukup dimuat oleh 
sebuah tempat tidur ukuran besar, saya diajak oleh tante saya tidur di kolong 
tempat tidur mbah. Rupanya dia memang biasa tidur di situ dengan gelaran kasur 
tipis. Bagi saya malah enak tidur di kolong begitu, selain rada sensansi karena 
gelap, juga leluasa karena ternyata tempatnya cukup luas.

Satu, dua, tiga malam saya tidur biasa-biasa saja. Meskipun di sebelah saya 
tidur tante saya yang belum kawin dan beda usia kami sekitar 7 tahun. Dia 
adalah adik ibu saya yang terkecil. Dia memang anak bungsu. Saya tidak berminat 
sama tente saya ini, karena selain segan tentunya dia bukan tipe saya. Orangnya 
agak hitam, susunya tidak terlalu besar. Meski dia sudah bekerja, tetapi cara 
berpakaiannya sederhana dan jauh dari sebutan sexy.

Jadinya saya walau tidur berdua dan bergelap-gelapan, tidak ada perasaan 
apa-apa. Sampai satu malam saya terbangun karena rasanya gerah. Pelan-pelan 
saya buka mata saya untuk mengenali situasi. Ternyata saya dijadikan guling 
oleh tante saya. Meski gerah, berat, dikeloni oleh wanita dewasa begini, 
tentunya pelan-pelan ya saya tidak dapat netral lagi.

Sedapat mungkin saya menetralkan emosi. Namun, semampu-mampunya mengontrol 
emosi, ada juga yang tidak mau dikontrol. Tapi, saya tetap bersikap diam. 
Untungnya adik kecil ini tidak tertindih kaki tante saya, sehingga saya masih 
dapat berdiam. Waktu itu saya berpikir berkali-kali, menimbang berulang-ulang. 
Apakah ini kesengajaan atau tidak sengaja. Jika salah mengantisipasi, saya bisa 
berabe. Oleh karena itu lebih baik dianggap kurang mampu menanggapi peluang 
dari pada dianggap kurang ajar (gengsi kali ya)..

Malam itu saya akhirnya tertidur sambil menahan beban, dan seingat saya paginya 
dia tidak lagi merangkul saya. Kami tidak berubah, dan dia bersikap seperti 
sebelumnya, meskipun pada mulanya saya rada rikuh juga menghadapi tante saya 
ini. Malam kedua saya agak lama tertidur, tante di sebelah nampaknya sudah 
lebih dulu lelap. Kini dia ulangi lagi memeluk saya. Celakanya adik kecil saya 
tertindih pahanya. Saraf motoriknya langsung bekerja untuk memuai, saya tidak 
kuasa mencegahnya. Kali ini pun saya tidak berani bereaksi. Saya nikmati saja 
seolah-olah saya keponakan tersayang tidurnya dikeloni. Ya apa boleh buat, sama 
sekali saya tidak berani membayangkan mencumbui tante saya ini, jadi ya saya 
pasrah jadi orang bego.

Setelah kejadian dua malam itu, saya jadi merindukan segera tidur lagi. Malam 
ketiga kami masuk ke bawah kolong bersama-sama setelah keadaan kamar mbah 
gelap. Dia senyum yang saya tidak tahu artinya, dan terpaksa saya balas juga 
senyumnya sekedar menghormati. Seperti biasa, saya memang lebih sering tidur 
telentang, dan biasanya sampai pagi tetap begitu. Tante langsung memeluk saya, 
padahal dia belum tidur. Komputer di kepala langsung menganalisa, ooo.., 
ternyata selama ini ada unsur kesengajaan. Tapi kesengajaan dalam rangka apa, 
susah pula ditebak.

Kalau dalam keadaan sadar begini saya tetap diam, saya khawatir dianggap tidak 
normal, atau paling tidak demi penghormatan saya harus merespon. Jadilah saya 
membalas ikut merangkulnya. Ada celakanya, karena tangan saya sebelah kiri 
tertindih badannya, dan posisinya kira-kira menyentuh bagian selangkangan tante 
saya. Wah posisi susah ini, mau digeser jalannya buntu, tidak digeser, nyaris 
menyentuh vaginanya.

Kesemutan deh tangan ini akhirnya, karena saya tidak berani menggerakkan tangan 
itu. Kami saling berhadapan, dan ternyata mulut saya tidur lebih rendah, 
sehingga kening saya tepat di depan mulutnya. Saya merangkul tanpa mengeluarkan 
kata-kata, dan tanpa gerakan apa pun. Eh lha kok dia nyium kening saya, dan 
makin mengeratkan rangkulan. Saya jadi terjebak harus mencium lehernya. Untung 
tadi sebelum tidur saya sempat berbalur baby cologne, jadi bau badan saya 
mungkin seperti bayi. Saya pun mengendus bau bedak yang segar dari tubuh tante.

Ciuman tante kok kayaknya bukan ciuman seperti dari ibu ke anaknya, tapi ada 
rasa lain. Sebabnya dia bertubi-tubi menciumi saya di sekitar kening, lalu 
pelan-pelan ke mata, ke hidung, ke pipi. Saya berkesimpulan tante saya ini 
mulai bernafsu, dan keputusan saya hanya menikmati serangannya dan berusaha 
tetap pasif namun kooperatif.

Pelan-pelan saya dongakkan kepala, sehingga ia berhasil mencapai bibir saya. 
Kini dia tidak lagi sekedar merangkul tetapi mulai agak menindih dan dengan 
ganasnya menyedot mulut saya, dan memainkan lidahnya ke dalam mulut saya. Saya 
merespon seadanya, sebagai tanda saya menghormati inisiatifnya. Untungnya kamar 
mbah saya ini di bagian depan rumah, jadi dekat dengan jalan, sehingga 
suara-suara lalu lintas di jalan membuat kamar ini tidak hening. Jadi jika pun 
ada suara-suara yang keluar dari cumbuan kami, hampir pasti tidak terdengar ke 
atas.

Saya baru sadar jika payudara yang menempel di dada saya ini tidak dilapis BH. 
Dan untungnya dia mengenakan daster dengan kancing di depan dan belahan dadanya 
agar rendah. Tante saya ini aktif sekali, dia buka pelan-pelan kancing piyama 
saya dan dia ciumi dada dan puting susu saya. Aduh gelinya dan rangsangannya 
sulit saya pendam lagi.

Tiba-tiba ditariknya kepala saya ke bagian dadanya, dan sepertinya dia menyuruh 
saya menciumi bagian dadanya. Dia pun membuka satu persatu kancing di dadanya. 
Ya ampun, payudaranya kenyal sekali. Putingnya yang masih kecil saya jilati dan 
sedot bergantian kiri dan kanan. Dia seperti kepedasan, tapi mendesisnya 
berbeda.

Tangannya perlahan-lahan merambat ke selangkangan saya. Dia meraba adik saya 
dari bagian luar celana yang rasanya sudah mau meledak. Dikucel-kucelnya celana 
saya dengan gerakan hiperaktif. Saya jadi pecah konsentrasi menciumi 
payudaranya, sehingga akhirnya saya posisikan diri telentang. Dengan demikian 
tanggannya lebih leluasa meraba anu saya dari luar. Dia tidak puas pelan-pelan 
mencari celah untuk memasukkan tanggannya ke dalam celana saya. Digenggamnya 
rudal saya, dan dikocok-kocok. Saya menjadi sangat terangsang. Tetapi saya 
berhasil mengendalikan diri agar tidak cepat muncrat.

Dilucutinya celana saya sehingga rudal tegak bebas siap diluncurkan. Sementara 
itu tangannya membimbing tangan saya mengarahkan ke vaginanya. Saya turuti 
tanpa perxxxxxxxxxanan, dan segera mencari segitiga emasnya. Saya raba dari 
bagian luar dasternya, dan pelan-pelan saya tarik dasternya ke atas sehingga 
tangan saya dapat menyentuh CD-nya. Celananya terasa agak lembab terutama di 
bagian bawah. Tangan saya berusaha mencari jalan ke dalam celana dalamnya dan 
mendapati gundukan dengan bulu tipis dan belahan yang basah.

Segera saya cari klitorisnya. Dia lalu tidur telentang sambil berusaha melepas 
CD-nya sendiri. Setelah tanpa CD dia memberi keleluasaan tangan saya 
mengucek-ucek klitroisnya. Dalam hal mengucek, saya telah memiliki ketrampilan, 
sehingga gerakan saya sangat diresponnya dengan rangsangan yang semakin hebat 
dirasakannya. Dia kini tidak lagi mengocok-kocok rudal saya, sudah lupa kali.

Tidak lama kemudian tangan saya dijepitnya dengan kedua paha dan tangannya 
menekan tangan saya ke kemaluannya. Saya berhenti mengucek-ucek. Vaginanya 
terasa berdenyut-denyut seperti denyutan kalau rudal saya memuntahkan 
pelurunya. Dalam keadaan orgasme itu saya segera menyergap mulutnya, dan saya 
sedot kuat-kuat. Dia sampai terengah-engah, dan saya kembali telentang sambil 
rudal tetap siaga di tempatnya. Saya pasrah saja tidak lagi mengambil inisiatif 
apa-apa.

Sekitar 5 menit kemudian dimiringkan badannya menghadap saya. Dan saya pun 
ditariknya agar juga miring menghadap dirinya. Ditepatkan vaginanya ke rudal 
saya, dan kakinya sebelah naik ke badan saya. Rudal saya digesek-gesekkan ke 
vaginanya, dan sesekali dia usahakan dimasukkan ke dalam liang vaginanya. Tapi 
usaha memasukkan itu selalu gagal, karena sempitnya liang senggama itu. Saya 
pasrah saja. Habis kolong tempat tidur itu begitu rendah, sehingga tidak 
mungkin saya mengambil posisi menindihnya..

Linu juga rasanya kepala rudal ini digosok-gosokkan ke arah klitorisnya, tetapi 
dia sangat menikmati sampai akhirnya dia kelojotan sendiri karena orgasme. Saya 
tetap pada posisi nanggung, sementara dia sudah 2 kali Orgasme. Apa boleh buat 
lah, tidak ada kesempatan dalam kesempitan. Tiba-tiba dia keluar dari kolong 
menuju kamar mandi. Barangkali mencuci kemaluannya karena sudah belepotan 
dengan cairannya sendiri.

Tidak lama kemudian dia masuk kembali, dan segera menyusup ke bawah kolong. 
Tapi dia tidak langsung di sisi saya, posisinya nanggung, dan mulutnya dekat 
sekali ke rudal saya yang sudah kembali berada di balik celana, meski 
voltase-nya belum turun. Ditariknya celana saya pelan-pelan, dan segera 
disergap peluru kendali itu dengan sedotan yang sangat kuat. Rasanya seluruh 
saluran mani dan kencing bagai ditarik keluar, linu geli dan enaknya bukan main.

Perlahan-lahan dan hati-hati dia memposisikan liang senggamanya menghadap ke 
mulut saya, dan dia tarik badan saya sampai pada posisi miring. Saya tahu 
maksudnya, agar saya menciumi kemaluannya. Dan astaga.., ketika saya buka 
dasternya ke atas, dia tidak lagi mengenakan CD dan vaginanya bau wangi sabun. 
Pelan-pelan saya julurkan lidah saya ke arah belahan kemaluannya, dan mencari 
klit-nya. Kepala saya dijepit diantara kedua pahanya, sehingga saya susah 
bergerak.. Sementara rudal masih terus dilomoti dan disedot.

Saya temukan klit-nya, dan perlahan-lahan saya jilati terus menerus dengan 
gerakan yang sedapat mungkin konstan. Dia semakin semangat menghisap rudal 
saya, saya pun makin tinggi, mungkin dia juga karena gerakannya makin tidak 
terkontrol. Saya menikmati gerakannya yang sedang terangsang, saya jadi makin 
terangsang dan siap meledak. Tidak lama berselang, saya pun meledak tetapi saya 
berusaha terus menjilati. Mendapati ledakan saya rupanya dia pun terpicu pada 
orgasme karena tiba-tiba kepala saya dijepit sekuat-kuatnya.

Saya tidak tahu apakah mani saya ditelan atau tidak, karena saat mau meledak 
tadi saya tidak beri aba-aba, tetapi ketika meledak pun dia tidak melepaskan 
rudal saya. Sesaat tembakan terakhir saya, kepala rudal ini rasanya ngilu luar 
biasa sehingga saya menahan kepalanya agar tidak bergerak. Lemas rasanya badan 
saya seperti habis lari marathon 10 km. Saya tidur telentang dan rasanya dia 
mengelap mani saya yang tercecer dengan kain, yang mungkin sudah disiapkan.

Hampir setiap malam kami melakukan seperti itu. Dan polanya selalu serupa. 
Sampai suatu malam kami menikmati yang lebih leluasa. Pasalnya mbah berdua 
menginap di salah satu rumah anaknya. Jadilah kami yang harus tidur berdua di 
tempat tidur mbah.

Kami masuk ke kamar tidur seperti biasanya sekitar jam 10 malam. Pintu langsung 
dikunci dan kamar gelap gulita. Kami memulainya dengan cumbuan berat sampai 
akhirnya telanjang bulat berdua. Dia mengarahkan badan saya agar menindihnya 
dan kakinya dilebarkan dan ditekuk sehinga lubang vaginanya terbuka lebar. 
Pelan-pelan dituntunnya rudal saya ke arah lubang vaginanya yang telah siaga.

Saya terus terang tidak tahu apakah dia perawan atau tidak, tetapi
nyatanya memperjuangkan kepala rudal masuk ke lubang vaginanya susahnya bukan 
main. Setelah kepala rudal terbenam, pelan-pelan saya dorong tetapi masih 
sulit, meskipun dia sudah membuka selebar-lebarnya. Sambil saya tekan pelan, 
saya lebih tegangkan rudal saya sampai menjadi sangat kaku. Cara ini ternyata 
mampu menembus ke dalam gua lebih dalam. Tetapi tetap saja ada halangan. Dia 
agak merintih sambil berbisik, sakiitt. Saya tahan setengah jalan, mungkin baru 
sepertiga perjalanan. Lalu saya tekan sedikit sambil kembali menegangkan rudal, 
masuk lagi sedikit. Rasanya sudah setengah batang saya terbenam. Dia tahan lagi 
badan saya karena katanya sakit. Saya pun menahan, lalu menarik sedikit dan 
mendorong sedikit. Jadi untuk beberapa saat kami main setengah tiang. Dia mulai 
merasa nikmat dengan permainan setengah tiang itu, sementara saya merasakan 
nikmat yang tanggung.

Sambil menarik dan mendorong, saya mencuri dorongan lebih banyak dan seperti 
gerakan piston, ternyata batang saya mulai lebih jauh terbenam. Meskipun 
begitu, masih ada seperempat bagian yang tersisa masih belum dapat masuk karena 
terhalang sakit. Saya kembali bermain tigaperempat tiang, dan pada satu 
kesempatan setelah gerakan itu licin, saya hunjam sampai seluruh batang saya 
tertanam. Merdeka, saya berhasil, meski dia mendesis rada kesakitan. Saya 
berhenti untuk memberi kesempatan agar rasa sakitnya berkurang. Pelan-pelan 
saya gerakkan maju mundur lagi. Kini dia tidak lagi merasakan sakit seperti 
semula. Tapi mungkin masih ada sakit meski sedikit. Saya lakukan gerakan pelan 
sambil mencari posisi yang tepat.

Sampai pada posisi dimana dia memberi respon saya bertahan di posisi itu. Tidak 
lama kemudian dia mengunci badan saya dan saya rasakan vaginanya berdenyut, 
padahal saya juga sudah hampir dan sudah lari pada persneling 5. Kini terpaksa 
kembali ke posisi netral dan maju lagi perlahan-lahan dengan persneling satu, 
dua sampai lima saya pusatkan perhatian karena saya sudah hampir meledak. Saya 
tidak lagi dapat memikirkan apa-apa ketika rudal saya hampir meledak, dia malah 
kelojotan dan berdenyut-denyut vaginanya membuat ledakan saya bagaikan bom 
atom. Mungkin kami mencapai orgasme yang sama.

Saya tidak lagi dapat menimbang harus ditembak di dalam atau di luar,pokoknya 
pada saat itu rasa enak sudah mengalahkan semua pertimbangan. Malam itu kami 
main sampai 3 kali. Celakanya atau untungnya mbah menambah hari menginapnya 
sehingga malam kedua kami mengadakan reli dan memecahkan rekor saya 9 kali 
ejakulasi, dia entah berapa kali, karena saya tidak mampu menghitung, apalagi 
permainan saya makin lama untuk ronde-ronde berikutnya. Pada ejakulasi yang 
kesembilan rasanya tinggal angin saja yang keluar dari peluru kendali ini.

Seharian itu kemudian saya tidur kecapaian, selain membalas tidur malam yang 
terbengkalai, juga memulihkan tenaga yang musnah. Meskipun sudah demikian jauh 
kami berbuat, tetapi jika di hadapan saudara-saudara kami tidak berubah sikap, 
artinya saya tetap saja menganggap dia tante saya dan saya keponakannya. Tapi 
di balik itu kami punya cerita yang dahsyat. Setelah reli itu saya sampai 
sekarang tidak pernah mampu lagi mencapai 9 kali dalam semalam meskipun dengan 
wanita yang lain.
 
 
Tamat
 
 
 
 
=======================
Still From www.17tahun.com
 Keep Smile n Play Safe 


      

Kirim email ke