aya-aya wae...

 SalamJenglotym:little_devil234




________________________________
From: ar81fe mail <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, January 1, 2010 12:19:42 PM
Subject: [nonamanis] Ritual Pamer Payudara

  
 
Ritual Pamer Payudara  Umbul
Manding sumber air bersih yang ada di Desa Semanding, Keca.
Pucanglaban, Kab. Tulungagung, Jawa Tengah. Sejak dulu debit air di
tempat ini memang besar. Bahkan, saat kemarau panjang sekalipun, umbul
ini tak pernah kekurangan air. 
Karena debit airnya yang relatif besar dan bersih, maka sumber air ini
sejak dulu dimanfaatkan warga Desa Semanding dan sekitarnya. Terutama
untuk masak, mandi, mencuci, bahkan untuk mengairi sawah. Maklum saja,
Umbul Manding memang berada di daerah pegunungan yang amat sulit air.
Yang dapat dikatakan unik, tempat yang biasanya digunakan untuk mandi
sejak dulu sengaja dibiarkan terbuka. Tidak ditutupi apa-apa. Padahal,
yang mandi disitu tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan. Mereka
berbaur menjadi satu untuk mandi bersama.
Adakah rasa kikuk atau malu pada diri mereka? Mungkin karena sudah
menjadi kebiasaan, maka tidak ada yang merasa malu jika dilihat orang,
terutama lawan jenis. Bahkan kalau kaum perempuan sedang mandi mereka
sama sekali tidak perlu merasa repot menyembunyikan payudaranya.
Bahkan, ada kesan payudara itu sengaja dipamerkan.

Bagi warga pendatang yang belum terbiasa, kalau mandi di Umbul terpaksa
menutupi payudaranya. Salah satunya seperti dialami Darsini, seorang
guru SD yang ditugaskan mengajar di daerah itu.

Bu Darsini mengaku pada awalnya sangat malu kalau mandi di umbul.
Namun, karena tidak ada sumber air di desa tempatnya mengabdi selain
umbul itu, dia terpaksa mandi disitu juga. Karena masih malu, pada
awalnya kalau mandi terpaksa dia memakai baju. Lama-lama karena sudah
biasa bajunya dilepas, begitu juga BH-nya. Akhirnya, kalau mandi
telanjang dada.
“Tidak tahu kenapa, tapi mungkin karena kebiasaan, sekarang kalau mandi
saya ikut dengan warga. Semuanya pamer payudara,” kata Bu Darsini
sambil tersenyum. Walau didekatnya ada Pak Guru dia tidak merasa malu
lagi. “Biarin, dari pada dilihat orang lain, lebih baik dilihat teman
sendiri,” selorohnya.
Karena ritual mandi telanjang dada ini, maka siapa saja yang kebetulan
lewat bisa melihat dengan jelas payudara wanita-wanita desa setempat.
Dilihat
dari dekat, masyarakat Desa Semanding memang tergolong masih kolot.
Contohnya, warga di sana masih percaya dengan berbagai kepercayaan
kuno. Umpamanya, perawan sebelum datang bulan yang pertama, giginya
harus dipungur. Alasannya, kalau sudah datang bulan payudaranya supaya
cepat besar. Kalau sudah begitu, perawan tersebut biar cepat laku.
Karena masih percaya dengan adat dan kepercayaan tersebut, jumlah
wanita di sana yang tidak bisa menyelesaikan pendidikan dasar masih
sangat tinggi. Sebab walau masih SD kalau payudaranya sudah kelihatan
besar langsung ditikahkan. Umumnya orang tua disana merasa malu kalau
punya anak perawan yang payudaranya sudah kelihatan besar, tapi belum
menikah.
Anehnya lagi, bagi yang sudah tidak perawan, pulang mandi dari umbul selalu 
telanjang dada.
“Nanti kalau tidak telanjang dada malah dikira masih perawan. Padahal
anak saya sudah tiga,” kata Yu Sayem ketika minta keterangan oleh
Misteri.
Kenapa tempat mandi di Umbul Manding dibiarkan terbuka? Dan, kenapa juga kalau 
mandi kaum perempuan harus bertelanjang dada?
Rupanya hal ini berkaitan dengan sebuah legenda masyarakat Semanding.
Mereka percaya dengan kisah perawan desa yang bernama Srikunti.
Alkisah, beberapa puluh tahun silam, Srikunti ikut daftar jadi calon
PNS. Ternyata dia diterima. Bahkan kemudian bunga desa ini menjadi guru
di SD Semanding.
Walau Srikunti sudah menjadi guru namun dia tidak berubah. Terhadap
siapa saja dia tetap tidak membeda-bedakan. Sehingga banyak orang yang
simpati kepadanya. Salah satunya adalah mandor hutan yang bernama
Basman. Cinta Basman diterima Srikunti. Keduanya berjanji akan hidup
bersama.
Akhirnya setelah menikah, Srikunti diboyong Basman ke rumah orang
tuanya yang juga ada di Desa Semanding. Mula-mula penganten ini hidup
rukun. Srikunti sendiri waktu itu sudah kerasan hidup di rumah
mertuanya.
Tetapi yang namanya hidup berrumah tangga ada saja rintangannya. Suatu
ketika Srikunti mendengar kabar kalau suaminya suka mabuk-mabukkan.
Walau dia sudah mengingatkan, suaminya tetap saja tidak mau mendengar.
Hampir setiap hari Basman malah pulang sempoyongan karena mabuk.
Karena merasa kecewa, diam-diam Srikunti nekad pergi meninggalkan
rumah. Supaya tidak terlihat orang setelah Maghrib dia baru berangkat.
Namun setelah dia sampai di Umbul Munding malah berhenti. Lalu dia
duduk di tepi umbul. Angan-angannnya pergi entah kemana. Dia teringat
orang tuannya dan adik-adiknya. Hatinya susah.
Tidak terasa, sudah begitu lama Srikunti duduk melamun di tepi umbul.
Sewaktu dia akan meninggalkan umbul, tiba-tiba dari dalam air muncul
seorang puteri yang naik bulus raksasa. Sang putri menghampiri Srikunti.
“Kamu jangan mupus (putus asa) dan harus tetap tabah,” kata puteri itu.
“Aku datang mau menolong kamu. Sekarang pulanglah ke rumah orang tuamu.
Sediakan bunga tujuh warna. Besok bawa ke sini. Apa yang kamu minta
bakal kesampaian,” sambungnya.
Setelah berkata begitu, puteri cantik tadi hilang entah kemana. Yang
kelihatan di depan Srikunti tinggal bulus yang tadi dinaiki sang puteri.
Sementara itu, di rumah Basman bingung mencari isterinya. Sudah dicari 
kemana-mana tapi tidak ada.
Waktu tengah malam, Basman mendengar kabar kalau ada seorang wanita
pingsan di dekat Umbul Munding. Dia cepat-cepat pergi kesana. Ternyata,
wanita yang pingsan di dekat umbul adalah isterinya.
Setelah sadar, Srikunti menceritakan apa yang dialaminya. Mendengar
kisah Srikunti, muncul kepercayaan dia sudah dibawa pergi siluman Bulus
Putih. Sementara, Basman berjanji tidak akan mabuk-mabukan lagi.
Srikunti menjalankan pesan putri gaib yang menemuinya. Dia menyediakan
bunga tujuh warna. Setelah itu, dibawa ke umbul dengan ditemani Basman,
suaminya.
Keduanya menunggu datangnya sang puteri. Tetapi di tunggu sampai jauh malam 
sang puteri tak kunjung datang.
“Apakah sang puteri menipu saya, sehingga dia tidak datang?” Gumam Srikunti.
Karena tidak ada tanda-tanda sang putri akan datang, Srikunti dan
Basman memutuskan meninggalkan umbul. Tetapi baru saja melangkah,
tiba-tiba terdengar ada suara yang memanggil mereka.
“Kalau kamu ingin harta banyak jangan tergesa-gesa!” Kata suara dari dalam 
umbul.
“Kamu siapa?” Tanya Srikunti.
“Saya siluman Bulus Putih yang menunggu Umbul Manding.”
Srikunti dan Basman terdiam. Di hadapan mereka tampak sesosok putri cantik 
jelita.
“Kalau kamu ingin kaya, jaga umbul ini supaya sumbernya tetap besar!” Kata sang 
putri lagi.
“Bagaimana caranya?” Tanya Srikunti.
“Caranya gampang. Semua wanita yang di sini kalau mandi jangan ada yang
menutupi payudara. Sebab, kalau ada yang berani menutupi payudaranya,
siluman Bulus Putih akan marah.”
Setelah memberi pesan demikian, sang putri menghilang.
Entah bagaimana, cerita dari mulut ke mulut ini akhirnya dipercaya oleh
banyak orang. Terutama warga Desa Semanding dan sekitarnya.
Ya, karena masih banyak yang percaya, sampai sekarang masih banyak
orang yang ngalap berkah ke Umbul Manding. Apa lagi kalau malam Jum’at
Legi, banyak warga luar Desa Semanding yang datang. Mereka melakukan
ritual pamer payudara.
Pemandangan
unik bisa saja kita saksikan. Selepas mandi dari Umbul Manding, banyak
yang pulang dengan telanjang dada. Payudaranya dibiarkan dilihat orang. 
 


      

Kirim email ke