mau hunting motret di sana ??
2010/1/13 kuku kuku <[email protected]> > > > boleh dipoto2 kg ya > > 2010/1/1 ar81fe mail <[email protected]> > >> >> >> Ritual Pamer Payudara >> >> [image: >> http://3.bp.blogspot.com/_LBiBm3RTkQQ/SOiz3fl7tZI/AAAAAAAABYA/nSujEaKfuMY/s400/ritual.jpg]<http://3.bp.blogspot.com/_LBiBm3RTkQQ/SOiz3fl7tZI/AAAAAAAABYA/nSujEaKfuMY/s1600/ritual.jpg>Umbul >> Manding sumber air bersih yang ada di Desa Semanding, Keca. Pucanglaban, >> Kab. Tulungagung, Jawa Tengah. Sejak dulu debit air di tempat ini memang >> besar. Bahkan, saat kemarau panjang sekalipun, umbul ini tak pernah >> kekurangan air. >> Karena debit airnya yang relatif besar dan bersih, maka sumber air ini >> sejak dulu dimanfaatkan warga Desa Semanding dan sekitarnya. Terutama untuk >> masak, mandi, mencuci, bahkan untuk mengairi sawah. Maklum saja, Umbul >> Manding memang berada di daerah pegunungan yang amat sulit air. >> Yang dapat dikatakan unik, tempat yang biasanya digunakan untuk mandi >> sejak dulu sengaja dibiarkan terbuka. Tidak ditutupi apa-apa. Padahal, yang >> mandi disitu tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan. Mereka berbaur >> menjadi satu untuk mandi bersama. >> Adakah rasa kikuk atau malu pada diri mereka? Mungkin karena sudah menjadi >> kebiasaan, maka tidak ada yang merasa malu jika dilihat orang, terutama >> lawan jenis. Bahkan kalau kaum perempuan sedang mandi mereka sama sekali >> tidak perlu merasa repot menyembunyikan payudaranya. Bahkan, ada kesan >> payudara itu sengaja dipamerkan. >> >> Bagi warga pendatang yang belum terbiasa, kalau mandi di Umbul terpaksa >> menutupi payudaranya. Salah satunya seperti dialami Darsini, seorang guru SD >> yang ditugaskan mengajar di daerah itu. >> >> Bu Darsini mengaku pada awalnya sangat malu kalau mandi di umbul. Namun, >> karena tidak ada sumber air di desa tempatnya mengabdi selain umbul itu, dia >> terpaksa mandi disitu juga. Karena masih malu, pada awalnya kalau mandi >> terpaksa dia memakai baju. Lama-lama karena sudah biasa bajunya dilepas, >> begitu juga BH-nya. Akhirnya, kalau mandi telanjang dada. >> “Tidak tahu kenapa, tapi mungkin karena kebiasaan, sekarang kalau mandi >> saya ikut dengan warga. Semuanya pamer payudara,” kata Bu Darsini sambil >> tersenyum. Walau didekatnya ada Pak Guru dia tidak merasa malu lagi. >> “Biarin, dari pada dilihat orang lain, lebih baik dilihat teman sendiri,” >> selorohnya. >> Karena ritual mandi telanjang dada ini, maka siapa saja yang kebetulan >> lewat bisa melihat dengan jelas payudara wanita-wanita desa setempat. >> [image: >> http://i31.tinypic.com/1zqv87p.jpg]<http://i31.tinypic.com/1zqv87p.jpg>Dilihat >> dari dekat, masyarakat Desa Semanding memang tergolong masih kolot. >> Contohnya, warga di sana masih percaya dengan berbagai kepercayaan kuno. >> Umpamanya, perawan sebelum datang bulan yang pertama, giginya harus >> dipungur. Alasannya, kalau sudah datang bulan payudaranya supaya cepat >> besar. Kalau sudah begitu, perawan tersebut biar cepat laku. >> Karena masih percaya dengan adat dan kepercayaan tersebut, jumlah wanita >> di sana yang tidak bisa menyelesaikan pendidikan dasar masih sangat tinggi. >> Sebab walau masih SD kalau payudaranya sudah kelihatan besar langsung >> ditikahkan. Umumnya orang tua disana merasa malu kalau punya anak perawan >> yang payudaranya sudah kelihatan besar, tapi belum menikah. >> Anehnya lagi, bagi yang sudah tidak perawan, pulang mandi dari umbul >> selalu telanjang dada. >> “Nanti kalau tidak telanjang dada malah dikira masih perawan. Padahal anak >> saya sudah tiga,” kata Yu Sayem ketika minta keterangan oleh Misteri. >> Kenapa tempat mandi di Umbul Manding dibiarkan terbuka? Dan, kenapa juga >> kalau mandi kaum perempuan harus bertelanjang dada? >> Rupanya hal ini berkaitan dengan sebuah legenda masyarakat Semanding. >> Mereka percaya dengan kisah perawan desa yang bernama Srikunti. >> Alkisah, beberapa puluh tahun silam, Srikunti ikut daftar jadi calon PNS. >> Ternyata dia diterima. Bahkan kemudian bunga desa ini menjadi guru di SD >> Semanding. >> Walau Srikunti sudah menjadi guru namun dia tidak berubah. Terhadap siapa >> saja dia tetap tidak membeda-bedakan. Sehingga banyak orang yang simpati >> kepadanya. Salah satunya adalah mandor hutan yang bernama Basman. Cinta >> Basman diterima Srikunti. Keduanya berjanji akan hidup bersama. >> Akhirnya setelah menikah, Srikunti diboyong Basman ke rumah orang tuanya >> yang juga ada di Desa Semanding. Mula-mula penganten ini hidup rukun. >> Srikunti sendiri waktu itu sudah kerasan hidup di rumah mertuanya. >> Tetapi yang namanya hidup berrumah tangga ada saja rintangannya. Suatu >> ketika Srikunti mendengar kabar kalau suaminya suka mabuk-mabukkan. Walau >> dia sudah mengingatkan, suaminya tetap saja tidak mau mendengar. Hampir >> setiap hari Basman malah pulang sempoyongan karena mabuk. >> Karena merasa kecewa, diam-diam Srikunti nekad pergi meninggalkan rumah. >> Supaya tidak terlihat orang setelah Maghrib dia baru berangkat. Namun >> setelah dia sampai di Umbul Munding malah berhenti. Lalu dia duduk di tepi >> umbul. Angan-angannnya pergi entah kemana. Dia teringat orang tuannya dan >> adik-adiknya. Hatinya susah. >> Tidak terasa, sudah begitu lama Srikunti duduk melamun di tepi umbul. >> Sewaktu dia akan meninggalkan umbul, tiba-tiba dari dalam air muncul seorang >> puteri yang naik bulus raksasa. Sang putri menghampiri Srikunti. >> “Kamu jangan mupus (putus asa) dan harus tetap tabah,” kata puteri itu. >> “Aku datang mau menolong kamu. Sekarang pulanglah ke rumah orang tuamu. >> Sediakan bunga tujuh warna. Besok bawa ke sini. Apa yang kamu minta bakal >> kesampaian,” sambungnya. >> Setelah berkata begitu, puteri cantik tadi hilang entah kemana. Yang >> kelihatan di depan Srikunti tinggal bulus yang tadi dinaiki sang puteri. >> Sementara itu, di rumah Basman bingung mencari isterinya. Sudah dicari >> kemana-mana tapi tidak ada. >> Waktu tengah malam, Basman mendengar kabar kalau ada seorang wanita >> pingsan di dekat Umbul Munding. Dia cepat-cepat pergi kesana. Ternyata, >> wanita yang pingsan di dekat umbul adalah isterinya. >> Setelah sadar, Srikunti menceritakan apa yang dialaminya. Mendengar kisah >> Srikunti, muncul kepercayaan dia sudah dibawa pergi siluman Bulus Putih. >> Sementara, Basman berjanji tidak akan mabuk-mabukan lagi. >> Srikunti menjalankan pesan putri gaib yang menemuinya. Dia menyediakan >> bunga tujuh warna. Setelah itu, dibawa ke umbul dengan ditemani Basman, >> suaminya. >> Keduanya menunggu datangnya sang puteri. Tetapi di tunggu sampai jauh >> malam sang puteri tak kunjung datang. >> “Apakah sang puteri menipu saya, sehingga dia tidak datang?” Gumam >> Srikunti. >> Karena tidak ada tanda-tanda sang putri akan datang, Srikunti dan Basman >> memutuskan meninggalkan umbul. Tetapi baru saja melangkah, tiba-tiba >> terdengar ada suara yang memanggil mereka. >> “Kalau kamu ingin harta banyak jangan tergesa-gesa!” Kata suara dari dalam >> umbul. >> “Kamu siapa?” Tanya Srikunti. >> “Saya siluman Bulus Putih yang menunggu Umbul Manding.” >> Srikunti dan Basman terdiam. Di hadapan mereka tampak sesosok putri cantik >> jelita. >> “Kalau kamu ingin kaya, jaga umbul ini supaya sumbernya tetap besar!” Kata >> sang putri lagi. >> “Bagaimana caranya?” Tanya Srikunti. >> “Caranya gampang. Semua wanita yang di sini kalau mandi jangan ada yang >> menutupi payudara. Sebab, kalau ada yang berani menutupi payudaranya, >> siluman Bulus Putih akan marah.” >> Setelah memberi pesan demikian, sang putri menghilang. >> Entah bagaimana, cerita dari mulut ke mulut ini akhirnya dipercaya oleh >> banyak orang. Terutama warga Desa Semanding dan sekitarnya. >> Ya, karena masih banyak yang percaya, sampai sekarang masih banyak orang >> yang ngalap berkah ke Umbul Manding. Apa lagi kalau malam Jum’at Legi, >> banyak warga luar Desa Semanding yang datang. Mereka melakukan ritual pamer >> payudara. >> Pemandangan unik bisa saja kita saksikan. Selepas mandi dari Umbul >> Manding, banyak yang pulang dengan telanjang dada. Payudaranya dibiarkan >> dilihat orang. >> > > > >

