he..he..he... cicak ama buaya perang yang menang bunglon...
Kind Regards,
Aditya
www.trend-traders.com
Disclaimer:Tabik sujud di kaki Anda semua dan mohon maaf jika ada hal yang
belum sempurna
The materialspresented on this website are solely for informational purposes
and arenot intended as investment or trading advice.
--- On Sun, 11/8/09, Andre Andre <[email protected]> wrote:
From: Andre Andre <[email protected]>
Subject: Re: [ob] Harga Rupiah, Harga minyak, BBM dan Om Kwik
To: [email protected]
Date: Sunday, November 8, 2009, 11:18 PM
Parah deh ini cicak buaya perang ampe d luar negri si asing sangat2
prihatin dan bete duit nye msh pd nyangkut
From: jacob oen <oenja...@yahoo. com>
To: obrolan-bandar@ yahoogroups. com; milis-a...@yahoogro ups.com
Sent: Sun, November 8, 2009 11:08:27 PM
Subject: Re: [ob] Harga Rupiah, Harga minyak, BBM dan Om
Kwik
Nice posting!.
Tadi siang saya sempat berbicang-bincang dengan teknisi yang sambil kerja dia
mengutarakan kerisauan dia sebagai orang kecil tentang situasi saat ini yang
sangat memprihatinkan. Secara kebetulan juga dia sempat menyampaikan kerinduan
dia akan seorang "Kwik" yang dulu selalu bersuara tegas dan memperjuangkan apa
pun demi kemajuan Bangsa ini.
Dia berharap semoga bisa muncul "Kwik-kwik" lain yang secara tegas dan
konsisten mau mendedikasikan kemampuannya dan memperjuangkan
sesuatu demi perbaikan nyata nasib rakyat kebanyakan.
From: Mata Dewa Ipat Kalipatullah <kalipatullah@ yahoo.com>
To: milis-a...@yahoogro ups.com
Sent: Sun, November 8, 2009 9:40:16 PM
Subject: [ob] Harga Rupiah, Harga minyak, BBM dan Om Kwik
This post originally posted at:
http://trend- traders.com/ 2009/11/harga- rupiah-harga- minyak-bbm- dan-om-kwik/
Obrolan malam minggu dengan Pak Chandra tentang seorang ekonom Negara kita
“Kwik Kian Gie”, cukup menggelitik saya. Bertahun-tahun lalu semasa reformasi
berkibar nama ini sempat muncul dan berkibar, tapi belakangan ini nama ini
seolah-olah hilang dimakan buaya. Saya mencoba browsing dan mencari
naskah-naskah lama tentang “Beliau” ini. Pandangan-pandangan Om Kwik tentang
perekonomian ternyata cukup menggelitik untung direnungkan. Berikut beberapa
hal yang saya tangkap dari celoteh-celoteh Beliau tentang Ekonomi, Valas, dan
harga BBM. Terima kasih sebesar-besarnya saya haturkan untuk Om Kwik atas
celotehnya .
Tentang harga Valas
Saya baru tahu belakangan ternyata seorang tokoh seperti Om Kwik juga mengikuti
dinamika pergerakan harga Valas atau FOREX, bahkan sudah melakukan
penelitian-peneliti an “nyleneh” seputar pergerakan harga FOREX tersebut
terutama kaitannya dengan mata uang Negara Indonesia ini “Rupiah”. Selama ini
kita hanya manut saja ketika disuguhkan dengan harga FOREX yang berkedip
berlulang kali di depan monitor kita, tidak pernah bertanya, sebenarnya
bagaimana sih mekanisma terbentuknya harga yang berkedip-kedip seperti
kunang-kunang itu! Lha wong kunang-kunang mau berkedip-kedip pasti ada
sumbernya, dan para ilmuwan sampai bersusah-payah menangkap kunang-kunang di
kebon untuk diteliti darimana sumber kedipan kunang-kunang itu. Saya juga sama
juga sih, seperti kebanyakan orang-orang kalau ditanya oleh teman seputar
pergerakan harga FOREX.
FOREX satu-satunya “Financial Market” yang nggak ada bursanya! Karena tidak ada
bursanya, maka kita sebenarnya patut bertanya sebenarnya yang membuat harga
FOREX itu jadi berkedip-kedip siapa tho? Jawaban paling singkat, lugas dan
padat, check aja di Reuters atau Bloomberg, itu yang biasanya jadi patokan
pergerakan harga FOREX. Atau kalau melalui dijelaskan bisa melalui contoh
export-import dan yang pasti bisa memakan waktu berjam-jam untuk menjelaskan
sampai audience nya terkantuk-kantuk. Apakah hanya faktor itu saja? Oooooh yang
pasti nggak donk! Masih ada lagi supply dan demand (kalo kata seorang Profesor
di bidang Ekonomi), ada faktor Politiik, keamanan, social, budaya (kata seorang
politikus), dan yang paling penting perilaku manusia yang ada di dalam market
(kata seorang psikolog). Wuiiiiihhhhh banyak amat faktor-faktornya. Kalau
dijelaskan bisa habis kopi 10 cangkir
baru selesai. Pada akhirnya kita akan menyerah dan tidak pernah
mempertanyakan, apalgi meragukan, masalah fluktuasi dan kedip-kedipan di FOREX
, dan yang lebih penting lagi adalah bahwa sebenarnya adalah sangat tidak
penting mempersalahkan kedi-kedipan dan masalah fluktuasi mata uang asing
terhadap Rupiah.
Saya tidak ada jelaskan disini bagaimana pembentukan harga di FOREX market,
karena Jawaban yang disodorkan Om Kwik bagi saya cukup untuk memperpendek
penjelasan saya nantinya. Pencarian Om Kwik tentang berdasar kriteria siapa dan
apa keputusan naik turunnya nilai Valuta Asing diambil? Pertanyaan itu
sebenarnya sudah bisa saya jawab ketika saya mengobrol dengan salah seorang
Treasury Manager salah satu Bank Terkemuka lewat Reuters Messenger. Dan semakin
jelas lagi ketika request untuk bisa langsung mengakses Reuters Terminal
dikabulkan. Kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri rasa-rasanya nggak
percaya dengan yang saya saksikan. Waktu itu reference price di Reuters
menunjukkan harga USD/IDR 10200, saya check ke harga di “market” interbank
harganya ada di 10250. Setelah membaca tulisan Om Kwik akhirnya bisa keluar
juga jawaban untuk menjelaskan
fenomena tersebut . Kata Om Kwik “kita semuanya sepenuhnya sadar, bahwa yang
membuat dan mengumumkan keputusan mengenai nilai Valas ke seluruh dunia adalah
Kantor Berita Reuters, atau Kantor Berita Bloomberg, dan kriteria keputusan
diambil dari himpunan data-data jual-beli valas beberapa Bank multinasional
yang terbatas dipilah dan dipilih oleh Reuters atau Bloomberg sendiri”. Nah
pada akhirnya output dan harga yang terpampang ini yang dipakai oleh Broker,
commission house, bank, atau money changer untuk ditawarkan kepada
“client-client”. Semua keputusan menjadi hak prerogative (kayak DPR) dan
monopoli dari Kedua kantor berita tersebut, yang tidak bisa dipertanyakan,
dikontrol apalagi diganggu gugat kebenarannya. Dan yang membuat menjadi semakin
mendebarkan adalah kita mutlak total seratus persen tunduk, pasrah kepada
keputusan kantor berita asing yang tak peduli dengan apa yang terjadi di Negara
Indonesia
tercinta ini. Begitu harga itu berkedip di monitor kita hanya manut dan
percaya saja dengan hal tersebut. Kisah selanjutnya silahkan direnungkan
sendiri. Beberapa teman yang membaca tulisan saya ini sebelum saya publish
memiliki beraneka macam komentar:
- Iya yah koq bisa yah kita hanya manggut-manggut saja?
- Ah itu khan sebenarnya “mekanisme pasar” gak usah dibahas-bahas lah terlalu
rumit untuk dibeberkan ke masyarakat umum, masyarakat umum gak perlu tahu
detail dengan permasalahan pembentukan harga ini!
- Akhirnya ente paham juga dengan maksud ane tempo hari (SMS dari seorang
mantan Treasury di Bank)
- Bingung bang baca artikelnya, sampe kepala muter-muter gak karuan.
- Etc
Yah namanya manusia, ada seribu orang yang baca pasti ada seribu komentar, ada
yang pro, ada yang kontra, ada yang idem, ada yang agak setuju, ada yang gak
setuju. Kalo menurut saya itulah “mekanisme pasar, biarkan pasar yang membangun
opininya sendiri”.
Analisa dan tulisan ini hanya sekelumit, bisa dibaca sambil minum segelas kopi
dingin dari Starbucks.
Tentang harga BBM dan harga minyak dunia
Pertanyaan beberapa rekan perihal harga minyak dunia, BBM dan kaitannya dengan
kondisi di Bursa Saham dan perekonomian di Indonesia, akhirnya terjawab juga
setelah membaca tulisan Om Kwik. Dulu saya berpikir, harga BBM di Indonesia
bisa naik karena pemerinta tidak melakukan “hedging”, sehingga ketika harga
minyak dunia naik, maka sewajarnya subsidi yang diberikan pemerintah tidak bisa
mengcover kelebihan akibat kenaikan harga minyak dunia tersebut, oleh sebab itu
harga BBM ikut naik.
Om Kwik saat itu sampai saat ini selalu sengit mengoreksi pernyataan Pemerinta
RI tentang menaikkan harga BBM adalah akibat terlalu berat terus-menerus
memberikan subsidi terhadap harga jual BBM di dalam negeri, terlebih diikuti
kenaikan harga minyak dunia yang selangit. Om Kwik berani memberikan penjelasan
yang menurut saya cukup fantastic………ruaaaarrrr biasa……….. “Sebenarnya secara
factual tidak ada yang dirugikan karena sebenarnya subsidi itu secara factual
tidak pernah diberikan. “Subsidi” yang mengakibatkan “kerugian” itu adalah
sekedar perhitungan terhadap andaikata BBM dijual di pasar luar negeri dengan
harga yang berlaku di luar negeri. Harga BBM di pasar luar negeri memang lebih
ti8nggi disbanding dengan harga jual BBM yang sedang berlaku di dalam negeri.
Perbedaan nilai harga BBM antara yang andaikata
dijual di luar negeri dan di dalam negeri itulah yang dianggap sebagai
“kerugian” oleh pemerinta. Istilah yang paling pas adalah “keuntungan” yang
tidak jadi diterima sebab tidak jadi dijual”.
Cukup logis dan bisa menjawab sebagian dari pertanyaan-pertanya an yang
bergelayut di hati saya. Sayang saat ini baru sempat membaca tulisan-tulisan Om
Kwik saja, tidak sempat berdiskusi langsung dengan Om Kwik sendiri.
Akhirul kata saya mohon maaf jika ada kata-kata saya dalam artikel saya ini,
semoga bisa menjadi bacaan sebelum tidur, dan yang paling penting jika ada
celoteh-celoteh Saya yang kurang pantas, saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Tabik sujud saya untuk yang berkenan membaca artikel saya ini.
Kind Regards,
Aditya
www.trend-traders. com
Disclaimer:
Tabik sujud di kaki Anda semua dan mohon maaf jika ada hal yang belum sempurna
The materialspresented on this website are solely for informational purposes
and arenot intended as investment or trading advice.