Dengan modal 187 juta duit bisa 1M satu tahun..., baca di kompas.

http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.01.21.09045485&channel=&mn=&idx=


Senin, 21 Januari 2008 | 09:04 WIB

*"Dulu modal saya untuk jadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat itu Rp 187
juta. Enam bulan pertama sudah BEP, break even point."
*
Sembari makan siang di kantin, seorang anggota Dewan menceritakan
pengalamannya secara blak-blakan kepada wartawan.

Dia juga menceritakan bagaimana praktik-praktik politik uang yang terjadi di
DPR yang tidak bisa diceritakan dalam tulisan ini.

Karena itu, dia termasuk yang tidak setuju dengan berbagai kebijakan
anggaran di DPR yang arahnya terus menguras uang negara demi mempertebal
"kantong" anggota Dewan. Dia merasa berbagai fasilitas yang selama ini dia
terima sudah lebih dari cukup.

Pemberian insentif legislasi Rp 1 juta ke semua anggota Dewan yang tidak
terlibat dalam pembahasan setiap kali pengesahan rancangan undang-undang,
menurut dia, salah satu kebijakan yang tidak tepat.

*Dua tahun terakhir*

Seorang anggota Dewan lain secara blak-blakan menunjukkan seluruh catatan
penghasilan yang dia terima dari negara selama dua tahun terakhir.

Dari catatan itu diketahui, penerimaan anggota DPR terbagi menjadi tiga
kategori. Ada yang bersifat rutin bulanan, ada yang rutin nonbulanan, dan
ada juga yang sesekali.

Yang sifatnya rutin bulanan adalah gaji paket Rp 15.510.00; bantuan listrik
Rp 5.496.000; tunjangan aspirasi Rp 7,2 juta; tunjangan kehormatan Rp 3,15
juta; tunjangan komunikasi intensif Rp 12 juta; dan tunjangan pengawasan Rp
2,1 juta. Total berjumlah Rp 46,1 juta per bulan. Jadi, setahun mencapai
lebih dari setengah miliar, Rp 554 juta. "Pendapatan bulanan ini semua
anggota DPR sama," katanya.

Penerimaan nonbulanan banyak jenisnya, mulai dari penerimaan gaji ke-13
setiap Juni Rp 16,4 juta dan dana penyerapan aspirasi setiap masa reses Rp
31,5 juta. Dalam satu tahun sidang ada empat kali masa reses. Ada juga dana
perjalanan dinas komisi, perjalanan dinas ke luar negeri, atau perjalanan
dinas saat reses. Total keseluruhan dalam setahun sekitar Rp 188 juta.

Sementara itu, penghasilan yang sifatnya sewaktu-waktu adalah insentif
pembahasan rancangan undang-undang dan honor melakukan uji kelayakan dan
kepatutan yang besarnya Rp 5 juta per kegiatan.

Dengan adanya kebijakan baru berupa uang insentif legislasi Rp 1 juta
per-RUU, semakin menambah lagi pemasukan anggota DPR. Uang insentif
legislasi yang dia terima Rp 39,7 juta.

Apabila keseluruhan penerimaan negara itu dihitung, total uang yang diterima
seorang anggota DPR dalam setahun hampir Rp 1 miliar. Sebagai anggota DPR
yang tidak terlalu aktif saja, selama tahun 2006, dia menerima Rp 761,3
juta, sedangkan tahun 2007 Rp 787, 1 juta.

Anggota Dewan yang merangkap anggota badan selain komisi juga mendapat
tunjangan khusus. Demikian pula anggota yang merangkap pimpinan alat
kelengkapan, banyak melakukan studi banding ke luar negeri, memimpin
panitia-panitia khusus pembahasan RUU, serta menjadi pimpinan fraksi, atau
pimpinan DPR.

Dengan uang yang diberikan negara itu, dia yakin semua anggota DPR bisa
menjadi profesional, independen, dan bersungguh-sungguh memperjuangkan
aspirasi rakyat.

Namun, kalau ditanya soal cukup, menurut dia, setiap orang akan memiliki
pandangan yang berbeda.

"Ibarat minum air, ada yang merasa cukup, ada juga yang malah semakin haus,"
ucapnya sambil tertawa.

Idealisme 550 anggota DPR yang duduk di Senayan memang beragam. Mereka tidak
bisa begitu saja digeneralisasi. Terkait pemberian insentif legislasi Rp 1
juta saja, misalnya, ada fraksi yang menolak dan ada fraksi yang menerima
dengan sejumlah alasan.

Anggota yang memiliki idealisme seperti tadi sesungguhnya tak hanya satu,
dua. Namun, karena jumlahnya kalah banyak, suara mereka sering kali
tertelan. Seorang anggota Dewan yang dulu bergelut di dunia akademisi dan
sekarang terjun ke politik praktis malah mengaku sempat juga terkena
getahnya. Saat dia ke kampus, rekannya menyesalkan dirinya terjun ke dunia
politik praktis karena menjadi ikut "kotor".

*Tidak semua kotor*

Menilai anggota DPR seluruhnya "kotor" tentu tak tepat karena pada
kenyataannya ada juga yang berusaha untuk "bersih" di tengah kekeruhan. Yang
perlu dilakukan adalah memberikan dukungan kepada mereka yang bersih agar
mereka tak tercemar, tetapi malah membawa warna jernih.

DPR yang bersih akan membawa pemerintahan juga menjadi bersih karena salah
satu fungsi DPR adalah bidang pengawasan. Anggaran di eksekutif juga
beratus-ratus kali lipat anggaran di DPR.

Siapakah anggota DPR yang perlu didukung itu? Tentunya, mereka yang bisa
merasakan cukup dan lebih memprioritaskan orang yang kerongkongannya kering
karena dahaga. *(Sutta Dharmasaputra)*

Kirim email ke