Teman2 kartunis se-Tanah Air, pada prinsipnya saya membuka peluang untuk para kartunis lepas mengirim karyanya ke Koran Tempo. Jika karya teman2 bagus, maka secara otomatis saya akan menyeleksi kartun-kartun yang bagus. Tapi kalu rata-rata kartun mutunya tetap seperti yang kemarin, otomatis kartun yang akan muncul juga tidak bagus.
 
Tapi gimana ya, Dodo ini, kartun kok ditanya logikanya (atau lebih tepat etikanya)? Kelucuan itu sendiri kan muncul dari logika yang dipatahkan. Humor itu, kata Jaya Suprana, selalu mengorbankan sesuatu, paling tidak logika itu sendiri. Kalau sebuah kartun muncul dengan sudah menampilkan adegan yang tidak logis, apakah harus dipertanyakan: kartun itu nggak logis kok dimuat di Koran Tempo?
 
Semua orang punya sense of humor yang berbeda. Itu artinya, tolok ukurnya relatif. Jika kita sepakat dengan itu, maka seharusnya ---seperti yang sejak awal saya katakan ketika masuk di milis ini--- kartunis dengan kritikus kartun itu dipisahkan. Soalnya, kritikus yang merangkap sebagai kartunis hanya akan mengatakan, kartun karyanya sendirilah yang paling bagus.Itu artinya, kartun yang tidak dibuat dengan gaya dia, akan selalu dianggap jelek. That's it my point. Dan menurut saya, itu picik! Apalagi, klaim itu dikeluarkan hanya agar orang lain menganggap dirinya satu level di atas orang lain. He he he.
 
Sudahlah, lupakan itu semua. Saya sendiri sebenarnya sedang cari celah yang tepat untuk mengusulkan diadakannya lomba kartun internasional. Tapi ini kan menyangkut biaya besar, jadi harus dipikirkan secara matang.
 
Sambil menunggu itu terwujud, saya tetap melakukan upaya lain untuk mendongkrak kehidupan kartun di Tanah Air seperti bikin skenario sinetron Doyok. Mungkin ini langkah kecil, dan siapa tahu.... tokoh-tokoh lain di Poskota segera menyusul.
 
Mohon maaf kalau saya tidak bisa memaki-maki dalam milis. Waktu saya kan tidak banyak, sementara ada begitu banyak ide yang harus diwujudkan. Jadi, males lah sebenarnya kalau harus terus menerus melayani orang yang sukanya mengeluh dan bikin ribut.
  
Salam,
Nur Hidayat
 
----- Original Message -----
From: oet toyo
Sent: Friday, December 09, 2005 6:33 PM
Subject: Re: [pakarti] Buat Nur Hidayat yg baik.

yah...mas Nur...Tony...mungkin bukan dodo namanya kalo gak bikin ribut.
memang  kita harus hargai koran Tempo yang masih mau membuka kapling kartun, daripada koran lain yang pelit untuk kartunis freelance.
 
maksud dodo (mungkin ya do...) biar koran lain juga bisa peduli sama kartunis. setahu saya dulu KOMPAS juga ada ruang buat kartunis freelance (waktu aku belum ngartun). tapi sekarang kegusur ama sikribo, benny dan mince...he...he...he...!
 
Oya, buat redaktur kartun BOLA, aku mohon maaf kalo pernah nyinggung perasaan lewat milis ini...hingga kartun SEA GAMES ku gak ada yang nongol...hik...hik..
 
salam kartun
0etho

Toni Rinaldy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
mungkin bung dodo bisa buat med ia sendiri. bahkan mulai dari pemimpin umum sampai redaktur rubrik kartunnya pun bahkan sampai penyeleksinya, bung dodo bisa handle smuanya. sehingga segala apa yang dikehendaki bung dodo bisa terlaksana.
mungkin nanti hanya kartun-kartunnya dodo sendiri yang di pasang gara-gara tak ada kartun yang masuk tak sesuai selera dodo. dan pada akhirnya dinikmati sendiri. mirip onani ya.
 
mr. dodo sudah tahu lah tiap media punya aturan kartun macam apa yang akan dimuat dan ini kebijakan mereka kan.
terus yang gaul itu seperti apa sih
 
ya makanya dodo buat saja media kartun sendiri . . . 
 

dodo karundeng <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Nur, kurang gaul itu, masak kartun pengemis ngancam sama sarung tinju aja
dilolosin di "koran tempo".   Lo masak ada pengemis ngancam, memang bisa
lucu sih, tapi yang nggak kena-lah. Emangnya pengemis itu pakde probosutejo
atau Tomy Winata. Lah terus kayak gitu mau dibilang kreatif, Nur!
walah-walah...
piye sih, sampe-sampe box e-mailku aja nggak bisa menerima milismu. aku kena
embargo segala, walau maksudku baik, tentang contoh koranmu itu cuma
ilustrasi kecil aja dari suratku, kayak ilustrasinya si thomdean gitu.
hahaha...  Untung aku punya jalur khusus, dan dengan cara yang kreatif.

dk

Re: [pakarti] LOMBA KARTUN INTERNASIONAL
hidayat
Wed, 07 Dec 2005 21:55:30 -0800


Dodo, aku tersinggung tuh. Apa maksudmu:
..... koran tempo sudah memulai, meski pilihan kartunnya agak memperlihatkan
kualitas editornya yang kurang gaul.

Kurang gaul tuh apaan? Jangan-jangan lo yang kurang gaul? He he he.

Saya dan beberapa teman kartunis beberapa kali ketemu dan sudah
memperbincangkan beberapa hal untuk mendongkrak perk embangan kartun. Dari
sekian banyak upaya, barangkali "mengindustrikan" kartun adalah langkah yang
layak untuk dipertimbangkan. TV dan film butuh begitu banyak film kartun
yang kompetitif harganya. Tapi, SDM-nya nggak ada, dan jangan-jangan
kebanyakan kartunis hanya "mengutuk" redaktur kartun di media cetak seperti
yang dilakukan Dodo Karundeng. Sehingga, peluang yang begitu besar lewat
begitu aja karena tidak ada karya kartun yang aplikatif. He he he.

Secara pribadi saya lagi menjalin hubungan dengan beberapa orang yang
mudah-mudahan bisa mewujudkan impian saya sejak masih kanak-kanak, membuat
semacam walt disney di Indonesia. Film kartun --untuk media film televisi,
iklan, atau film layar lebar --- adalah bentuk yang paling ideal. Nah,
belakangan ini aku lagi menulis skenario sinetron Doyok --- ini diangkat
dari kartun Doyok milik mas Kelik di Pos Kota. Barangkali, kalau ada
kesempatan baik lagi, nanti Lotif-nya Beng di Koran Tempo yang ba kal saya
usulkan untuk disinetronkan. Ini merupakan langkah paling logis, melihat
peta kekuatan investor di dunia sinetron yang dikuasai oleh orang-orang film
yang memang sejak awal tidak punya darah kartun seperti saya. He he he.

Tapi percayalah, suatu ketika ide Ifoed (Kokkang) untuk menawarkan kartun
animasi (yang benar-benar handmade) ke televisi bisa terwujud. Jadi, kartun
tidak melulu dipaksakan tampil sebagai karya kartun murni satu frame di
koran dan majalah. Dan jika redaktur kartunnnya mengurangi jumlah kartun
yang dikirim dari luar, lantas sang redaktur akan "dikutuk" oleh Dodo
Karundeng.Ha ha ha. Emang enak?

Maksud saya, industri media cetak itu nilai ekonomisnya sangat kecil.
Perhatikan belanja iklan tahun 2004-2005 ini, hampir 70 persen lari ke
televisi. Itu artinya, pengelola media cetak akan lebih berusaha keras agar
apa yang ditampilkan di medianya merupakan sesuatu yang benar-benar memiliki
pangsa pasar cukup lu as. Jika begitu, kenapa para kartunis harus mengikuti
mahzab Dodo Karundeng yang hanya bolak-balik "mengutuk" redaktur kartun
media cetak yang kian hari kian terbatas halamannya? Kenapa tidak menjadi
kreatif dengan menawarkan gagasannya untuk berbagai media yang baru: iklan
( baik iklan televisi, cetak, pamflet, brosur,dll), atau film kartun
(dokumenter, anak-anak, dewasa)?

Sekian dulu, Dodo Karundeng yang hebat.
Selamat mengutuk apa dan siapa saja, tetapi biarkan saya untuk tetap
kreatif.

* Nur Hidayat


----- Original Message -----
From: "dodo karundeng" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, December 06, 2005 7:18 PM
Subject: [pakarti] LOMBA KARTUN INTERNASIONAL


>   kapan sih ada lomba kartun secara internasional yang diadakan oleh
>suratkabar kita? memang koran itu kita harus mulai membuat rubrik kartun
>lebih besar, dan menerima kiriman kartun  d ari luar. "koran tempo" sudah
>memulai, meski pilihan kartunnya agak memperlihatkan kualitas editornya
yang
>kurang gaul. Suara Pembaruan juga boleh, tapi suka anget-anget tai ayam,
eh
>malah jumlah kartunnya jadi tinggal satu setiap minggunya. Apa nggak bikin
>gemes tuh.  Atau Kompas, tapi mereka nggak mau ambil resiko sampai
sekarang
>untuk memuat kartun kiriman, beda sama rubrik cerpen dan ilustrasi
>cerpennya. Kalau musim Piala Dunia -- kartunisnya sudah dipilih yang bakal
>muncul kayaknya. mudah-mudahan tebakanku salah.
>kalau lomba kartun itu ada, harus juga juri-juri dari luar macam Plantu
dari
>Perancis, atau kartunis kawakan dari Iran atau Turki, yang dunia kartun
di
>negara yang kecil betul-betul bertumbuh dengan baik. biar kita bisa
belajar
>dari mereka.
>saya lagi bermimpi....kartun bertumbuh seperti pohon-pohon besar  di
negara
>kita, bukan cuma jadi rumput d an semak.
>
>dk

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE!
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/



Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping


Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping

YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke