Oleh Donny Anggoro *

Beberapa tahun terakhir dunia animasi Indonesia menunjukkan 
geliatnya. Beberapa studio animasi bermunculan mulai dari "genre" 
yang menimba ide di belantara tradisi seperti Mahabarata, Legenda 
Timun Mas, Bawang Merah dan Bawang Putih, Sangkuriang, sampai era 
kekinian seperti Homeland, Janus Prajurit Terakhir, 
Keloloden, .hack//SIGN (baca: dot hek sain) produksi Media Sino 
Associates Limited (MSAL) dan seterusnya. Untuk kategori ini (animasi 
dari cerita tradisi) walau sempat diproduksi secara massal ternyata 
masa edarnya rata-rata terbilang singkat dan cepat menghilang di 
pasaran lantaran mengikuti jadwal edar produk utamanya sebagai bagian 
dari merchandise, misalnya produk susu anak. 

Pendidikan formal animasi di fakultas desain pun mulai diadakan 
setelah sebelumnya animator belajar secara otodidak atau bersekolah 
ke luar negeri. Kendala teknis perlahan sudah mulai terlampaui. Film 
iklan, maraknya produksi video klip sebagai mata rantai produksi 
album musik, pembuatan wallpaper untuk komputer dan teknologi ponsel 
memberi sinyal bahwa dunia animasi kita sedang tumbuh seperti halnya 
komik dalam seni populer Indonesia. 
Seperti halnya komik yang tumbuh secara underground, studio-studio 
animasi mengerjakan proyek animasi di luar rutinitasnya sebagai 
pembuat jasa teknologi tersebut di atas. Berbagai even seperti 
hello;fest, Festival Film Animasi Indonesia, Festival Animasi Jogja, 
dan Jiffest, juga mencoba memberi ruang kepada animator belum lama 
ini.

Meskipun tumbuh harus diakui juga produk animasi nyaris terjerembab 
sebagai bagian industri iklan saja. Akibatnya meski tema yang pernah 
dihasilkan cukup beragam atau kendala keterbatasan teknis perlahan 
mulai terlampaui, konsentrasi animator kita -seperti juga komikus- di 
masa kini umumnya terpecah antara dibutuhkan sebagai produk pelayan 
jasa klien dan menghasilkan karya yang mandiri. 
Aniamasi Indonesia kehilangan identitas. Misalnya Homeland, film ini 
meski secara teknis cukup baik, dari segi cerita masih berat 
dikonsumsi anak lantaran terdapat perbedaan visi yang sulit 
dikompromikan antara penciptanya (Studio Kasatmata, SET, dan Visi 
Anak Bangsa) yang semula membuatnya untuk remaja dengan investor yang 
menginginkan Homeland untuk anak.  

Pertimbangan investor pun bisa dimengerti lantaran pasar untuk 
animasi remaja memang belum terbentuk. Di Indonesia tayangan animasi 
remaja belum begitu populer, berbeda dengan di Amerika atau Jepang, 
di mana animasi remaja bahkan untuk dewasa sudah menjadi tren baik di 
televisi dan layar lebar. Untuk kategori dewasa variasinya pun 
berkembang (seperti halnya komik) sudah sampai kategori porno yang di 
Jepang dinamai "hientai". Padahal untuk komik Indonesia sendiri pun 
sudah mulai diterbitkan kategori yang tegas mulai dari remaja 
(Selamat Pagi Urbaz-Beng Rahadian, 2004) sampai dewasa (Pengumuman: 
Tidak Ada Sekolah Murah-Terra Bajraghosa/Eko Prasetyo, 2005).  

Pertanyaan mengusik, apakah dengan merujuk kasus Homeland sebenarnya 
masih terjadi salah kaprah bahwa (seperti halnya komik) animasi juga 
dianggap sebagai produk untuk anak?  Bisa jadi hal itu benar, 
lantaran penayangan serial kartun dewasa Crayon Sinchan dan The 
Simpsons di televisi swasta kita beberapa waktu lalu dimasukkan 
sebagai tayangan untuk anak. Jika pandangan sempit ini dapat 
teratasi, bukan tak mungkin pertumbuhan animasi dapat terwujud ke 
ranah lain misalnya games komputer atau playstation. Bukankah dengan 
menggunakan kedua format ini animasi untuk pasar remaja dapat 
dibentuk?

Tahun 2002 lalu sebuah situs internet Dlanet yang dibentuk berbagai 
animator (salah satunya adalah Animator Forum) pernah mencoba 
menggambar kembali pahlawan nasional bak superhero ke dalam situs 
yang dinamai "Jagoan.or.id" menjadi gambar yang dapat diunduh sebagai 
wallpaper. Uniknya, situs ini juga memberi kategorisasi "jagoan" ke 
dalam tiga jenis: pahlawan (Sultan Agung, Pattimura), pendekar (Si 
Pitung, Si Jampang), dan jagoan (Gundala, Godam). Situs ini 
sebenarnya cukup memberi peluang bahwa memang sudah ada transformasi 
antara menimba ide di belantara tradisi dengan "genre" animasi yang 
mengangkat tema-tema tradisi. Remaja bisa mengenal pahlawan dan tokoh 
komik nasionalnya sendiri karena pahlawan yang muncul di buku 
pelajaran nyatanya toh bisa "akrab" ke dalam teknologi mutakhir. 
Wujud dari "cara pandang" tertentu mengenai kebudayaan dengan semisal 
munculnya situs "Jagoan.or.id" tadi memang sudah memberi sinyal itu. 

Pertanyaannya mampukah sinyal tersebut berkembang secara kontinu, 
paling tidak berdampingan dengan gagasan yang berangkat dari tema 
modern? Ini memang bukan pekerjaan mudah karena eksperimen yang 
pernah ada dalam film animasi kita rata-rata timbul tenggelam akibat 
produksi mereka bergantung pada "selera investor" ditambah 
animatornya sendiri belum menggali kekayaan komik kita sebagai ide. 
Meskipun jika bersikap arif kita dapat belajar dari Disney yang 
berhasil mengkomodifikasi cerita komik lama mulai dari Tarzan atau 
Mulan dari hikayat China klasik. Bukankah antara komik dan animasi 
yang sejatinya bersaudara sebetulnya selama ini sama-sama hanya 
dianggap bagian kecil dari industri tertentu sehingga kurang dianggap 
sebagai karya seni?    

Peluang kerjasama atau membuka diri dengan bidang lain seperti 
sejarah atau sastra perlu dikembangkan untuk memerkaya. R.A Kosasih 
dengan komik wayangnya adalah bukti kemampuannya meretas sejarah 
wayang menjadi komik. Atau sinergi sastrawan Seno Gumira Ajidarma dan 
komikus Asnar Zacky yang pernah melahirkan Sukab Intel Melayu (2002) 
membuktikan sejarah komik kita paling tidak pernah berhasil 
melakukannya.

Pasar bebas sebenarnya sudah memberi banyak kesempatan, hanya ia 
masih saja dianggap sempit dalam arti selalu mengulang pemahaman 
stereotip klise akibat masih betah terus-terusan menjadi bagian dari 
budaya konsumen dengan meminggirkan potensi yang sebetulnya sudah 
ada. *



GONG, Edisi 84/2006  

     

    

          






 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pakarti/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pakarti/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke