Pidato Kebudayaan" Dewan Kesenian Jakarta,
B. Herry-Priyono, Ph.D (LSE, Inggeris):
NEO-LIBERALISME DAN KEBEBASAN
10 November 2006 (Jumat)
Jam 19:30
Grha Bhakti Budaya
Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya 73,
Jakarta
Acara diawali dengan pertunjukan oleh Cilay Ensemble
Pidato Kebudayaan adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Dewan
Kesenian Jakarta (DKJ) bersama Badan Pengelola Taman Ismail Marzuki (BP-TIM)
untuk memeringati hari ulang tahun Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail
Marzuki.
B. Herry-Priyono, Ph.D
B. Herry-Priyono, lahir 31 Mei 1960, adalah lulusan Sekolah Tinggi
Filsafat
(STF) Driyarkara. Ia menempuh pendidikan lanjut dalam bidang
ilmu-ilmu-sosial di University of the Philippines, Manila, untuk gelar
Master of Arts (MA). Sesudah belajar teologi di Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta, ia menjadi dosen di STF Driyarkara dan peneliti pada Institut
Sosial Jakarta (ISJ). Ia kemudian melanjutkan pendidikan dengan konsentrasi
bidang teori social untuk gelar Master of Science (M.Sc. Econ) dan Ph.D
dalam bidang ekonomi politik dan sosiologi di London School of Economics
(LSE), Inggeris. Kini ia dosen dan ketua Program Studi Pascasarjana STF
Driyarkara. Ia memusatkan penelitiannya pada filsafat ekonomi, ekonomi
politik, teori ilmu-ilmu sosial, globalisasi, dan kebijakan publik. Ia
menulis banyak artikel untuk surat kabar, majalah dan jurnal.
Pengantar
Neo-liberalisme sedang mengubah kita luar-dalam, dari dalam dan
dari luar.
Ia bukan lagi guncingan, seolah-olah masih jauh. Polarisasi telah terjadi
antara yang pro dan yang kontra. Persekutuan-persekutuan pun telah jadi.
Begitu juga reaksi-reaksi bermunculan, mulai dari perlawanan hingga
kepasrahan.
Gelombang neo-liberalisme di atas arus gobalisasi, yang
dimudahkan oleh
tekonologi informasi, dapat membebaskan seni ke ruang yang lebih besar,
tetapi sekaligus memberlakukan hukum yang belum tentu adil dan memudahkan
semua pelaku seni dan kebudayaan pada umumnya. Seni dan kebudayaan yang
terlempar ke dalam pasar belum tentu utuh, malah mungkin terbelah-belah
dalam kemasan-kemasan komoditi. Gagasan pokok kebebasan kelihatannya perlu
menjadi pusat penyelidikan lagi. Apakah semua kebebasan itu sama, misalnya,
sehingga kebebasan yang satu (misalnya dalam menganut agama) harus
mengandaikan kebebasan yang lain (misalnya kebebasan modal)? Bagaimana
kebebasan harus dilihat dalam hubungannya dengan hak-hak budaya sebagai
proses tempatan ketika berhadapan dengan kebebasan modal? Apakah kebebasan
ekspresi itu sama fundamentalnya dengan kebebasan pasar? Apakah kebebasan
beragama itu sama fundamentalnya dengan kebebasan berkesenian?
Kebebasan multi-tafsir adalah surga bagi ekspresi kesenian.
Tetapi
fundamentalisme pasar mungkin akan melahirkan hanya kreativitas dan inovasi
yang laku di pasar yang tidak pernah sempurna. Maka apakah benar kita ingin
membiarkan pasar bebas menjadi tempat kesenian dan reproduksi sosial-budaya
dipertaruhkan? Apakah kesenian dan reproduksi sosial-budaya hanya akan
mendapatkan investasi melalui pasar bebas? Apakah fundamentalisme pasar juga
harus berarti berkurangnya subsidi negara atas seni dan kegiatan-kegiatan
kebudayaan?
Bagaimana pun, keadaan globalisasi yang bertumpu pada teknologi
informasi
akan mempercepat perubahan-perubahan, meluberkan batas-batas, mempercepat
dan mengencerkan pertukaran-pertukaran. Bagaimana kebudayaan sedang berubah
dalam konteks dan hubungan dengan semua itu? Bagaimana kesenian dapat
memberikan refleksi-refleksi kritis sehingga manusia tidak hanya menjadi
penerima pasif dari perubahan, tetapi penentunya, kalau pun memang perubahan
harus terjadi? Bagaimana strategi kebudayaan dan kesenian menghadapi
gelombang ini? Apakah ada strategi kelembagaan yang harus kita kembangkan?
Apakah ini hanya menyangkut strategi ekspresi (komunikasi) dan ekonomi
kesenian? Apakah ada strategi politik yang perlu dikembangkan pelaku
kesenian dan kebudayaan? Bagaimana masyarakat harus menghargai dan menikmati
kesenian di masa ini? Apakah pijakan kita untuk membujuk masyarakat
menghargai dan menikmati kesenian di dalam pasar yang materialistik, instan,
dan bergejolak ini? Tingkat kualitas dan strategi komunikasi apa yang harus
dikembangkan oleh kesenian untuk dapat berperan maksimal dalam turut
membentuk kebudayaan kontemporer kini dan mendatang?
Kita ingin memahami neo-liberalisme secara lebih utuh, tentang
sejarah dan
perkembangan mutakhirnya, wujud-wujudnya, serta mewaspadai
konsekuensi-konsekuensi budayanya, dan mengkaji pilihan-pilihan alternatif
dalam rangka kita berpikir strategis untuk terus menerus mempertahankan dan
memperluas ruang kesenian dan kebudayaan. Kita ingin proaktif, sehingga
tidak terlempar begitu saja ke dalam pusaran perubahan.
_________________________________________________________________
FREE pop-up blocking with the new MSN Toolbar - get it now!
http://toolbar.msn.click-url.com/go/onm00200415ave/direct/01/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/pakarti/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/pakarti/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/