Turut kelhilangan atas meninggalnya seorang kartunis dan budayawan MASDI 
SOENARDI yang telah melahirkan tokoh Pak Bei di harian Suara Merdeka, Semarang

Beng Rahadian

---------------------------------------------------------------

www.suaramerdeka.com
26 Juni 2008
Masdi "Pak Bei" 
Meninggal
Bercita-cita Dirikan Sanggar Tari Rakyat 
Borobudur

TAK hanya keluarga dan sahabat, Paguyuban 
Masyarakat Pecinta Seni Borobudur juga sangat kehilangan dengan berpulangnya 
Masdi Soenardi (64), Rabu (25/6) dini hari sekitar pukul 02.30 di rumahnya 
Dusun 
Gedongan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Mantan 
kartunis Harian Suara Merdeka dengan rubrik ’’Pak Bei’’, menetap di tanah 
kelahiran istrinya, Murtilam, di pinggir Kali Sileng. 

Almarhum bisa 
merangkul seniman di kaki Candi Borobudur, sehingga dia didaulat menjadi 
penasihat Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni Borobudur. 
’’Kemarin (24/6) Pak 
Bei sehari tiga kali ke rumah saya, pagi, kemudian siang ketika mengantar 
istrinya belanja, dan sore hari. Minta diadakan pertemuan seniman pada 29 Juni 
2008 membahas rencana mendirikan sanggar seni tari rakyat Borobudur. Jenengan 
menyiapkan kuenya, wedange saya,’’ kata Ketua Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni 
Borobudur, Sucoro menirukan permintaan Masdi.

Karena itu, Pimpinan Warung 
Info Jagad Cleguk Borobudur itu seakan tidak percaya ketika diberitahu ’’Pak 
Bei’’ meninggal. Cita-cita almarhum, sanggar seni tari itu untuk nguri-uri 
kesenian rakyat yang banyak tersebar di daerah tersebut.

Film Pak BeiBukan hanya itu cita-cita almarhum yang belum terealisasi. 
Sucoro menerangkan, dalam waktu dekat cerita ’’Pak Bei’’ akan dibuat film, 
pemain utamanya Susilo, yang dikenal sebagai Den Baguse Ngarso pada serial TVRI 
Yogyakarta.

Pesan Pak Kancil-panggilan akrab Masdi, keberhasilan karyanya 
difilmkan agar bisa dicontoh seniman Borobudur. ’’Ini contoh bagi 
seniman-seniman muda Borobudur agar terus berkarya. Suatu saat karyanya pasti 
akan dihargai,’’ ungkap Sucoro mengutip petuah almarhum.

Pelukis 
Borobudur, Umar Chusaeni mengatakan, almarhum merupakan kartunis di Jateng yang 
karyanya sangat menarik. Dia juga penyemangat seniman di Borobudur. Setelah 
pulang ke kampung halamannya, almarhum diterima baik semua seniman di sini, 
bahkan dianggap sebagai tokoh panutan. ’’Masukan-masukannya sangat positif bagi 
kemajuan seni di Borobudur. Kami sangat kehilangan seorang tokoh seniman,’’ 
kata 
Umar yang berjumpa tiga hari yang lalu.

Murtilam, istrinya, tidak 
menyangka kalau suaminya akan meninggalkan keluarga selamanya.  Sehabis nonton 
acara ’’Empat Mata’’ almarhum mengeluh sesak napas. Dia memang menderita 
penyakit jantung, dan sudah tujuh bulan tidak kontrol ke dokter. Alasannya, 
kondisi badannya sangat sehat. ’’Saya berusaha minta bantuan tetangga untuk 
mengantarnya ke dokter. Bapak saat itu tiduran di kursi, saya kira memang sudah 
tidur. Ketika dibangunkan ternyata sudah meninggal,’’ ungkapnya 
sendu.

Edi Warsito, anak kedua almarhum membenarkan ayahnya memang 
bercita-cita mendirikan sanggar seni di pinggir rumahnya. Namun rencana itu 
mundur terus karena terbentur dana.

Masdi meninggalkan istri, Murtilam, 
empat anak dan tiga cucu. Keempat anaknya adalah Sutopo Wintarto, Edi Warsito, 
Dahono Fitrianto, dan Inten Esti Pratiwi. Cucunya, Aria Danang Wijanarko, 
Ariana 
Nareswari, dan Luna Cahya Kinasih. Selamat jalan Pak Bei, karyamu tetap 
dikenang 
sepanjang masa, dan pasti dilanjutkan para seniman di kaki Candi Borobudur. 
(Doddy Ardjono-62) 


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke