Aamiin.

-
Toni

http://tonimalakian.blogspot.com

http://tonykartun.deviantart.com

--- On Thu, 6/26/08, oet toyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: oet toyo <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [pakarti] OOT: Turut Berduka untuk Pak Bei
To: [email protected]
Date: Thursday, June 26, 2008, 7:23 PM










    
            Meski sudah lama meningalkan Jawa  Tengah, aku masih inget betul 
dengan Tokoh "Pak Bei" di Suara Merdeka Minggu. Kami turut berduka cita atas 
meninggalnya Bapak Masdi Sunardi (pencipta tokoh Pak Bei), yang juga ayah rekan 
kami Dahono Fitrianto (wartawan Kompas). Semoga semua amal baiknya diterima 
oleh-NYA dan diampuni segala salah dan dosanya. Amin

--- On Thu, 6/26/08, Beng Rahadian <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Beng Rahadian <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [pakarti] OOT: Turut Berduka untuk Pak Bei
To: "Paguyuban Kartunis" <[EMAIL PROTECTED] .com>
Date: Thursday, June 26, 2008, 12:19 PM








Turut kelhilangan atas meninggalnya seorang kartunis dan budayawan MASDI 
SOENARDI yang telah melahirkan tokoh Pak Bei di harian Suara Merdeka, Semarang

Beng Rahadian

------------ --------- --------- --------- --------- --------- ------

www.suaramerdeka. com
26 Juni 2008
Masdi "Pak Bei" Meninggal
Bercita-cita Dirikan Sanggar Tari Rakyat Borobudur

TAK hanya keluarga dan sahabat, Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni Borobudur 
juga sangat kehilangan dengan berpulangnya Masdi Soenardi (64), Rabu (25/6) 
dini hari sekitar pukul 02.30 di rumahnya Dusun Gedongan, Desa Wanurejo, 
Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Mantan kartunis Harian Suara Merdeka 
dengan rubrik ’’Pak Bei’’, menetap di tanah kelahiran istrinya, Murtilam, di 
pinggir Kali Sileng. 

Almarhum bisa merangkul seniman di
 kaki Candi Borobudur, sehingga dia didaulat menjadi penasihat Paguyuban 
Masyarakat Pecinta Seni Borobudur. 
’’Kemarin (24/6) Pak Bei sehari tiga kali ke rumah saya, pagi, kemudian siang 
ketika mengantar istrinya belanja, dan sore hari. Minta diadakan pertemuan 
seniman pada 29 Juni 2008 membahas rencana mendirikan sanggar seni tari rakyat 
Borobudur. Jenengan menyiapkan kuenya, wedange saya,’’ kata Ketua Paguyuban 
Masyarakat Pecinta Seni Borobudur, Sucoro menirukan permintaan Masdi.

Karena itu, Pimpinan Warung Info Jagad Cleguk Borobudur itu seakan tidak 
percaya ketika diberitahu ’’Pak Bei’’ meninggal. Cita-cita almarhum, sanggar 
seni tari itu untuk nguri-uri kesenian rakyat yang banyak tersebar di daerah 
tersebut.

Film Pak BeiBukan hanya itu cita-cita almarhum yang belum terealisasi. Sucoro 
menerangkan, dalam waktu dekat cerita ’’Pak Bei’’ akan dibuat film, pemain 
utamanya Susilo, yang dikenal sebagai Den Baguse Ngarso pada serial TVRI 
Yogyakarta.

Pesan Pak Kancil-panggilan akrab Masdi, keberhasilan karyanya difilmkan agar 
bisa dicontoh seniman Borobudur. ’’Ini contoh bagi seniman-seniman muda 
Borobudur agar terus berkarya. Suatu saat karyanya pasti akan dihargai,’’ 
ungkap Sucoro mengutip petuah almarhum.

Pelukis Borobudur, Umar Chusaeni mengatakan, almarhum merupakan kartunis di 
Jateng yang karyanya sangat menarik. Dia juga penyemangat seniman di Borobudur. 
Setelah pulang ke kampung halamannya, almarhum diterima baik semua seniman di 
sini, bahkan dianggap sebagai tokoh panutan. ’’Masukan-masukannya sangat 
positif bagi kemajuan seni di Borobudur. Kami sangat kehilangan seorang tokoh 
seniman,’’ kata Umar yang berjumpa
 tiga hari yang lalu.

Murtilam, istrinya, tidak menyangka kalau suaminya akan meninggalkan keluarga 
selamanya.  Sehabis nonton acara ’’Empat Mata’’ almarhum mengeluh sesak napas. 
Dia memang menderita penyakit jantung, dan sudah tujuh bulan tidak kontrol ke 
dokter. Alasannya, kondisi badannya sangat sehat. ’’Saya berusaha minta bantuan 
tetangga untuk mengantarnya ke dokter. Bapak saat itu tiduran di kursi, saya 
kira memang sudah tidur. Ketika dibangunkan ternyata sudah meninggal,’’ 
ungkapnya sendu.

Edi Warsito, anak kedua almarhum membenarkan ayahnya memang bercita-cita 
mendirikan sanggar seni di pinggir rumahnya. Namun rencana itu mundur terus 
karena terbentur dana.

Masdi meninggalkan istri, Murtilam, empat anak dan tiga cucu. Keempat anaknya 
adalah Sutopo Wintarto, Edi Warsito, Dahono Fitrianto, dan Inten Esti Pratiwi. 
Cucunya, Aria Danang Wijanarko, Ariana Nareswari, dan Luna Cahya Kinasih. 
Selamat jalan Pak
 Bei, karyamu tetap dikenang sepanjang masa, dan pasti dilanjutkan para seniman 
di kaki Candi Borobudur. (Doddy Ardjono-62) 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com 


      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke