Assalamulaikum Wr Wb,

Cerita pak doto ini adalah mengenai politik organisasi, di organisasi, di
perusahaan hal seperti ini selalu terjadi. Tadi pagi dibahas juga oleh Mario
Teguh dalam acara biz talk nya di radio Bisnis FM. Selalu saja ada orang
orang yang bisa dekat dengan para pimpinan dalam sebuah organisasi, yang
bisa menyenangkan mereka dengan bisikan-bisikan, dengan menyampaikan
kesalahan orang lain - baik kesalahan karyawan atau kesalahan pimpinan
lainnya.

Mereka ini selalu saja punya jalan untuk berhasil apakah dengan mula-mula
membawakan kue kegemaran si sekretaris, kemudian dekat dengan boss si
sekretaris, kemudian tau apa kesenangan si boss. Kalau si boss suka main
golf, dicarikannya majalah golf, kalau si boss suka musik klasik dicarikan
rekaman yang bagus. Setelah mulai dekat dengan boss, kemudian dicarikan
kebutuhan boss lainnya, apakah kebutuhan karir atau kebutuhan pribadi
lainnya.

Orang orang seperti ini tidak melakukan hal-hal yang diperlukan perusahaan
untuk maju dalam perusahaan, melainkan melakukan hal-hal yang menyenangkan
pengambil keputusan. Dengan cara ini dia berusaha menanam budi kepada orang
tersebut dengan harapan akan memperoleh imbalan demi kepentingannya. Imbalan
tersebut bisa merupakan kesempatan di tunjuk untuk melaksanakan proyek
khusus, misalnya memimpin acara olah raga bersama, acara halal bi halal.
Atau setelah itu, karena dianggap cakap bisa saja di beri kesempatan untuk
tugas belajar keluar negeri.

Kembali ke Pemilu, sebenarnya yang berhasil dilakukan oleh capres-cawapres
adalah jeli memilih topik apa yang menarik dimata para pengambil keputusan,
yaitu rakyat yang nyoblos. Ada yang mengangkat isu wareg-waras-warih, ada
yang menekankan "image" sebagai pemimpin yang kuat dan tenang dengan
mengendalikan cara berbicara dan berakting didepan panggung, layaknya
seperti sang bima. Ada yang mempercantik diri dan selalu mempermainkan
lirikan matanya sehingga merasa pantas untuk dipilih rakyat sebagi sang
ratu.

Karena tau bahwa para pengambil keputusan adalah rakyat yang biasa-biasa
saja. Kepintaran tidaklah menjadi ukuran, asal ada gelar sudah cukup, mau
drs, dr, mau Dr, mau H atau KH tidak jadi soal. Jadi kalau ada calon yang
mengangkat dirinya sebagai orang yang bisa dipercaya, orang yang jujur,
orang yang amanah, orang yang berani mengambil keputusan, tidaklah laku
dimata para "pengambil keputusan". Kecuali dikalangan orang-orang yang
terdidik dan orang-orang yang selalu membaca seperti dikota besar.

Ada satu yang membanggakan bahwa rakyat di Sumbar dan di Aceh dari hasil
sementara ini terbukti merupakan orang-orang yang bisa membaca dan bisa
memahami lebih baik sehingga tidak termasuk dalam para pemilih kebanyakan.
Jadi kalau kita bijak, yang perlu dilakukan adalah memupuk terus modal yang
ada di kampuang awak ini sehingga akan terus menerus memancar kembali
hal-hal yang membanggakan dari Minang and beyond. Mohon maaf apabila ada
yang tidak pada tempatnya.

Wassalam,
Ridwan


----- Original Message -----
From: "rahyussalim" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, July 07, 2004 5:02 AM
Subject: RE: TPS 100 hitunglah baliak Re: [EMAIL PROTECTED] pemilu


> Assalamualaikum tuk kasadonyo
> Sato lo ciek manyolo...
>
> Aku jadi teringat semasa sd dulu. Kelas 1 sd nan manjadi ketua kelas tuh
> anak guru nan pandai balagu (bernyanyi bukan belagu ye..). Kelas 2 sd
> kembali dia terpilih karena dia bisa menari. Kelas 3 sd dia terpilih lagi
> karena dia sering bawa kue dari rumah. Kelas 4 sd dia terpilih lagi karena
> semua guru mengenalnya.
cut



____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting 
___________________________________________________

Kirim email ke