Menurut Dr. Mochtar Pabottingi ---yang dikenal sebagai seorang intelektual dan demokrat “par excellence”---seperti dikutip detik.com, Amien Rais dinilai sebagai calon presiden yang paling kredibel memimpin bangsa. Namun, ketum PAN itu kemungkinan besar tidak akan melaju ke pemilu presiden/wapres putaran kedua. Masih menurut Pabottingi , hal ini menunjukkan masyarakat Indonesia belum bisa menentukan pilihannya secara rasional.

Apaboleh buat, rasional atau bukan, Pemilu pada akhirnya memang ditentukan oleh jumlah suara yang memilih dan bukan yang lainnya. Dan sebagaimana laiknya sebuah kompetisi, dalam sebuah Pemilu pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Dan para pemilih---dalam Pemilu yang relatif aman dan berlangsung dengan baik---akhirnya sudah menentukan pilihan mereka. Amien-Siswono, tokoh-tokoh yang bersih, tidak punya beban masa lalu, sangat menguasai permasalahan yang ada di masyarakat, serta mempunyai keberpihakan yang sangat jelas kepada rakyat kecil, hampir dipastikan tereliminasi justru oleh rakyat kecil yang justru lebih banyak yang terpesona kepada gaya, karisma dan kesetiaan buta kepada Sang Idola.

Kekalahan memang membuat kecewa, tetapi akhirnya harus diterima dengan legawa dan lapang dada. Lagi pula walaupun kalah, pasangan Amien-Siswono kalah secara terhormat. Sebagai pasangan yang tidak didukung oleh mesin politik yang hebat, trik-trik para birokrat dan limpahan dana kampanye dari para konglomerat, hasil perolehan suara pasangan ini tidak buruk-buruk amat. Sampai saat ini saja pasangan ini sudah mendapat suara lebih dari dua kali pendukung PAN pada Pemilu legislatif yang lalu.

Tetapi pilihan dan dukungan terhadap calon pimpinan bangsa tentu tidak sama dengan pilihan dan dukungan terhadap sebuah kesebelasan dalam kompetisi sepakbola Piala Eropa. Hari ini mendukung Inggris, besok dukung Prancis dan lusa dukung Portugis tentu boleh-boleh saja. Tidak ada akuntabilitas, kecuali bila Anda seorang petaruh, salah mendukung doku melayang. Pilihan dalam Pilpres adalah bagian dari kewajiban dan tanggung jawab berbangsa dan bernegara. Dalam perspektif ini sangat besarnya keinginan mayoritas pendukung Amien-Siswono untuk Golput pada Pilpres putaran kedua, seperti yang terekam dari e-mail yang diterima dan dilaporkan Detik.com, suatu hal yang dapat diterima dan dimaklumi, karena dasar mayoritas pendukung memilih Amien-Siswono adalah rasionalitas dan hati nurani dan bukan yang lainnya, apalagi dukungan buta ala cap jempol darah. “Kalau Amien-Siswono kalah, saya mah mendingan golput aja...Kecuali kalau Amien Rais akan dijadikan Jaksa Agung oleh capres tertentu & beliau bersedia. Saya pasti akan mendukung capres tersebut. Saya rasa hanya Amien Rais yang punya komitmen jelas untuk memberantas korupsi. Jujur, cerdas, berani dan yang paling penting Amien Rais tidak punya hutang budi atau sangkut paut dengan para koruptor, jadi doi tidak akan segan-segan untuk menindak para koruptor,” tulis Dady Maskar, mahasiswa program pasca sarjana UI, seperti dikutip detik.com.

Pemilu berjangka waktu 5 tahun, tetapi demokrasi sebuah proses yang tidak pernah berhenti, dan Republik tercinta ini kita harapkan akan eksis sampai dunia kiamat. Pemilu tidak hanya bagian tetapi juga sebuah pembelajaran demokrasi. Kalau dalam Pilpres 2004 bangsa ini keliru memilih pemimpin, akan membuat bangsa ini lebih arif dan diharapkan tidak mengulangi kesalahan yang sama pada Pilpres 2009 dan pilpres-pilpres berikutnya.

Karena sangat penting bagi Pak Amien dan Pak Siswono untuk mengambil keputusan yang strategis, yaitu seperti yang disarankan Mochtar Pabottingi, agar netral dalam Pilpres putaran kedua, serta menyerahkan pilihan para pendukung kepada pertimbangan hati nurani masing-masing, termasuk pilihan untuk Golput tentunya.

Dan juga sangat penting bagi Bapak-Bapak berdua, yang sudah “terlanjur” di mata para pendukung sebagai pasangan yang begitu padu, serasi dan sinerjik, untuk memutuskan berada di luar politik praktis, memberikan kesempatan kepada Capres dan Cawapres terpilih untuk memenuhi janji-janji mereka selama kampanye. Dalam posisi ini Bapak-Bapak berdua dapat terus melakukan advokasi bagi petani, nelayan, buruh kecil, pedagang kecil, para terkait dan mereka-mereka yang termarjinalisasi lainnya misalnya dengan memperluat dan memperluas Amien Rais Center menjadi Amien-Siswono Center sebagai wahana perjuangan. PAN diinstruksikan menjadi oposisi saja. Artinya harus berada di luar kabinet, karena kalau tidak itu merupakan “hil yang mustahal”. Pak Amien dalam posisi ini lebih mudah mengendalikan PAN---yang waktu ini diketahui berisi sejumlah parasit dan profitur sehingga sering tidak jelas juntrungan ---agar bisa menunjukkan kinerja di Parlemen yang benar-benar berpihak kepada demokrasi dan rakyat kecil. Yang neko-neko suruh pergi saja dari PAN!

Kalau Bapak-Bapak berdua tidak netral, apalagi kalau pertimbangan mendukung ini atau mendukung itu sekedar bagi-bagi kekuasan, maka kredibilitas Bapak-Bapak di mata pendukung akan hancur.

Dan di sini Amien-Siswono benar-benar kalah. Kalah dalam kehinaan!

Dan kita siap mengucapkan selamat jalan kepada moralitas dalam berpolitik.

Wassalam, Darwin
(Yang sudah mantap untuk Golput pada Pilpres putaran kedua)

============================================================================================================


Amien Kalah Bukti Masyarakat Belum Rasional Reporter: Arifin Asydhad

(Minggu, 11 Juli 2004)

detikcom - Jakarta, Amien Rais dinilai sebagai calon presiden yang paling kredibel memimpin bangsa. Namun, ketum PAN itu kemungkinan besar tidak akan melaju ke pemilu presiden/wapres putaran kedua. Hal ini menunjukkan masyarakat Indonesia belum bisa menentukan pilihannya secara rasional.

Penilaian itu disampaikan pengamat politik Mochtar Pabottingi kepada detikcom, Sabtu (10/7/2004). Bagi Pabottinggi, Amien sebenarnya merupakan sosok yang paling baik kredibilitasnya, baik track record, keberanian, maupun program-programnya.

Sayang, Amien tidak masuk ke putaran kedua. Padahal, selama ini Amien selalu tampak terbuka dan paling sering menghadiri acara debat calon presiden, yang merupakan upaya sangat baik dalam penciptaan demokrasi.

“Tapi, ternyata tidak semua masyarakat terpengaruh dengan debat ini. Dan dimana-mana, capres yang ideal itu belum tentu dipilih masyarakat. Dan selama ini, masyarakat bawah memilih calonnya, karena ‘pokoknya’, yang lebih bersifat emosional dan tidak rasional. Dan jumlah pemilih seperti ini ternyata sangat banyak, jauh dari perkiraan saya sebelumnya,” kata dia.

Tapi, menurut Pabottingi, sebuah pertandingan, biasa ada yang kalah dan ada yang menang. Karena itu, menurut dia, sikap yang paling baik dilakukan Amien ini dalam pemilihan presiden putaran kedua, adalah netral, tidak mendukung salah satu capres dari duet tertentu.

“Saya kira, Amien sebaiknya diam sajalah. Jangan mendukung siapa-siapa dan jangan menggerakkan massanya untuk golput. Kita lihat nanti, apakah Pak Amien akan kembali ke kampus atau tidak,” ungkapnya.

Golput Kurang Baik

Mengenai sikap golput yang akan diusung pendukung Amien Rais-Siswono pada pilpres putaran II, menurut Pabottingi, kurang bijaksana. Memang, golput merupakan hak, tapi masyarakat seharusnya bisa tetap menggunakan hak pilihnya dengan melihat dulu berat-ringan risikonya.

“Saya sendiri tidak sependapat dengan golput. Kita bisa mengukur, mana yang lebih berat risikonya. Memang, jika ada capres ideal tidak terpilih, kita tentu tidak puas dan kecewa, tapi sebaiknya tidak golput,” ungkapnya.

Ditanya siapa yang lebih kecil risikonya, Megawati atau SBY, Pabottingi menilai, SBY memiliki risiko lebih berat bagi perkembangan demokrasi dan kemajuan bangsa. Pasalnya, jika SBY terpilih, dikhawatirkan maraknya kembali bisnis militer dan militerisme.(rif)



____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ___________________________________________________

Kirim email ke