Ass, wr, wb.
 
Iko ado pakiriman urang nan paralu kito renungkan dan camkan.
Mudah2an ado manfaatnyo. Bagi nan alah manarimonyo delete sajo
 
Wassalam,
M.St.Bangsawan
 
 
Sent: Friday, June 11, 2004 1:50 PM
Subject: Detik-Detik yang Sangat Berharga

http://www.eramuslim.com
Detik-Detik yang Sangat Berharga


Seorang menteri di Baghdad telah berlaku lalim terhadap kekayaan seorang
wanita tua. Hartanya dirampas dan semua hak wanita itu dirampok. Tapi si
wanita itu dengan berani mengadukan kelaliman itu kepada menteri dimaksud
sambil menangis dan memprotes kekejamannya. Sang menteri sama sekali
bergeming dan tak menyadari kekejamannya terhadap si wanita.

Wanita itu kemudian mengancam, "Jika engkau tidak menyadarinya juga, aku akan
memohon kepada Allah agar engkau celaka." Menteri itu malah tertawa terkekeh-
kekeh dan mengejek wanita itu seraya berkata dengan angkuh, "Berdoalah di
sepertiga akhir malam." Wanita itupun pergi meninggalkannya.

Setiap hari, pada sepertiga malam terakhir, ia selalu berdoa. Tak berapa
lama kemudian, menteri itu dimakzulkan, dan seluruh hartanya disita. Ia
diikat di tengah pasar dan dicambuk sebagai hukuman ta'zir atas kejahatannya
kepada rakyat. Pada saat itu si wanita tua lewat, dan melihat siapa yang
diikat. Katanya, "Engkau benar. Engkau telah menganjurkan kepadaku untuk
berdoa di sepertiga malam terakhir, dan terbukti sepertiga terakhir malam
itu memang waktu paling baik."

***

Sepertiga malam itu sangat mahal dalam kehidupan kita, sangat berharga.
Sebab itulah Rabb Yang maha Mulia berfirman. "Adakah seseorang yang meminta
kepada-Ku, maka akan Aku berikan apa yang dia minta, adakah orang yang
meminta ampun kepada-Ku sehingga aku ampuni dia, dan adakah orang yang berdoa
kepada-Ku lalu Aku kabulkan doanya."

Sedari remaja, dan dari sekian banyak cerita yang pernah saya dengar, ada
sebuah peristiwa yang sangat membekas dalam hidupku yang tidak mungkin saya
lupakan. Yang saya rasakan saat itu adalah bahwa tak ada yang lebih dekat
daripada Dzat Yang Maha Dekat, yang memiliki jalan keluar, pertolongan, dan
kebaikan.

Ceritanya begini, waktu itu saya bersama sejumlah penumpang lainnya terbang
dari Abha menuju Riyadh, bertepatan dengan pecahnya Krisis Teluk. Di dalam
pesawat yang sedang terbang itu, dikabarkan kepada seluruh penumpang bahwa
pesawat akan kembali ke bandara Abha karena ada kerusakan. Kamipun kembali
ke Abha, dan kru memperbaiki pesawat.

Setelah kerusakan diperbaiki, kami terbang lagi. Namun ketika kami sudah
mendekati Riyadh, roda pesawat tak mau turun. Selama satu jam, pesawat hanya
berputar-putar di atas kota Riyadh. Pilot telah berusaha melakukan pendaratan
sebanyak sepuluh kali namun setiap kali sudah dekat ke landasan dan berusaha
mendarat selalu gagal, dan pesawatpun terbang lagi. Saat itu kami panik, dan
banyak diantara kami yang sudah pasrah.

Para penumpang wanita menangis. Saya lihat air mata mengalir deras di pipi.
Kini kami berada di antara langit dan bumi menunggu kematian yang bisa lebih
cepat dari kerdipan mata. Teringat olehku segalanya, namun tak ada yang lebih
baik dari amal shaleh. Hati saya segera tertuju kepada Allah dan alam
akhirat. Dan, dunia menjadi sangat tidak berharga.

Saat itu, yang selalu keluar dari bibir kami adalah, Laa Ilaaha ilallallaah
wahduhu laa syariikalah lahul mulk wa lahul hamd wa huwa'alaa kulli syai'in
qadiir
(Tidak ada Ilah selain Allah, satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya,
kepunyaan-Nya semuau kerajaan dan pujian, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).

Kalimat ini meluncur dengan jujur dari bibir kami. Seorang Syaikh yang sudah
berumur berdiri dan berseru kepada seluruh penumpang untuk meminta
perlindungan kepada Allah, berdo'a kepada-Nya, memohon ampunan-Nya, dan
bertobat atas segala kesalahannya.

"Allah sendiri telah menjelaskan tentang sifat manusia, Maka tatkala mereka
naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya"

(QS Al-'Ankabut: 65)

Kamipun berdoa kepada Dzat Yang Mengabulkan doa orang yang dalam keadaan
terjepit, seperti yang dilakukan oleh orang yang terjepit. Kami betul-betul
khusyu' dalam doa kami. Tak berapa lama, pada usaha yang kesebelas dan
keduabelas kami bisa mendarat dengan selamat. Ketika turun dari pesawat kami
seperti baru saja keluar dari kuburan. Jiwa kami kembali seperti sedia kala,
air mata sudah mengering, dan senyuman kembali mengembang. Sungguh agung
kebaikan Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi itu.

Berapa banyak kita memohon kepada Allah saat bahaya menimpa, tatkala bencana
itu hilang kita melupakan-Nya.

Di lautan kita berdoa kepada-Nya agar kapal kita selamat, namun ketika sudah
kembali ke darat kita durhaka kepada-Nya.

Kita menaiki angkasa dengan aman dan santai, tidak jatuh karena Yang menjaga
adalah Allah.

Semua ini adalah kebaikan dan bantuan Yang Maha Pencipta.

***

Sumber: Laa Tahzan, karya Dr. Aidh Al-Qarni, terbitan Qisthi Press.


____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting 
___________________________________________________

Kirim email ke