Tapi sangat disayangkan lagi, yang ada ajah nggak bisa dirawat, gimana Pemda
kita mau usahain yang diluar negeri yang terawat dengan baik itu.
Tampaknya, para anak cucu kita nantinya kalau mau mengetahui tentang
Minangkabau, yahhh mesti ke Laiden sana.
--------------------------------------------------

Koleksi-koleksi Kebudayaan Minangkabau Rusak

Padangpanjang, Kompas
Ratusan foto-foto bernilai tinggi dan bersejarah, serta teks-teks langka
tentang kebudayaan Minangkabau di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan
Minangkabau (PDIKM) di Kota Padangpanjang, Sumatera Barat, kini dalam
keadaan rusak dan melapuk.

"Sangat kita sayangkan, ratusan foto yang sedemikian langka, bersejarah, dan
unik tentang kebudayaan Minangkabau rusak. Seharusnya pemerintah daerah
memberikan perhatian serius kepada aset yang bernilai tinggi dan menunjang
pariwisata ini," kata Rusdi, pengunjung PDIKM, Senin (20/11).

Berdasarkan pengamatan Kompas, ratusan foto yang dipajang di dinding lantai
bawah dan atas bangunan PDIKM yang berarsitektur bagonjong itu rusak karena
embun. Begitu juga foto-foto yang disimpan dalam album. Tidak hanya foto,
koleksi teks-teks juga mengalami proses pelapukan karena jamur.

Menurut data, di PDIKM terdapat koleksi foto album 112 buah, foto yang
dibingkai (682), mikrofilm (195), buku sekitar (3.115), kaset (335), majalah
(1.065), alat musik (74), kliping yang dibukukan (400), dan koleksi makalah
(251 judul). Setiap tahun pengunjung ke PDIKM berjumlah rata-rata
27.000-35.000 orang.

Sejak berdiri tahun 1991, koleksi-koleksi PDIKM ini menjadi sumber
penelitian para peneliti asing dan Indonesia. Sejak tujuh tahun terakhir
tercatat 151 orang peneliti Indonesia dan 81 orang peneliti asing melakukan
penelitian kebudayaan Minangkabau di situ.

Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat Edy Utama ketika diminta tanggapannya,
Senin (20/11), di Padang, membenarkan telah terjadi pelapukan dan rusaknya
koleksi-koleksi foto dan teks-teks tentang kebudayaan Minangkabau.

"Kita prihatin, namun itulah adanya. Kemampuan kita baru sebatas itu.
Seharusnya, ruangan-ruangan PDIKM itu dilengkapi AC. Untuk mendapatkan
foto-foto yang rusak itu memerlukan biaya mahal, kita harus kembali ke
Belanda untuk mereproduksinya," katanya.

Menurut Edy Utama, Kota Padangpanjang yang bercuaca lembab memang sangat
tidak bagus untuk kepentingan dokumentasi. Apalagi ruang-ruang yang ada
tidak ber-AC, sehingga dengan mudah koleksi-koleksi bernilai rusak dan
berjamur.

Keberadaan PDIKM, lanjutnya, sangat penting bagi orang Minangkabau sendiri,
untuk mempelajari kembali dan meneliti tentang kebudayaan Minang, yang
hingga saat ini tetap dikagumi banyak peneliti asing. "Oleh karena itu,
sudah sepatutnya pemerintah memberikan perhatian yang serius untuk
mengantisipasi rusak dan berjamur koleksi-koleksi di PDIKM," tandas Edy
Utama, yang juga dikenal sebagai salah seorang peneliti kesenian tradisional
Minangkabau. (nal)





____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke