Menyaksikan perkembangan politik di Tanah Air dewasa ini seperti mengamati metamorfosa 
kupu-kupu. Dari ulat kecil penghuni kepompong lalu tumbuh sayap dan terbang dengan 
bebasnya dari bunga ke bunga lain, kemudian kembali jadi ulat .
 Para politisi yang aktif di kancah politik praktis pun tidak ubahnya seperti 
kupu-kupu itu. Mereka terbang sekejap di wilayah kekuasaan, tanpa dibekali ideologi 
yang jelas kemudian tersisih akibat munculnya politisi-politisi baru yang kebanyakan 
juga awam politik, apalagi ideologi. Ada pula yang berulah seperti kutu kambing, 
meloncat dari satu parpol ke parpol lain, tanpa mau tahu ideologi maupun platform 
parpol baru yang dimasukinya. . Fenomena memprihatinkan ini merupakan bukti bahwa 
banyak politisi tanpa dibekali cita-cita politik atau ideologi. Ironisnya, di antara 
mereka banyak juga yang melanjutkan lagi karirnya sebagai wakil rakyat untuk periode 
berikut, karena undang-undang atau hukum tidak melarangnya. 
''Kita ingin perubahan!'' merupakan iklan politik yang terdengar kian gampang 
diucapkan orang sejak kampanye Pilpres putaran pertama, 5 Juli lalu dan semakin 
menggema menjelang Pilpres putaran kedua, 20 September mendatang. Saya menganggap 
kalimat singkat itu hanya semiotika bahasa. Hampir semua pelontar ucapan ''Kita ingin 
perubahan!'' tersebut tidak bisa menjelaskan gagasan yang terkandung dalam kalimat 
itu. Akhirnya muncul kesan, kalau yang dimaksudkan dengan perubahan hanyalah 
pergantian rezim, seperti bus tua berganti sopir dan kondektur. Padahal calon sopir 
dan kondektur baru belum tentu lebih mengerti elemen-elemen mesin yang sering 
menyebabkan mobil mogok atau tidak mampu menanjak dan melaju kencang. 

Sedangkan untuk mengganti bus dengan kendaraan baru, adalah hal yang tidak mungkin, 
karena mereka cuma sopir dan kondektur, bukan pemilik mobil. Lagi pula, kondisi mesin 
yang tidak stabil bukan ulah dari sopir dan kondektur yang hendak digantikan, namun 
akibat kerakusan dan kekasaran kru bus sebelumnya yang lengser, dengan memilih rute 
yang tidak layak dan mengabaikan aspek pemeliharaan.  mungkin perubahan yang begitu 
cepat hanya ada  dalam dunia sulap. Pesulap bisa mengubah sapu tangan jadi merpati, 
dengan kecepatan tangan atau hipnotisme, namun bukan untuk selamanya. Demikian pula 
semiotika dalam revolusi informasi dan komunikasi yang gencar lewat media elektronik 
dan cyberspace, mengubah kebohongan jadi kebenaran, fiksi jadi kenyataan. 

Kepenatan nalar akibat pergolakan politik kekuasaan yang terus menerus di tingkat 
internasional maupun nasional, menyebabkan sebagian besar konsumen media terbius magis 
pencitraan. Tidak peduli yang dilihat dan didengarnya bohong atau benar, khayal atau 
nyata, baik atau buruk, yang penting baru dan menghibur. Narasi besar yang mengandung 
paparan njelimet tentang sesuatu tidak dibutuhkan dan diabaikan para konsumen media. 
Sebaliknya, narasi kecil dan sepotong-sepotong, meski tidak dipahami maknanya, jadi 
populer. Karenanya, telenovela  lebih digandrungi dibanding cerita serius. Bahkan 
sejarah tidak diminati karena kebanyakan pemirsa lebih suka gosip tentang para 
selebritis, sehingga terjadi amnesia sejarah. Mereka tidak peduli masa lampau 
mempersetankan masa depan, yang penting masa kini yang abadi. 

 

zul amry piliang.


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke