Tetap menjadi sebuah pertanyaan menarik, ttg mengapa di akhir abad 19 dan awal abad 20 , ranah minang menghasilkan orang2 yg secara umum di tataran nasional waktu itu ( hindia belanda ) cukup berhasil dan maju , dibanding etnis lain, terbukti dg banyak tokoh bangsa waktu itu dari ranah minang.
ada berbagai hipotesa sementara utk hal tsb, antara lain : dataran tinggi minang relatif subur dan maju , terbukti dg dibangun nya rel kereta api dan pelabuhan laut oleh belanda serta keberadaan komunitas belanda di padang. perdagangan cukup maju, sehingga secara ekonomi lebih maju Alam nya indah dan subur, sehingga banyak tumbuh tumbuhan yg bagus bagi kesehatan serta udara segar yg semuanya positif efeknya bagi perkembangan otak Sikap budaya yg egaliter , membangun suasana yg terbuka untuk pertukaran pikiran /debat , mulai dari level mahota di lapau sampai diskusi serius di balai adat. banyak nya orang minang waktu itu yg mendapat kesempatan bersekolah, serta banyaknya sekolah/madrasah di sana dan banyak alasan lain nya , yg membuat hal tsb tak berlaku lagi saat ini ; by the way, Ado kawan ambo nan punyo argumen agak lain pulo, sedikit kontroversial , baiko caritonyo ; Pada masyarakat minang di abad 17 sampai 19 , banyak ditemui kenyataan , bahwa tokoh tokoh masyarakat, datuak, orang cerdik pandai , ulama sampai pareman jago silek sekalipun , biasanya punya istri lebih dari satu dan banyak anaknya. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat bahwa mereka yg pintar tsb ( tokoh masyarakat ) , sering diminta pada suatu daerah/nagari untuk menjadi minantu nyo pulo , dikawinkan dg anak gadis di daerah tsb, dg harapan bahwa kelak akan lahir keturunan orang pintar/hebat di daerah tsb . Sistem matrilineal memberi ruang pula utk hal tsb, karena anak yg dilahirkan kelak, akan terjamin dalam komunitas keluarga ibu nya ( walau tak lagi disantuni ayah nya ,bilamana ayah biologis nya pergi kelak ). Tapi biasanya pada lelaki yg biasa2 saja, tak dikenal prestasinya , hanya orang biasa , istrinya satu saja , karena nampaknya tak ada calon mertua yg berminat mengambilnya sbg menantu. ( sebagaimana pernah diceritakan pada email mak sati sebelumnya ) Bila hal tsb berlangsung pada beberapa generasi, secara statistik maka akan banyak lahir generasi baru yg secara genetik relatif unggul ( pintar,cerdik dll ) karena berasal dari ayah yg cerdas pula . pada abad 20 , kebiasaan tsb telah mulai berkurang , bisa kita lihat bahwa tokoh2 besar dari etnis minang, anaknya tak banyak , tak ada generasi penerusnya. Sebenarnya hal yg sama pun terjadi di etnis jawa , sunda , dimana dulu , para priyayi /ningrat banyak pula punya istri tapi biasanya tak resmi ( selir,simpanan dll ) , beda dg di ranah minang, yg dikawin resmi. Coba masing2 kita ingat, leluhur kita, kakek/inyiak ke atas , mereka yg dulunya adalah tokoh masyarakat biasanya punya istri lebih dari satu dan anaknya banyak. di jawa/sunda, dasarnya pun bukan lah karena kecerdasan, tapi lebih berdasar pada "keturunan darah biru" kaum priyayi, ningrat , bodoh atau cerdas tak masalah yg penting turunan ningrat. di minang karena mereka anak resmi ( dari istri istri yg lain ) sehingga mereka dapat hak utk sekolah dll , beda dg di jawa/sunda , karena mereka anak selir /istri simpanan , tak mendapat hak yg sama utk sekolah dll. ( kasus keributan di kraton Kanoman Cirebon dan kraton Surakarta dalam perebutan tahta sultan , adalah juga karena hal tsb , terjadi perebutan kekuasaan antara anak permaisuri dg anak selir ) Jadi hipotesa sementaranya ialah bahwa karena di masyarakat minang tempo dulu, tokoh masyarakat nya yg secara genetik unggul ( cerdas, pintar, kaya dll ) , punya anak banyak, secara statistik akan bertambah populasi orang2 yg secara genetik unggul pula. Mungkin analisa sementara tsb cukup naif dan seperti mengada ngada tapi cukup realistis juga ,mudah2 an bisa sedikit mengungkap misteri mengapa orang minang dulu maju dan sekarang tidak. mungkin ado mamak, dunsanak nan bisa memberikan analisa lain thd hal tsb , mungkin bisa memperkaya urun rembuk awak basamo mohon maaf pulo (khususnya pada kaum perempuan ), kalau ado nan kurang setuju, atau tersinggung , itu semua hanya sekedar hipotesa /perkiraan belaka . Semoga ada manfaatnya bagi kita bersama , kalau salah mohon lah dimaafkan pulo , bak kata pepatah "talapeh kecek badan binaso" wassalam HM Jkt ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

