In [EMAIL PROTECTED], "amanaf_99" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Berguru kepada Allah 2/2
Perbuatan Manusia
Tinjauan filsafat yang lebih menonjol terhadap manusia adalah
menyangkut kebebasan. Perbuatan manusia dilihat dari segi
efektivitasnya. Pandangan terhadap hal ini mempunyai akar pada
konsepsi tentang hakikat manusia dan daya-daya yang dimilikinya.
Apabila manusia mempunyai hakikat dengan daya-daya yang efektif pada
dirinya, ia dengan sendirinya adalah pelaku perbuatan-perbuatannya.
Sebaliknya, apabila manusia dipandang tidak mempunyai daya-daya yang
efektif pada dirinya, perbuatan-perbuatannya, pada dasarnya, tidak
berasal dari dirinya sendiri. Perbuatan-perbuatan itu merupakan hasil
determinasi kekuatan-kekuatan lain diluar dirinya. Manusia dalam hal
ini tempat berlakunya kekuatan-kekuatan itu.
Menurut Al Ghazaly didalam Ma'arij al quds, perbuatan adalah bagian
dari gerak. Apabila gerak dikaitkan dengan manusia, maka gerak
tersebut dapat dibedakan atas gerak yang tidak disadari (at thabi'i)
dan gerak yang disadari (al iradiyyat). Gerak yang tidak disadari,
kita sudah maklumi bahwa tubuh manusia dikatakan miniatur alam
semesta, dimana unsur-unsur alam bergerak dan berkembang mengikuti
perintah dan peraturan- peraturan Allah semata.
Dalam tulisan ini, yang hendak dikemukakan adalah persoalan perbuatan
yang disadari, karena perbuatan inilah yang terjadi secara jelas
melalui proses tertentu di dalam jiwa dan berhubungan dengan
pengungkapan diri. Perbuatan yang disadari, disebut juga dengan
perbuatan bebas (ikhtiyaari), perbuatan semacam ini menurut Al
Ghazaly terjadi setelah melalui tiga tahap peristiwa dalam diri
manusia, yaitu pengetahuan, kemauan (al iradat) dan kemampuan (al
qudrat). Yang lebih dekat diantara ketiga tahap itu dengan wujud
perbuatan adalah al qudrat. Al qudrat adalah daya penggerak dari jiwa
sensitive yaitu makna yang tersimpan dalam otot-otot. Ia adalah momen
terakhir yang secara langsung berhubungann dengan wujud perbuatan.
Fungsi al qudrat pada dasarnya ialah menggerakkan tubuh. Bentuk
gerakan tubuh ditentukan oleh kemauan atau iradat. Berdasarkan salah
satu kecenderungan yang inheren didalamnya : positif atau negatif.
Positif sebagai reaksi terhadap yang menguntungkan dan negatif
sebagai reaksi terhadap hal yang merugikan. Dengan pengertian ini,
semestinya pada al iradat terdapat kegiatan memilih. Al iradat
(kemauan) mempunyai intensitas kepada proses sesudahnya al qudrat.
Artinya ia bersifat aktif terhadap al qudrat, sehingga yang disebut
terakhir ini menjadi aktual, tidak sekedar potensi. Al iradat tidak
mempunyai intesitas kepada proses sebelumnya, yaitu pengetahuan,
sebagaimana al qudrat tidak mempunyai intensitas kepada iradat. Al
qudrat hanya mempunyai intensitas kepada wujud perbuatan. Berbeda
dengan al qudrat, al iradat mempunyai "kekuasaan" yang lebih besar
karena ia tidak menerima perintah dari daya sebelumnya, ia mempunyai
inisiatif memilih, al iradat menentukan pilihannya berdasarkan
pengetahuan.
Daya "mengetahui" mempunyai kekuasaan yang lebih besar daripada al
iradat , tetapi ia mempunyai hubungan yang jauh dan terlibat secara
langsung dengan perbuatan adalah al iradat dan al qudrat. Sepintas
lalu proses terwujudnya perbuatan ini memperlihatkan efektivitas
manusia, melalui iradat manusia mempunyai kebebasan dan melalui al
qudrat manusia mempunyai kemampuan pada dirinya untuk mewujudkan
perbuatan-perbuatannya. Disamping itu, Al Ghazaly menyatakan juga
didalam buku-buku filsafatnya, bahwa perbuatan-perbuatan manusia
terwujud dengan sebab "perbuatan Allah"
Namun demikian Al Ghazaly mendapat sorotan tajam dan dituduh sebagai
biang kerok kejumudan pemikiran ummat. Hal ini disebabkan banyak
kalangan yang kurang teliti melihat alur pemikiran Al Ghazali. Yang
dimaksud adalah andil Allah dalam setiap perilaku manusia maupun
makhluk dalam memberikan pengertian baik maupun buruk. Akan tetapi
Allah sudah membekali dan memberikan kebebasan untuk memilih dua hal
tersebut. Yang akan saya utarakan adalah persoalan awal sebelum
kehendak dan kemampuan berbuat itu muncul. Misalnya seorang penulis,
maupun pelukis, saat dimana ia melakukan perbuatan tersebut. Ia
sebenarnya hanya diam menunggu inspirasi datang kemudian muncul
kehendak lalu memerintahkan kemampuan atau iradat untuk melakukan
gerakan.
Pengetahuan ini sering disebut dengan pengertian awwali atau ide
besar yang belum berupa rangkaian huruf-huruf, bukan rumus-rumus
suara, Dia ada meliputi segenap jiwa dan alam. Ialah perintah-
perintah atau amar-amar Tuhan yang mengarahkan dan menggerakkan
segala-sesuatu. Ialah ruh yang suci, yang tidak bisa digambarkan oleh
fikiran, namun Ia hadir dengan perintahnya, tidak berupa suara dan
suasana. Dia berkata-kata kepada para penulis novel, dia melukis
bersama seniman, dia menuntun lebah merangkai sarangnya, dan semut-
semut pun mengerti apa yang mesti dilakukan dalam hidupnya.
Pengertian-pengertian itu datang mengalir secara murni tanpa ada
campur tangan makhluk apapun termasuk malaikat. Kita bisa rasakan
sendiri hal ini bahwa datangnya perintah terhadap tubuh maupun alam
secara alami berlaku pasrah maupun terpaksa. Kita perhatikan orang
yang sedang tidur. Ia berbaring tanpa dikendalikan lagi oleh kemauan
dan kekuasaan diri. Instrumen tubuh
bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing.bandingkan dengan
perilaku alam yang lain seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, matahari,
bumi dan planet-planet lainnya. Semua bergerak teratur menurut
perintah Allah. (lihat Surat Al Fushilat ayat 11-12).
Yang membedakan antara manusia dan makhluk lain adalah adanya iradat
dalam diri manusia sehingga ia bebas memilih untuk berbuat atau
tidak. Akan tetapi manusia tidak bisa menentukan gerakan Ilahi yang
mengalir dalam tubuhnya, yaitu gerak hakiki .
Gerak hakiki adalah gerak dimana Tuhan telah menentukan arah dan
kadar fungsinya. Ia tidak akan menyimpang dari ketentuan yang
ditetapkan Tuhan. Ia patuh sebagaimana alam semesta patuh. Ia
bersifat pasrah yang dinamis, karena ia mengikuti gerak dan keinginan
Ilahi
Para seniman Taichi berprinsip mengikuti irama gerak alam. Tubuhnya
dipatok kedalam kekuasaan besar yang meliputinya, ia membiarkan
tubuhnya berdiri diatas kelembutan dan kekerasan, sehingga
keseimbangan dan keharmonisan segi tiga realitas menjadi puncak
prinsip, mikrokosmos, makrokosmos dan metakosmos. Sehingga ia akan
mengenal wujud Allah melalui tahapan wilayah-wilayah sampai kepada
kesimpulan bahwa semua makhluk adalah fana kecuali wujud Allah Yang
Maha Suci.
Gerak hakiki merupakan sunnatullah. Ia bergerak sesuai dengan
kehendak Ilahi. Kita tidak bisa menghentikan kehendak hakiki pada
tubuh kita untuk mati. Kita tidak pernah merencanakan lahir menjadi
seorang laki-laki ataupun perempuan. Kadang-kadang kehendak itu
bertentangan dengan kehendak kita. Kita menginginkan hidup seribu
tahun lagi, namun ada gerak hakiki yang menghentikan dengan paksa
untuk mati diusia belasan tahun.
Dengan mengetahui adanya dua kehendak yang berlangsung dalam diri
kita, menandakan adanya bentuk hakikat dan bukan hakikat. Sehingga
kehendak yang bukan hakikat semestinya mengikuti gerak hakikat yang
menjadi pusat ketentuan dan ide didalam setiap gerak manusia. Maka
sesungguhnya fitrah Allah dan fitrah manusia adalah sama (lihat surat
Ar Rum ayat 30). Untuk mengenal hakikat Allah dan mengikuti kehendak-
Nya, kita harus berupaya menjalani pendekatan melalui jalan ruhani.
Karena Allah sendiri hanya memberikan tanda-tanda atau rambu-rambu
dalam memberikan petunjuk menuju pengenalan akan "wujud" (eksistensi
Allah). Pengenalan ini harus kita mulai dengan membuka harus kita
mulai dengan membuka wawasan ilmu tauhid kepada Allah, yaitu ilmu
yang bersangkut paut masalah hakikat Allah, sifat-sifat Allah, dzat
Allah, Af'al Allah. Sebab kalau kita tidak mengenal ilmu ini, maka
tentunya kita tidak akan tahu sampai dimana perjalanan kita menuju
jalan hakikat. Jalan ruhani akan terhalang jika kita tidak mengetahui
akan keadaan Allah secara ilmu. Kita akan terjebak oleh keadaan alam-
alam yang menakjubkan didalam fenomena ghaib. Bisa jadi khayalan dan
halusinasi seseorang yang bergembira berlebihan akan hidup
berkerohanian menyebabkan memori didalam otaknya muncul tatkala ia
berkonsentrasi apa yang diinginkan. Keadaan ini sering muncul atau
seakan-akan ada orang yang membisikkan untuk melakukan sesuatu. Dalam
berguru kepada Allah, hendaknya kita sudah mempersiapkan bekal ilmu
yang disebutkan di atas, sebab kita akan memasuki dunia keTuhanan
secara total.
Myskat Cahaya Ilahi
Kata cahaya adalah metafora yang diungkapkan Al Qur'an, dalam
menjelaskan keadaan jiwa atau hati yang telah mendapatkan wahyu atau
ilham. Dimana wahyu atau kata-kata Tuhan diungkapkan kedalam bahasa
manusia, dengan meminjam kata 'cahaya', sebab wahyu sendiri tidak
bisa diungkapkan dengan bahasa manusia. Wahyu adalah bahasa Allah,
yang berbeda dengan bahasa manusia. Namun wahyu atau ilham bisa
dipahami oleh orang yang menerimanya, bahkan hewan dan alampun mampu
memahami bahasa Allah.
Didalam Mu'jam Alfadzil Qur'anil Karim, yang diterbitkan oleh
Majma'ul Lughah Al Arabiyah, kata 'ilham' ditafsirkan
dengan :"Disusupkannya kedalam hati perasaan yang sensitif yang dapat
dipergunakan untuk membedakan antara kesesatan dan petunjuk", dan
mungkin hal ini di jaman kita sekarang ini dikenal dengan istilah
dhomir (kata hati). Didalam kamus Al Muhith disebutkan : "Al hamahu
khaira" (Allah mengilhamkan kebaikan) yakni : Allah mengajarkan
kepadanya.
Dengan alasan inilah saya memberikan judul "Berguru Kepada Allah"
pada bab ini. Dan dengan demikian kita sudah menjurus kepada hal yang
lebih penting lagi didalam perjalanan kita kali ini. Disamping kita
sudah berbekal ilmu kema'rifatan, yaitu mengenal dzat, sifat dan
af'al Allah, kita hendaknya melakukan komunikasi kepada Allah serta
melakukan pemasrahan diri secara total. Kepasrahan adalah
menggantungkan sikap jiwa untuk patuh kepada Allah dengan segenap
syari'at yang telah ditentukan, agar kita mendapatkan cahaya keimanan
yang lebih dalam.
Firman Allah Swt didalam surat An Nuur ayat 35-38:
"Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. Perumpamaan cahaya adalah
seperti lubang yang didalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam kaca.
Dan kaca itu laksana bintang yang berkilauan yang dinyalakan dengan
minyak pohon yang diberkati, yaitu minyak zaitun yang bukan dari
timur dan tidak (juga) dari barat. Minyaknya hampir menerangi
sekalipun tidak disentuh api. Cahaya di
atas cahaya. Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya kepada siapa
yang dikehendaki-Nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi
manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, (yaitu) di rumah-
rumah, Allah memerintahkan untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya,
bertasbih didalam rumah itu pada waktu pagi dan petang, (yaitu) laki-
laki yang tidak dilalaikan perniagaan dan jual beli dari mengingat
Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka takut akan hari
yang berguncang padanya hati dan penglihatan, supaya Allah membalas
mereka dengan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan dan
menambah (lagi) karunia-Nya. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa-
siapa yang Dia kehendaki dengan tiada terbatas" (QS 24:35-38)
Allah memberikan perumpamaan cahaya-Nya seperti lubang yang tak
tembus, yang didalamnya ada 'pelita' besar. Cahaya itu bersemayam di
dalam hati orang-orang yang terpilih dan dikehendaki-Nya. Dengan
cahaya itu Allah membimbing dan menuntun hati agar mampu memahami
ayat-ayat Allah serta nasehat-nasehat Allah. Allah-lah yang
akan 'menghantar' jiwa kita melayang menemui-Nya dan yang akan
menunjukkan 'jalan ruhani' kita untuk melihat-Nya secara 'nyata'.
Dengan 'cahaya-Nya', kita bisa membedakan petunjuk dari syetan atau
dari Allah swt.
Firman Allah:
"Wahai orang-orang beriman jika kamu bertaqwa kepada Allah niscaya
Dia akan menjadikan bagimu furqan (pembeda) ". (QS 8:29)
Yang dimaksud dengan 'furqan' adalah cahaya yang dengannya, kita
semua bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil.
Dan firman Allah :
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-
benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS
29:69)
Ayat ini menunjukkan bahwa bersungguh-sungguh atau bermujahadah
dijalan Allah, memiliki pengaruh didalam memberi 'hidayah'
atau 'cahaya' kepada manusia menuju jalan-jalan Allah, yaitu jalan
kebenaran.
Firman Allah :
"Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan
bagimu jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak
disangka-sangka ..." (QS 65:2-3).
Dengan demikian maka jelaslah pada ayat-ayat di atas, memberikan
kepada kita 'syarat' untuk mendapatkan 'cahaya' atau 'hidayah',
hendaklah melakukan amalan-amalan yang diwajibkan dan disunnahkan,
yaitu melakukan dzikrullah', baik berdiri, duduk, maupun berbaring.
Sebab didalam setiap peribadatan itu merupakan 'cara' untuk
mengingat 'Allah'.
Dan menyebabkan 'Allah' menyambut ingatan kita, dengan sambutan kasih
sayang serta memberinya 'cahaya' penerang bagi hatinya yang merelakan
dan membuka untuk menerima Allah sebagai junjungannya, dengan
ditandai rasa tenang yang luar biasa.
Untuk lebih jelasnya, saya akan lanjutkan perjalanan rohani kita,
pada bab "Membuka Hijab". Pada bab itu akan saya jelaskan secara
konkrit, masalah-masalah rohani atau fenomena kerohanian yang
menjebak perjalanan kita seperti istijrad, kemampuan kasyaf, dan
penyembuhan yang digandrungi oleh para pemburu 'kesaktian'. Dimensi-
dimensi fisik maupun psikis akan anda temui pada bab tersebut.
Abu Sangkan
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________