adhi liang wrote:
My Groups | dzikrullah Main Page...
Patrap (Makna Dzikrullah) 3/3
Kali ini saya akan mengajak pembaca sekalian menyelami kesadaran diri yang sebenarnya, dan mengenali hakikat ruh yang biasa menyebut dirinya "Aku". Dan saya tidak akan lagi bicara soal dalil-dalil. Ibaratnya kita melakukan shalat, kita tidak lagi butuh dalil, akan tetapi kita tinggal memasuki keadaan shalat yang sebenarnya. Diskusi kita sudah selesai dalam hal hukum-hukum berdzikir.
Sudahkah kita melaksanakan ibadah-ibadah yang disunnahkan? Ada begitu banyak yang dapat kita lakukan berdasarkan contoh dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam baik yang fardhu maupun yang mustahab.
Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya):
"Siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami yang hal tersebut bukan dari agama ini maka perkara itu ditolak". (HR. al-Bukhari dan Muslim)
serta dalam lafazh lain yang diriwayatkan Imam Muslim:
"Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak".
Imam Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah dalam kitabnya Jami`ul Ulum wal Hikam juga memuji kedudukan hadits ini, beliau berkata: "Hadits ini merupakan pokok yang agung dari pokok-pokok Islam. Dia seperti timbangan bagi amalan-amalan dalam dzahirnya sebagaimana hadits: (amal itu tergantung pada niatnya) merupakan timbangan bagi amalan-amalan dalam batinnya. Maka setiap amalan yang tidak diniatkan untuk mendapatkan wajah Allah tidaklah bagi pelakunya mendapatkan pahala atas amalannya itu, demikian pula setiap amalan yang tidak ada padanya perintah dari Allah dan rasulnya maka amalan itu tidak diterima dari pelakunya. (Jami`ul Ulum wal Hikam, 1/176)
Contoh nyata adalah ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat seorang laki-laki berdiri di bawah terik matahari karena nadzar yang hendak ia tunaikan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta`ala kemudian beliau shallallahu 'alaihi wasallam dengan serta merta memerintahkan orang itu untuk duduk dan tidak berjemur di bawah terik matahari. Begitu juga teguran beliau kepada orang-orang yang berniat untuk tidak menikah, berpuasa terus serta shalat sepanjang malam.
Dzikir adalah suatu ibadah yang tentunya harus dilaksanakan dengan cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dengan demikian tidaklah dapat dikatakan "kita tidak lagi butuh dalil". Bagaimanakah kita akan beramal tanpa ilmu?
Terlebih-lebih bicara masalah ruh. Rasulullah saja diperintahkan oleh Allah untuk menyerahkan masalah ini kepada Allah.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman (yang artinya):
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit"." (QS. al-Israa' 17:85)
Semoga Allan menetapkan kita di jalan sunnah dan menjauhkan kita dari perkara-perkara bid'ah.
Allahu a'lam.
NB: bagaimanakah 'agenda' pemurnian aqidah dan ibadah dari bid'ah dalam 'penegakan Islam' di Indonesia?
Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
-- Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim (l. 1400 H/1980 M)
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

