Bismillahirrohmaanirrohiim.

Istilah hijab sebenarnya baru muncul setelah orang mulai serius
mendalami pengetahuan tentang ma'rifatullah, segala cara amalan
ibadah diterapkan untuk memudahkan sampainya seseorang kepada tingkat
mukhlasin. Yaitu orang yang benar-benar berada dalam keadaan rela dan
menerima Allah sebagai Tuhannya secara transenden. Amalan amalan
ibadah yang mereka lakukan merupakan kutipan-kutipan perintah ibadah
sunnah maupun yang wajib. Sehingga mereka menyakininya bahwa mutiara-
mutira Al Qur'an itu memang benar adanya.

Hijab adalah tirai penutup, didalam ilmu tasawuf biasa disebut
sebagai penghalang lajunya jiwa menuju Khaliknya. Penghalang itu
adalah dosa-dosa yang setiap hari kita lakukan. Dosa merupakan kabut
yang menutupi mata hati, sehingga hati tidak mampu melihat kebenaran
yang datang dari Allah. Nur Allah tidak bisa ditangkap dengan pasti.
Dengan demikian manusia akan selalu berada dalam keragu-raguan atau
was-was. Didalam bab ini saya tidak membahas masalah dosa seperti apa
yang saya sebut diatas. Karena ketertutupan atau terhijabnya kita
atas keberadaan Allah disebabkan ketidak tahuan (kebodohan) dan
sangkaan (dzan) akan Allah yang keliru. Maka dari itu saya hanya
ingin membuka wawasan dalam hal ketidaktahuan kita akan Allah, yaitu
jawaban-jawaban Allah atas pertanyan kita selama ini

Seperti yang pernah saya katakan pada artikel bab hati, bahwa hati
merupakan pusat dari segala kemunafikan, kemusyrikan, dan merupakan
pusat dari apa yang membuat seorang manusia menjadi manusiawi. Dan
pusat ini merupakan tempat dimana mereka bertemu dengan Tuhannya.
Merupakan janji Allah saat fitrah manusia menanyakan dimanakah Allah?
Lalu, Allah menyatakan diri-Nya berada "sangat dekat", sebagaimana
tercantum dalam Al Qur'an :

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang "Aku" maka
(jawablah) Bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdo'a apabila berdo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran " (QS 2:186)

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa
yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada
urat lehernya (QS 50:16)

Pertanyaan tentang keberadaan Allah sering kali kita mendapatkan
jawaban yang tidak memuaskan, bahkan kita mendapatkan cemoohan
sebagai orang yang terlalu mengada-ada. Menanyakan
keberadaan "Tuhanku" adalah merupakan pertanyaan fitrah seluruh
manusia.

Allahpun mengetahui akan hal ini, sehingga Allah memberikan jawaban
atas pertanyaan hamba-hamba-Nya melalui Rasulullah.

Didalam ayat-ayat di atas, mengungkapkan keberadaan Allah
sebagai "wujud" yang sangat dekat. Dan kita diajak untuk memahami
pernyataan tersebut secara utuh. Maka dari itu jawaban atas
pertanyaan "dimanakah Allah?". Al Qur'an mengungkapkan jawaban secara
dimensional. Jawaban-jawaban tersebut tidak sebatas itu, akan tetapi
dilihat dari perspektif seluruh sisi pandangan manusia seutuhnya.
Saat pertanyaan itu terlontar "dimanakah Allah ", Allah
menjawab "�.Aku ini dekat ", kemudian jawaban meningkat sampai
kepada "Aku lebih dekat dari urat leher kalian�atau dimana saja
kalian menghadap disitu wujud wajah-Ku �.dan Aku ini maha meliputi
segala sesuatu."

Keempat jawaban tersebut menunjukkan bahwa Allah tidak bisa dilihat
hanya dari satu dimensi saja, akan tetapi Allah merupakan
kesempurnaan wujud-Nya, seperti didalam firman Allah :

"Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keragu-raguan
tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. ingatlah bahwa sesungguhnya
Dia maha meliputi segala sesuatu. (QS 41:54)

"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu
menghadap disitulah wajah Allah maha luas lagi maha mengetahui" (QS
2:115)

Sangat jelas sekali bahwa Allah menyebut dirinya "Aku" berada
meliputi segala sesuatu, dilanjutkan surat Al Baqarah ayat
115 ..dimana saja engkau menghadap disitu wajah-Ku berada!!! Kalau
kita perhatikan jawaban Allah, begitu lugas dan tidak merahasiakan
sama sekali akan wujud-Nya.

Namun demikian Allah mengingatkan kepada kita bahwa untuk memahami
atas ilmu Allah ini tidak semudah yang kita kira. Karena
kesederhanaan Allah ini sudah dirusak oleh anggapan bahwa Allah
sangat jauh. Dan kita hanya bisa membicarakan Allah nanti di alam
surga. Untuk mengembalikan dzan kita kepada pemahaman seperti yang
diungkap oleh Al Qur'an tadi, kita hendaknya memperhatikan peringatan
Allah, bahwa Allah tidak bisa ditasybihkan (diserupakan) dengan
makhluq-Nya.

Didalam kitab tafsir Jalalain ataupun didalam tafsir fi dzilalil
qur'an, membahas masalah surat Fushilat ayat 54, � Allah meliputi
segala sesuatu � adalah ilmu atau kekuasaan-Nya yang meliputi segala
sesuatu, bukan dzat-Nya.

Pendapat ini merupakan tafsiran ulama, untuk mencoba menghindari
kemungkinan masyarakat awam mentasybihkan (menyerupakan) wujud Allah
dengan apa yang terlintas didalam fikirannya ataupun perasaannya.
Sehingga "Allah" sebagai wujud sejati ditafsirkan dengan sifat-sifat
Nya yang meliputi segala sesuatu. Untuk itu, saya huznudzan memahami
pemikiran para mufassirin sebagai pendekatan ilmu dan membatasi
pemikiran para awam.

Akan tetapi kalau "Allah" ditafsirkan dengan sifat-sifat-Nya, yang
meliputi segala sesuatu. Akan timbul pertanyaan, kepada apanya kita
menyembah? Apakah kepada ilmunya, kepada kekuasaan-Nya atau kepada
wujud-Nya? Kalau dijawab dengan kekuasan-Nya atau dengan ilmu-Nya
maka akan bertentangan dengan firman Allah :

"Sesungguhnya Aku ini Allah , tidak ada tuhan kecuali "Aku", maka
sembahlah "Aku" (QS 20:14)

Ayat ini menyebutkan "pribadinya" atau dzat Allah, kalimat �
sembahlah "Aku". Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan
menghadapkan wajahnya kepada wajah Dzat yang Maha Mutlak. Sekaligus
menghapus pernyataan selama ini yang justru menjauhkan "pengetahuan
kita " tentang dzat, kita menjadi takut kalau membicarakan dzat,
padahal kita akan menuju kepada pribadi
Allah, bukan nama, bukan sifat dan bukan perbuatan Allah. Kita akan
bersimpuh dihadapan sosok-Nya yang sangat dekat.

Ungkapan tentang Tuhan, juga disebut sebagai dalil pertama yang
menyinggung hubungan antara dzat, sifat, dan af'al (perbuatan) Allah.
Diterangkan bahwa dzat meliputi sifat � sifat menyertai nama � nama
menandai af'al. Hubungan-hubungan ini bisa diumpamakan seperti madu
dengan rasa manisnya, pasti tidak dapat dipisahkan. Sifat menyertai
nama, ibarat matahari dengan sinarnya, pasti tidak bisa dipisahkan.
Nama menandai perbuatan, seumpama cermin, orang yang bercermin dengan
bayangannya, pasti segala tingkah laku yang bercermin, bayangannya
pasti mengikutinya. Perbuatan menjadi wahana dzat, seperti samudra
dengan ombaknya, keadaan ombak pasti mengikuti perintah samudra.

Uraian di atas menjelaskan, betapa eratnya hubungan antara dzat,
sifat, asma, dan af'al Tuhan. Hubungan antara dzat, dan sifat
ditamsilkan laksana hubungan antara madu dan rasa manisnya. Meskipun
pengertian sifat bisa dibedakan dengan dzat..namun keduanya tidak
bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Kalimat �. Allah meliputi segala sesuatu (QS 41:54) adalah
kesempurnaan ..dzat , sifat, asma, dan af'al. Sebab kalau hanya
disebut sifatnya saja yang meliputi segala sesuatu, lantas ada
pertanyan, "sifat" itu bergantung kepada apa atau siapa ? Jelas akan
bergantung kepada pribadi (Aku) yang memiliki sifat. Kemudian kalau
sifat yang meliputi segala sesuatu, kepada siapakah kita menghadap?
Kepada Dzat atau sifat Allah. Kalau sifat Allah sebagai obyek ibadah
kita, maka kita telah tersesat, sebab sifat, asma dan perbuatan Allah
bukanlah sosok dzat yang Maha Mutlak itu sendiri.

Semua selain Allah adalah hudust (baru),.karena "adanya" sebagai
akibat adanya sang Dzat. seperti adanya alam, adanya malaikat, adanya
jin dan manusia. Semua ada karena adanya dzat yang maha qadim.
Seperti perumpamaan madu dan manisnya, sifat manis tidak akan ada
kalau madu itu tidak ada. Dan sifat manis itu bukanlah madu.
Sebaliknya madu bukanlah sifat manis. Artinya sifat manis tergantung
kepada adanya "madu". Apakah Dzat itu, � seperti apa? Apakah ada
orang yang mampu menjabarkan keadaannya ?

Singkat kata, dualitas berkaitan dengan sifat diskursus manusia
tentang Tuhan. Untuk bisa memahami Tuhan, kita harus mengerti
keterbatasan-keterbatasan konsepsi kita sendiri, karena menurut
perspektif ketakperbandingan tak ada yang bisa mengenal Allah kecuali
Allah sendiri!!! Karena itu kita punya pengertian tentang
Tuhan, "Tuhan" konsepsi saya dan "Tuhan" konsepsi hakiki, yang berada
jauh diluar konsepsi saya. Tuhan yang dibicarakan berkaitan
dengan "konsepsi saya". Konsepsi Dzat yang hakiki tidak bisa kita
fahami, baik oleh saya maupun anda. Karena itu kita tidak bisa
berbicara tentangnya secara bermakna. bagaimana kita bisa memahami
tentang Dia, sedang kata-kata yang ada hanya melemparkan kita keluar
dari seluruh konsepsi manusia. Seperti, Al awwalu wal akhiru (Dia
yang Awal dan yang akhir), Dia yang tampak dan yang tersembunyi (Al
dhahiru wal bathinu), cahaya-Nya tidak di timur dan tidak di barat
(la syarkiya wa la gharbiya), tidak laki-laki dan tidak tidak
perempuan, tidak serupa dengan ciptaan-Nya dst�.

Kenyataan Tuhan tidak bisa dikenal dan diketahui berasal dari
penegasan dasar tauhid `laa ilaha illallah atau laisa ka mistlihi
syai'un' (tidak sama dengan sesuatu). Karena tuhan secara mutlak dan
tak terbatas benar-benar dzat maha tinggi, sementara kosmos berikut
segala isinya hanya secara relatif bersifat hakiki, maka realitas
Ilahi berada jauh diluar pemahaman realitas makhluq. Dzat yang maha
mutlak tidak bisa dijangkau oleh yang relatif.

Kita dan kosmos (alam) berhubungan dengan tuhan melalui sifat-sifat
Ilahi yang menampakkan jejak-jejak dan tanda-tandanya dalam
eksistensi kosmos. Kita tidak bisa mengenal dan mengetahui Tuhan
dalam dirinya sendiri, tetapi hanya sejauh Tuhan mengungkapkan diri-
Nya melalui kosmos (sifat, nama, af'al). Firman Allah:

"Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Dia mempunyai nama-nama
yang yang indah "(QS 20:8)

Sifat, nama, dan af'al, secara relatif bisa dirasakan dan
difahami "maknanya". Akan tetapi "Dzat", adalah realitas mutlak. Dan
untuk memahami secara hakiki harus mampu memfanakan diri, ... yaitu
memahami keberadaan makhluq adalah tiada�.

Untuk lebih jelasnya akan saya berikan perumpamaan keberadaan alam
dan yang menciptakan.

Ketika kita melihat kereta api berjalan diatas rel, terbetik dibenak
kita suatu pertanyaan. Bagaimana roda-roda yang berat itu bisa
bergerak dan lari. Tak lama kemudian kita akan sampai kepada
pemikiran tetang alat-alat dan mesin-mesin itulah yang menggerakkan
roda yang berat itu. Adakah setelah itu kita dibenarkan jika
berpendapat bahwa alat kereta itu sendiri yang menggerakkan kereta
tersebut. Perkaranya tidak semudah itu, sebab kita tidak boleh
mengabaikan bahwa disana ada masinis yang mengendalikan mesin.
Kemudian ada insinyur yang menciptakan rancangan dan ketentuan-
ketentuan yang ditetapkan, maka pada hakekatnya tak ada wujud bagi
kereta itu, dan tidaklah mungkin terjadi gerakan dan perputaran pada
roda-roda tanpa kerja insinyur. Mesin-mesin itu bukanlah akhir dari
cerita sebuah kereta api, akan tetapi hakikat yang paling akhir
adalah "akal" yang telah mengadakan mesin itu, kemudian menggerakkan
menurut rencana yang telah dipersiapkan.

Mengikuti ilustrasi realitas kereta api, mulai dari gerbong yang
digerakkan oleh roda-roda, kemudian roda-roda digerakkan oleh mesin,
mesin digerakkan oleh masinis, dan semua itu direncanakan, oleh yang
menciptakan yaitu insinyur. Pertanyaan terakhir adalah : "Mungkinkah
roda-roda, mesin, dan alat-alat kereta api itu mampu melihat yang
menciptakan?" Jawabannya adalah insinyur itu sendiri yang mengetahui
akan dirinya, sebab kereta api dan insinyur berbeda keadaan dan bukan
perbandingan�.

Realitas instrumen kereta api tidak ada satupun yang serupa jika
dibandingkan dengan keadaan realitas insinyur. Kemudian mengetahui
keadaan realitas kereta api dari awal sampai akhir, merupakan
kefanaan atau penafian bahwa realitas kereta api adalah ciptaan
semata.

Firman Allah :

"(yang memiliki sifat-sifat yang..) Demikian itu ialah Tuhan kamu.
Tidak ada Tuhan selain Dia. pencipta segala sesuatu maka sembahlah
Dia, dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat
dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang
kelihatan. Dan Dialah yang maha halus lagi maha mengetahui" ( QS
6:102-103)

Realitas bahwa Dzat tuhan tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu (QS
26:11) ... berlaku sampai diakhirat kelak. Walaupun Tuhan sendiri
mengatakan bahwa manusia di alam surga akan melihat realitas Tuhan
secara nyata atas eksistensi Allah, bukan berarti kita melihat dengan
perbandingan pikiran manusia � yang dimaksud melihat secara hak
disini adalah kesadaran jiwa muthmainnah yang telah lepas dari ikatan
alam atau kosmos.

Atau biasa disebut "fana", keadaan ini manusia dan alam seperti
keadaan sebelum diciptakan yaitu keadaan masih kosong 'awang uwung'
(jawa), kecuali Allah sendiri yang ada. Tidak ada yang mengetahui
keadaan ini kecuali Allah sendiri.

Keadaan awal (Al Awwalu) tidak ada yang wujud selain Allah, tidak ada
ruang, tidak ada waktu, tidak ada alam apapun yang tercipta. Untuk
mengetahui keadaan seperti ini marilah kita ikuti kisah nabi Musa As.
Firman Allah :

"Dan tatkala Musa datang (untuk munajat) dengan Kami, pada waktu yang
telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya.
Berkatalah Musa : ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku.
Agar aku dapat melihat kepada Engkau. Tuhan berfirman: kamu sekali-
sekali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihat-lah ke bukit itu,
maka jika ia tetap ditempatnya (sebagaimana sediakala) niscaya kamu
dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu, kejadian
itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan,
maka setelah Musa sadar kembali dia berkata. Maha Suci Engkau, dan
aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman
�" (QS 7:143)

Ada yang menarik dalam peristiwa "pertemuan" nabi Musa ... dan saya
hubungkan dengan pembahasan mengenai keadaan "kefanaan" manusia dan
alam. Yakni keadaan hancur luluh lantak keadaan gunung Thursina dan
keadaan Musa jatuh pingsan!!! Setelah gunung itu hancur dan Musa-pun
jatuh pingsan, tidak satupun yang terlintas realitas apapun didalam
perasan Musa dan fikirannya, kecuali ia tidak tahu apa-apa. Yaitu
realitas konsepsi manusia dan alam tidak ada (fana). Dalam keadaan
inilah Musa melihat realita Tuhan, bahwa benar Tuhan tidak bisa
dibandingkan oleh sesuatu apapun. Kemudian Musa kembali sadar
memasuki realitas dirinya sebagai manusia dan alam. Musa berkata :aku
orang yang pertama-tama beriman..dan percaya bahwa Allah tidak
seperti konsepsi "saya".

Setelah kita mengetahui dan faham akan Dzat, sifat, dan af'al Allah,
teranglah fikiran dan batin kita, sehingga secara gamblang kedudukan
kita dan Allah menjadi jelas, yaitu yang hakiki dan yang bukan
hakiki. Terbukalah mata kita dari ketidaktahuan akan Dzat.
Ketidaktahuan inilah yang saya maksudkan dengan tertutupnya hijab,
sehingga perlu disadarkan oleh kita sendiri dan kemudian mengenal-Nya
(ma'rifat)

Syekh Ahmad bin `Athaillah, didalam Al Hikam menyebutkan bahwa :

"Tiada sesuatu benda yang menghijab engkau dari Allah, tetapi yang
menghijab engkau adalah persangkaanmu adanya sesuatu disamping Allah,
sebab segala sesuatu selain dari Allah itu pada hakikatnya tidak
maujud (tidak ada) sebab yang wajib ada hanya Allah, sedang yang
lainnya terserah kepada belas kasihan Allah untuk diadakan atau
ditiadakan".

Seorang arif berkata : "Adanya makhluq semua ini bagaikan adanya
bayangan pohon di dalam air. Maka ia tidak akan menhalangi jalannya
perahu. Maka hakikat yang sebenarnya tiada sesuatu benda apapun yang
maujud disamping Allah untuk menghijab engkau dari Allah. Hanya
engkau sendiri mengira bayangan itu sebagai sesuatu yang maujud."

Ibarat seseorang yang bermalam disuatu tempat, tiba-tiba pada malam
hari ketika ia akan buang air, terdengar suara angin yang menderu
masuk lobang sehingga persis sama dengan suara harimau, maka ia tidak
berani keluar. Tiba pada pagi hari ia tidak melihat bekas-bekas
harimau, maka ia tahu bahwa itu hanya tekanan angin yang masuk ke
lobang, bukan tertahan oleh harimau, hanya karena perkiraan adanya
harimau.

Sang Syekhk berkata : "andaikan Allah tidak dhahir pada benda-benda
alam ini, tidak mungkin adanya penglihatan pada-Nya. Dan andaikan
Allah tidak mendhahirkan sifat-sifat-Nya, pasti lenyaplah alam benda-
benda. Ketika Allah bertajalli kepada gunung, hancurlah gunung itu,
sedang Musa jatuh pingsan � "

Pertanyaan demi pertanyaan timbul dari ketidaktahuan (hijab),
kenyataaan bahwa Allah sangat dekat � tertutup oleh kebodohan ilmu
kita selama ini. Allah seakan jauh diluar sana �sehingga kita tidak
merasakan kehadiran-Nya yang terus menerus berada dalam kehidupan
kita. Dari keterangan diatas menyimpulkan bahwa kita ternyata telah
salah kaprah mengartikan sosok dzat selama ini, yang kita sangka
adalah konsepsi "saya", bukan konsepsi hakiki, yaitu wujud yang tak
terbandingkan oleh perasaan, pikiran , mata hati, dan seterusnya.
Allah kita adalah Allahnya Musa, ... Allahnya Ibrahim, ... dan
Allahnya Muhammad � yaitu yang Maha tak terjangkau oleh apapun�

Kini saatnya kita bertakbir tertuju kepada dzat �bukan kepada sifat �
(fa' bud nii) sembahlah AKU �, sehingga fanalah "diri" dan semesta.

(bersambung)
--- End forwarded message ---




                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke