Membuka Hijab 2/2

Tafakkur dan Meditasi Transendental

Setelah kita mengetahui dan mengenal Allah secara ilmu, maka semakin
mudahlah kita untuk memulai berkomunikasi dan berjalan menuju kepada-
Nya. Kita telah meyakini bahwa kita akan kembali kepada-Nya
sekarang ... bukan besok !

Firman Allah :

"Hai manusia, sesungguhnya engkau berusaha sungguh-sungguh menuju
kepada Tuhanmu, maka engkau akan menemuinya". (QS 84:6)

"ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keragu-raguan
tentang pertemuan dengan tuhan mereka. Ingatlah bahwa Allah maha
meliputi segala sesuatu". (QS 41:54).

Didalam ayat lain dikatakan, bahwa shalat itu adalah pekerjaan yang
amat sulit, kecuali bagi orang yang khusyu'. Siapakah orang yang
khusyu' itu, ialah orang yang mempunyai sangkaan bahwa ia akan
bertemu dengan Allah dan mereka adalah orang yang kembali kepada
Allah. Rajiun artinya; orang yang kembali (kedudukannya sebagai
fa'il), bukan yang akan kembali.

Kekhusyu'an shalat dan ibadah-ibadah yang lainnya tidak akan bisa
dicapai, kalau kita tidak mengerti ilmu tauhid, yaitu mengerti akan
Allah secara hakiki. Dasar tauhid inilah yang menjadi bekal kita
untuk menuju tawajjuh kepada Allah, dan merupakan jalan yang
membedakan dari peribadatan-peribadatan agama lain selain Islam.

Pada tatanan fenomena fisik dan psikis, mungkin kita akan mengalami
kesamaan dengan perjalanan meditator � penyembuh, pastor, atau
pendeta � biksu yang tekun beribadah � atau kadang juga sama dengan
penggali spiritual yang tidak menggunakan pengertian ke-Tuhanan sama
sekali �

Pengalaman-pengalaman ini bukanlah penentu sebuah kebenaran spiritual
tertentu. Akan tetapi hal ini, seperti keadaan ilmu-ilmu yang lainnya
yang bersifat universal, seperti perasaan rindu �cinta � sedih �
bahagia dan ketenangan. Keadaan ini bisa disebut sebagian dari
pengalaman perasaan rohani. Yang tidak bisa kita klaim sebagai milik
orang Islam saja..atau orang kristen ... dan yang lain.

Banyak pendeta yang berdoa di gereja memohon kesembuhan bagi si
penderita sakit parah ... ia bisa sembuh �pendeta Budha pun
demikian ... dan tidak sedikit pula dari kalangan Islam yang bukan
kyai bisa berdoa untuk yang sakit, ... iapun bisa sembuh.

Dari sudut pandang psikolgi modern, tafakkur termasuk bagian dari
psikologi berfikir. Lapangan sentral kajian psikologi tradisional
pada masa-masa sebelum aliran behaviorisme mendominasi psikologi.
Pada masa-masa awal, psikologi banyak terfokuskan pada studi sekitar
pikiran, kandungan perasaan, dan bangunan akal manusia. Pembahasan
masalah belajar hanya dikaji melalui tema-tema tersebut, kemudian
muncul aliran behaviorisme dengan konsep-konsepnya yang terkenal.
Aliran ini, akhirnya mengubah secara besar-besaran pandangan-
pandangan sebelumnya, kemudian menempatkan kajian mengenai proses
belajar manusia, melalui rangsangan dan respon yang timbul, menjadi
tema utama psikologi. Perasaan, kandungan akal, dan pikiran dianggap
sebagai masalah yang tidak dapat dijangkau dan dipelajari secara
langsung, sebagaimana juga metode yang dipakai untuk mempelajarinya,
seperti metode intropeksi, dikritik karena tidak dapat dibuktikan
secara empiris. Para penganut faham behaviorisme menginginkan
psikologi sebagai ilmu empiris berdasarkan fenomena-fenomena lahiriah
yang dapat dikaji dilaboratorium. Menurut mereka, segala kegiatan
kognitif dan perasaan yang ada dan terjadi dalam benda-benda hidup
merupakan akibat dari interaksinya dengan pengaruh-pengaruh tertentu.

Kegiatan-kegiatan "pikiran dalam" itu, mereka anggap sebagai suatu
peti terkunci yang bagian dalamnya tidak mungkin diketahui dengan
jelas. Karena itu, tidak perlu menghabiskan waktu untuk
mempelajarinya. Adapun berbagai respon dan tanggapan yang timbul
akibat kegiatan dalam yang dapat diukur dan diamati, merupakan pusat
perhatian kajian ilmiah empiris mereka.

Hal yang lebih pelik dan kompleks bagi kita, orang Islam, adalah
bahwa salah satu unsur pembentukan perilaku manusia terpenting telah
ditinggalkan oleh psikologi barat modern, meskipun banyak penemuan
modern telah membuktikan pentingnya unsur tersebut, yaitu unsur
spiritual. Psikologi modern hanya berpegang pada unsur psikologis,
biologis sosial dan kultural sebagai unsur-unsur pembentukan perilaku
manusia, dengan alasan, mudah didefinisikan jika dibandingkan dengan
sisi spiritual. Selain itu, ia juga menolak segi spiritual karena
dianggap tumbuh dari pandangan agama.

Sebagian kalangan Islam juga menolak pentingnya tafakkur, yang
merupakan unsur penting dari suatu agama disamping tatanan hukum
syariat. Mereka menganggap perbuatan itu adalah bid'ah.

Awal dari segala perbuatan adalah kegiatan berfikir dan kognitif
dialam sadar. Berdasarkan hal itu, orang selalu berfikir panjang dan
mendalam atau bertafakur sehingga dengan mudah melaksanakan segala
ibadah dan ketaatan lainnya. Dalam hal ini Al Ghazaly dalam Ihya'nya
mengatakan: "Jika ilmu sudah sampai dihati, keadaan hati akan
berubah, jika hati sudah berubah, perilaku anggota badan akan
berubah. Perbuatan mengikuti keadaan (hal), keadaan mengikuti ilmu,
dan ilmu mengikuti pikiran, oleh karena itu pikiran adalah awal dan
kunci segala kebaikan, dan yang menyingkapkan keutamaan tafakkur.
Pikiran lebih baik daripada dzikir, karena pikiran adalah dzikir
plus". (Abu Hamid Al Ghazaly, Ihya' ulumuddin jilid IV hal. 389)

Sebagaimana kegiatan berfikir adalah kunci kebaikan dan amal shaleh,
ia juga merupakan segala perbuatan lahir dan batin. Oleh karena itu,
hati yang selalu merenung atau bertafakkur tentang ketinggian dan
keagungan Allah Swt, serta memikirkan kehidupan akhirat, akan dapat
membongkar dengan mudah niat-niat jahat yang terlintas dalam
benaknya. Karena, ia memiliki kepekaan dan ketajaman sebagai hasil
dzikir dan tafakkurnya yang berkesinambungan itu. Setiap kali
terlintas suatu niat jahat atau buruk kedalam hati, maka pikiran,
perasaan dan pandangan baiknya dapat segera mengetahui dan
menguasainya, lalu menghancurkan keberadaannya. Seperti anggota badan
yang sehat dapat menolak dan menghancurkan penyakit yang mencoba
menghinggapinya.

Seorang yang alim yang menyambung malam dan siang dengan tafakkur
tentang keagungan Allah, tentang kehidupan dunia dan akhirat adalah
seorang yang terjaga. Manakala terlintas sedikit saja niat jelek yang
mencoba menghampirinya, api kebaikan akan menghantamnya atau
membakarnya, seperti lemparan api yang menjaga langit dari intaian
syetan yang hendak mencuri pendengaran; "sesungguhnya orang-orang
yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari syetan, mereka
mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-
kesalahannya" (QS 7:201)

Jadi, tafakkur memanfaaatkan segala fasilitas pengetahuan yang
digunakan manusia dalam proses berfikir. Tafakkur adalah menerawang
jauh dan menerobos alam dunia kedalam alam akhirat, dari alam ciptaan
menuju kepada pencipta. Loncatan inilah yang disebut al ibrah,
melihat jauh sarat pengetahuan.

Berfikir kadang hanya terbatas, pada upaya memecahkan masalah-masalah
kehidupan dunia, yang mungkin terlepas dari emosi kejiwaan, sedang
tafakkur dapat menerobos sempitnya dunia ini menuju alam akhirat yang
luas, keluar dari belenggu materi menuju alam spiritual yang tiada
batas. Mungkin hal ini yang dimaksudkan oleh psikolog sebagai
kecerdasan jiwa yang hebat.

Tafakkur dapat menggerakkan semua kegiatan kognitif serta pikiran
dalam dan luar seorang mukmin. Dr. Malik Badri, ahli psikoterapi dari
Sudan berpendapat, perwujudan tafakkur memiliki dan melalui tiga fase
dan berakhir pada fase keempat, yang disebut istilah "syuhud".
Diawali dengan pengetahuan yang didapat dari persepsi empiris yang
langsung. Melalui alat pendengaran, alat raba, atau alat indra
lainnya. Atau dengan tidak langsung, seperti pada fenomena imajinasi,
atau kadang pengetahuan rasional yang abstrak. Sebagian besar
pengetahuan ini tidak ada hubungannya dengan emosi atau sentimen.

Kalau seseorang memperdalam cara melihat dan mengamati sisi
keindahan, kekuatan, keistimewaan lainnya yang dimiliki sesuatu,
berarti ia telah berpindah dari pengetahuan dingin menuju rasa
kekaguman akan keagungan ciptaan, susunannya rapi, pemandangannya
yang indah. Fase ini adalah fase kedua, fase tempat bergejolaknya
perasaan. Kalau dengan perasaan ini ia berpindah menuju sang pencipta
dengan penuh kekhusyu'an sehingga dapat merasakan kehadiran Allah dan
sifat-sifat-Nya yang tinggi, berarti ia sudah berada pada fase
ketiga. Sekadar dapat memandang dan menyaksikan ciptaan-Nya tidak
lebih dari fase awal yang primitif, pada fase ini antara pandangan
seorang mukmin dan orang kafir tidak ada bedanya. Fase kedua, yaitu
fase tadhawwuk, pengungkapan rasa kekaguman terhadap ciptaan atau
susunan alam yang indah, fase ini dapat dirasakan, baik oleh orang
mukmin maupun oleh orang kafir, tanpa mellihat sisi keimanan atau
sisi kekufuran. Akan tetapi, pada fase pengetahuan ketiga yang
menghubungkan antara perasaan akan keindahan ciptaan dan kerapian
tatanan alam dengan penciptanya yang maha agung dan maha tinggi,
merupakan nikmat besar yang hanya dapat dirasakan oleh orang mukmin.

Fase-fase tersebut merupakan perjalanan yang akan dialami oleh setiap
orang yang melakukan tafakkur. Pada fase-fase ini adakalanya orang
hanya sampai kepada keadaan primitif yaitu fenomena alam, baik yang
kasat mata maupun yang abstrak (ghaib), yang oleh orang tertentu
dimanfaatkan untuk melihat (kasyaf), yang lebih halus, pengobatan,
dan kekuatan yang luar biasa.



Sarana - sarana Tafakkur

Di dalam fenomena meditasi transendental pemusatan fikiran dengan
mengulang-ulang suatu gambaran pikiran tertentu atau makna suatu
keyakinan (dzikir, mantra) memiliki nilai besar bagi orang yang
melakukannya. Hal ini akan menghantarkannya pada angan-angan atau
gambaran yang sangat dalam dan pada konsep-konsep baru tentang
sesuatu obyek pikir atau meditasi, lalu naik pada tingkatan bayangan
dan gambaran yang paling sulit didapat dalam kehidupan rutin yang
terbatas. Oleh karena itu pengalaman ini disebut meditasi
transendental.

Pada mulanya tafakkur, meditasi transendental berlaku universal,
pengalaman-pengalaman serta pengaruh yang dirasakan sama, apakah itu
metode yang yang digagas oleh Hindu, Budha, Kristen dan Islam.
Diantaranya yang dilakukan dalam meditasi ialah, pengosongan pikiran
dan melupakan segala keruwetan dalam benak yang dapat mengganggu
proses meditasi dan konsentrasi pada obyek meditasi. Ia harus kembali
mengonsentrasikan pikiran pada "apa" yang ia pilih sebagai obyek
pikiran dan meditasinya. Ia harus mengambil posisi duduk pasif yang
rileks. Latihan ini harus selalu diulang-ulang, sehingga hari demi
hari meditasi dan berfikirnya menjadi lebih dalam, badan terasa lebih
ringan, fikiran menjadi bersih, jiwa menjadi sangat luas tak
terbatas. Bersamaan dengan itu, hilang pula segala perasaan
gelisah ,sedih, galau, dan segala gangguan jasmani yang dirasakan
sebelumnya.

Seorang mukmin akan mudah menemukan cara meditasi semacam ini, karena
metode ini memiliki kesamaan yang jelas dengan proses tafakkur
tentang penciptaan langit dan bumi yang disertai dzikir dan bertasbih
kepada obyek yang maha tak terjangkau yaitu Allah, baik berdiri,
duduk rileks, berbaring. Kesamaannya terletak pada upaya
pengkonsentrasian pikiran pada obyek tertentu, ada yang menggunakan
patung, irama musik, roh suci, mantra-mantra suci, dan membayangkan
wujud syekh atau guru pembimbing spiritual. tujuannya adalah upaya
melepaskan atau menjauhkan dari pengaruh yang mengganggu konsentrasi,
keruwetan angan-angan fikiran, perasaan, ataupun kebisingan dan
keramaian.

Keduanya juga sejalan dalam hal latihan,proses melihat dan mengulang
kata-kata (dzikir), atau makna obyek meditasi. Oleh karena, itu
seseorang yang bertafakkur bertasbih, dan bermeditasi dapat menangkap
makna dan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak terlintas dalam
hati. Keduanya mengunakan kedalaman tafakkur untuk membersihkan
pengetahuan lahiriah dari belenggu penjara rutinitas kehidupan
material menuju kebebasan menatap lepas keatas, menuju pengetahuan
yang luas tak terbatas.

Kita akan berada di luar badan kecil ini, menjadi jiwa yang tidak
terikat, mempunyai keluasan wujud dan kemampuan "melihat tanpa bola
mata", "mendengar tanpa daun telinga" dan merasakan keuniversalan
jiwa yang tak terbatas oleh waktu dan ruang. "Inilah jiwa" yang
memiliki "watak" yang sama dengan jiwa-jiwa lainnya; dimana hal yang
membedakan adalah "kemana akhir kembalinya jiwa".

Ada beberapa jalan yang digunakan orang untuk melakukan meditasi
yaitu menatap dengan pikiran kepada suatu obyek yang diyakininya.
Serta sensasi yang mempengaruhi terhadap perilakunya. Salah satu
penelitian yang dilakukan oleh Eckankar, didapatkan suatu sensasi
yang terjadi pada pelaku meditator, dari seluruh aliran spiritual
yang ada di dunia. Eckankar menamainya kalam semesta Ilahi. Ada jenis
tahapan, serta kata-kata yang dijadikan sarana untuk tafakkur, jenis
pengelompokan, suasana yang dirasakan didalam spiritual, serta
penjelasan dan manfaatnya. ()


Eckankar membawa kesadaran kita menuju alam spiritual dan batasan-
batasan yang dicapai oleh para meditator. Betapa ia sangat teliti dan
hati-hati dalam mengungkapkan "keadaan" atau suasana yang dialami
oleh spiritualis, pengelompokan dan tahapan-tahapan agar
menjadi "catatan" bagi para pemula didalam menjalani "laku
spiritual", terutama obyek apa yang digunakan dalam menghantarkan
jiwa kembali kepada eksistensi diri sejati.

Islam menempatkan "Allah" sebagai obyek yang tak terbandingkan
merupakan sarana membebaskan jiwa dari ikatan dan pengaruh alam yang
dilaluinya, sehingga jiwa yang terlepas dari alam, mustahil syetan
dan jin mampu menembus alam jiwa yang bebas (ikhlas). Firman Allah :

"Iblis menjawab: demi kekuasaan Engkau ,aku akan menyesatkan mereka
semua. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka" (QS 38:82-
83)

Pada alam inilah "jiwa " mencapai puncak kesempurnaan spiritual
tertinggi, dan Allah-pun memanggilnya kembali kesisi-Nya.

"Wahai jiwa yang tenang (yang tidak terikat oleh syahwatnya)
�" "Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan rela dan meridhai" "Dan
masuklah kamu kedalam syurga-Ku" (QS 89:27-30)

Pada tahapan ini Eckankar tidak mengungkapkan lebih lanjut keberadaan
jiwa sejati, ia hanya mengatakan "di atas the sugmad adalah masih
banyak tahapan yang belum terwujud".

Pada tahapan kesepuluh "Anami lok", dan kata-kata yang digunakan
sebagai objek spiritual adalah "HU" (Hua), (dari konsep laa ilaha
illa hua ... tiada Tuhan kecuali Dia) dia yang tak terbandingkan oleh
sesuatu. Suatu konsep qur'ani yang membedakan dari jalan spiritual
manapun dan akan terhindar dari jebakan kebisingan intuisi alam
materi, yang banyak dipenuhi 'anak-anak syetan' yang menempati setiap
ruang angkasa spiritual.

Dilanjutkan kepada tahapan sebelas "alam sugmad" dan tahapan
duabelas "sugmad" yaitu tidak ada lagi kata-kata yang digunakan (sir)
yaitu keadaan samudra cinta dan kalam Ilahi yang mengalir kepada jiwa
muthmainnah (jiwa yang telah terbebas dari ikatan segala macam alam).

Kemenangan perjuangan Rasulullah menghadapi tantangan dan gangguan
syetan saat beliau pergi mi'raj dengan kekuatan jiwa muthmainnah
sabda Nabi:

"Orang yang gagah berani bukanlah orang yang dapat menyerbu musuhnya
dengan tangkas dalam pertempuran, akan tetapi orang yang gagah berani
itu sebenarnya yang kuasa dan mampu menahan hawa nafsunya" (al hadist)

"Kalaulah syetan-syetan itu tidak berkerumun di hati Bani Adam,
niscaya mereka dapat memandang ke alam ghaib (abstrak)" (Hr Ahmad
dari abu Hurairah)

Pada tahapan tertinggi (Al A'raaf), kita akan mampu melihat fenomena-
fenomena alam di bawah, seperti intuisi yang ditimbulkan oleh
halusinasi, fikiran, perasaan, dan getaran gelombang-gelombang
pendek, yang dihembuskan syetan dan jin. Sebab jiwa telah melampaui
tahapan-tahapan dari ikatan seluruh alam semesta menjulang menuju
yang bukan alam, yaitu Dzat yang maha mutlak.

Firman Allah :

"Sesungguhnya orang-orang yag bertaqwa apabila mereka ditimpa was-was
dari syetan, mereka mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka
melihat kesalahan-kesalahannya" (QS 7:201)

"Syetan-syetan itu tidak dapat mendengarkan (pembicaraan) para
malaikat (alam yang tinggi) dan mereka dilemparkan dari segala
penjuru" (QS 37:8)

"Sesungguhnya syetan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang
beriman dan bertawakkal kepada Allah. Sesungguhnya kekuasaannya
(syetan) hanyalah atas yang mengambilnya pemimpin dan atas orang yang
mempersekutukannya dengan Allah" (QS 16:99-100)

Pada ayat-ayat ini dijelaskan bahwa apabila obyek meditasinya bukan
tertuju kepada yang tak terhingga, yaitu zat yang tidak sama dengan
makhluq-Nya, maka selain itu adalah wilayah syetan dan anak cucunya
yang siap menerkam jiwa-jiwa yang tersesat. Maka jangan heran banyak
ahli dzikir yang menyimpang seakan ia mendapatkan ilham dari Allah
dan kemudian mengaku sebagai nabi, sebagai imam mahdi dan wali Allah.
Dan dengan seenaknya ia meninggalkan perintah-perintah Allah, tidak
shalat, tidak zakat, dan berperilaku kharikul 'adah (keluar dari
ketentuan syariat Allah).

Untuk diketahui bahwa orang yang sampai kepada Allah adalah orang
yang mampu menangkap ilham-ilham Allah dan itu tidak akan
bertentangan dengan perintah yang tertulis dalam Al Qur'an dan Al
sunnah.

Kesombongan dan keangkuhan merupakan bukti keadaan jiwa masih terikat
oleh pengaruh alam ciptaan. Untuk itu islam menolak didalam ibadahnya
menggunakan sarana yang bukan Allah, seperti pembayangan guru,
wasilah rasul, dan mantra-mantra, untuk menghantarkan jiwanya menuju
Allah. Hal ini mustahil akan sampai kepada Allah yang maha mutlak,
sebab bayangan sesuatu hanya akan menyampaikan jiwa menuju alam yang
paling rendah yaitu alam-alam halusinasi, kekuatan alam, kekuatan jin
dan syetan. Walaupun ia menggunakan sarana kalimat thayyibah
(misalnya "Allah, laa ilaha illah, subhanallah"), kalimat-kalimat ini
bukan sekedar kata-kata yang tidak mempunyai makna, seperti para
meditator ketika memulainya meditasi menggunakan sarana bayangan roh
suci, patung dan mantra-mantra suci, maka hasilnya akan menjadi sama
saja dengan mereka. Hanya sampai kepada pemuasan rasa tenang dan
bahagia semata dan memanfaaatkan fenomena-fenomena kekuatan ghaib
untuk atraksi kekuasaan dan ke"aku"an manusia. Alam ini masih
termasuk dunia syahwat.

Selama ilmu kita mengenai Tuhan terbatas kepada apa yang dibayangkan
oleh pikiran dan perasaan sebagai obyek meditasi, selama itu pula
kita berkutat dalam dunia spiritual yang menyimpang dari ketentuan
Islam.

Didalam akhir bab ini mari kita perhatikan firman-firman Allah
tentang perdebatan kecil antara Allah dan syetan:


Allah berfirman : Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud
kepada yang telah Ku- ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu
menyombongkan diri ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang
(lebih) tinggi ?

Iblis berkata : Aku lebih baik dari padanya, karena Engkau ciptakan
aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.

Allah berfirman: maka keluarlah kamu dari syurga, sesungguhnya kamu
adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atas kamu
sampai hari pembalasan.

Iblis berkata: Ya Tuhanku � beri tangguhlah aku sampai hari mereka
dibangkitkan.

Allah berfirman: sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi
tangguh. Sampai hari yang telah ditentukan waktunya (hari qiyamat)

Iblis menjawab: Demi kekuasaan Engkau..aku akan menyesatkan mereka
semua. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka�. (QS
38:75-83)

Demikian penjelasan keadaan atau suasana meditasi, serta tanjakan-
tanjakan yang banyak dilalui orang didalam bermeditasi atau tafakkur
yang bersifat universal. Hal yang membedakan adalah, akhir dari
perjalanan jiwa tersebut yaitu kembali pasrah kepada Allah yang maha
mutlak (ber-Islam = berserah diri secara total)..Inna lIlahi wa inna
ilaihi raji'un�..(tidak berhenti pada tahapan-tahapan alam)

Pada bab berikutnya saya akan mengajak anda membuka cakrawala
meditasi dengan melatih mental spiritual. Salah satunya adalah
shalat, yang merupakan sarana mi'rajnya orang mukmin. Dengan shalat
inilah kita menyadari bahwa kita bertemu dengan Tuhan yang maha Agung.

Setelah memahami seluruh rangkaian pengetahuan yang saya tulis

=== message truncated ===

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke