Dari republika.co.id :
Laporan : rul PADANG -- Bandara internasional Ketaping Padang, Sumbar, akan diresmikan Februari 2005. Namun, ternyata sudah ketinggalam zaman. Seharusnya bandara itu siap 10 tahun silam dan lonjakan penumpang yang luar biasa seperti sekarang, seharusnya terjadi 10 tahun mendatang. Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA), Asnawi Bahar, mengemukakan hal itu kepada Republika, di Padang, kemarin. ''Begitu diresmikan, pada saat yang sama semua fasilitasnya langsung ketinggalan zaman,'' kata Asnawi. Wakil Kepala Dinas Perhubungan Sumbar, Syafrizal J, di tempat terpisah kepada Republika mengakui kondisi itu. ''Betul, lonjakan penumpang saat ini luar biasa, ada 22 kali penerbangan sehari dari dan ke Padang,'' katanya. Pergerakan penumpang di Bandara Tabing, Padang, saat ini tercatat sekitar 100 ribu sampai 110 ribu/orang per bulan. Terbanyak digaet Lion Air dan Mandala, disusul Garuda Indonesia. Lion dan Mandala rata-rata mengangkut penumpang 16 ribu orang/bulan. Lonjakan ini bisa terjadi karena harga tiket yang murah. Tak heran, Tabing saat ini sudah mirip terminal bus antarkota, penuh sesak sepanjang waktu. Pembangunan Bandara Ketaping memang tertunda-tunda lebih dari 15 tahun. Namun, akhirnya pemerintah memutuskan tetap membangunnya dan baru akan siap Februari 2005. Menurut Asnawi, bandara baru yang bertaraf internasional itu, nanti akan menjadi sumpek. ''Karena itu semua fasilitasnya perlu penambahan secepatnya,'' ujarnya. Hal mendesak adalah perluasan terminal. ''Kita sudah menyusun rencana penambahan fasilitasnya,'' kata Syafrizal. Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sumbar, Syahrial Syarief, kepada Republika kemarin mengakui kepadatan Bandara Tabing Padang saat ini, diproyeksikan baru akan terjadi tahun 2010, dengan asumsi harga tiket tidak turun. Karena harga tiket penerbangan turun ke titik yang `tidak masuk akal', maka lonjakan penumpang di luar dugaan. Meski begitu, katanya, Ketaping sendiri dirancang dua kali lebih luas dari yang sekarang. "Jadi, masih bisa dilakukan ekspansi," katanya. Bandara Ketaping yang terletak 20 km utara Padang itu, dibangun mulai 2000 dengan biaya Rp 700 miliar. Pendanaan bersumber dari pinjaman lunak Japan Bank for Internasional Coorporation (JBIC) sebesar 150 juta dolar AS dan dana pendamping Rp 30 miliar dari PT Angkasa Pura (AP II). Pemprov Sumbar sudah melakukan berbagai persiapan. Di antaranya, pembangunan jalur ganda Tabing-Duku sepanjang sembilan km, dan selebar 24 meter, yang merupakan jalan dari pusat kota Padang ke Bandara Ketaping. Menurut Kepala Dinas Prasarana Jalan dan Pengairan Umum, Hediyanto, beberapa waktu lalu, pembangunan jalan ini memakan biaya sebesar Rp 42 miliar, berasal dari pemerintah pusat dan Pemprov Sumbar. Pengerjaan jalan ini telah dimulai sejak 2002 silam dan harus tuntas sebelum akhir 2004. Sebab, pada akhir 2004, bandara internasiona itu akan diuji coba, dan diresmikan awal 2005. Berbagai prasarana vital untuk lokasi Bandara Ketaping juga sudah dipersiapkan oleh Pemda Sumbar. Misalnya, menyiapkan pasokan air bersih PDAM dengan anggaran Rp 275 juta, penerangan listrik PLN dengan anggaran Rp 1,6 miliar, sarana komunikasi Telkom dengan anggaran Rp 100 juta. Semuanya diperkirakan rampung sebelum akhir 2004. Sedangkan sarana pendukung bandara lainnya, yang hingga saat ini masih dalam tahap pengerjaan, adalah pembangunan embarkasi haji, beberapa meter dari bandara. Hingga saat ini, menurut Sekretaris Pimpinan Proyek Pembangunan Bandara Ketaping, Prio Budioyono, pengerjaan fisik bandara sudah mencapai angka 70 persen lebih. "Tapi begitu siap, begitu ketinggalam zaman, alangkah tertinggalnya pembangunan kita," kata Wakil Ketua ASITA Asnawi Bahar. ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

