MENGATASI WABAH PEMURTADAN (3)

2.   MENJAGA KESTABILAN KEAMANAN NEGARA

Tidak satupun yang mampu diperbuat kalau kondisi tidak aman, pembangunan
hanya akan jadi retorika, impian masyarakat adil makrnur hanya akan ada
dalam mimpi. Harta benda, pendidikan dan nyawa sekalipun tidak akan berarti
apa-apa. Ketika kondisi berada dalam
kekacauan. Impian menciptakan negeri yang berkeadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia tidak akan ada di alam nyata. Yang ada hanya pertentangan
pembunuhan, pembakaran, penjarahan, dan berbagai tindakan kebringasan
lainnya. Tidak satupun merindukan negeri ini porak-poranda dalam aroma
permusuhan

Sangat tidak mungkin orang akan mampu bertahan dalam kondisi demikian. Dan
lubuk hati yang paling dalam tentu kita semua berharap dan mendambakan negri
yang aman sentosa adil dan makmur. Orang Minang punya patuah:

"Padi masak jaguang maupiah,
Itiak batalua, ayam manateh,
Kambiang baranak-Kabau buntiang,
Nagari aman rakyat sentosa"

ltu semua tentu bukan impian yang kaku, dan tidak  mungkin  diwujudkan.
Akan  tetapi sernuanya kembali bagaimana masyarakat menciptakan dan
melestarikan suasana demikian. Dan tentu segala bibit yang yang menimbulkan
perpecahan harus segera di dikendalikan dengan baik, agar ia tidak menjadi
rerumputan dalam menyemai benih persatuan bangsa.

Salah satu yang menjadi ranjau dalam memelihara persatuan bangsa tersebut
adalah keberagaman. Keberagaman yang tidak terkendali  dengan  baik akan
menimbulkan perselisihan  yang  berkepanjangan.  Kondisi tersebut berawal
dan komponen-komponen yang berbeda tidak lagi saling menghargai. Sikap
demikian akan berbuah ketersinggung masing-masing pihak, dan puncaknya
timbullah perselisihan  dan  ketegangan  sesama  anak bangsa. Stabilitas
keamanan bangsapun terganggu. Ketika itu yang terjadi, tentu tidak hanya
umat Islam yang akan rugi, akan tetapi seluruh anak bangsa ini juga akan
merasa penderitaan akibat kekacauan tersebut.  Umat Islam dan Kristen dan
orang-orang lain yang tidak ikut dalam sengketa itu pun akan ikut mengecap
kepedihan permusuhan.

Oleh karena itu kesadaran untuk melihat persoalan agama adalah persoalan
yang amat azazi perlu dikembangkan. Karena agama itu keyakinan hidup
manusia.  Bila itu yang disinggung,  maka banyak resiko yang akan
ditanggung.

Semua orang akan tersinggung bila hakekat kehidupannya diganggu. Tidak hanya
umat Islam yang akan tersinggung ketika agamanya diganggu, tidak hanya umat
Islam yang akan marah jika agamanya dilecehkan. Tetapi sudah menjadi
sunatullah bahwa ketersinggungan,
kemarahan itu timbul apabila keyakinan hidup diganggu oleh orang lain.
Apakah itu beragama

Budha, Hindu, dan termasuk orang Kristen sekalipun. ltulah yang harus
sama-sama kita jaga dan pahami secara bersama agar persatuan bangsa ini
tetap lestari. Menjaga persatuan bangsa ini tentu tidak hanya kewajiban umat
Islam, narnun ini merupakan kewajiban seluruh anak bangsa.

Mudah-mudahan sepakat. Sikap untuk selalu mendukung setiap upaya positif
dalam rangka mempertahankan keutuhan bangsa ini, mesti mendapat didukung
oleh seluruh  komponen bangsa ini. Seperti halnya tentang pola kerukunan
hidup beragama yang di canangkan pemerintah yang kita kenal dengan Trilogy
kerukunan umat beragama: Kerukunan umat seagama, kerukunan umat antar agama,
dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah.

Mengenai dukungan umat Islam dengan himbauan pemerintah itu, sudah sangat
jelas, Cuma saja umat Islam masih menjalankannya dengan sendiri, sementara
umat Kristen seakan "menyumbat telinganya" dari himbauan tersebut. Sebagai
bukti dukungan tersebut dapat tergambar dari modus vivendi M. Natsir, beliau
dengan sepenuh hati mengajak umat Islam dan umat Kristen untuk sama-sama
menaati himbauan itu. Pada intinya ada kedamaian antar umat beragama dalam
bangsa yang plural ini.

Pertama, antar pemeluk agama di Indonesia ini  supaya  hidup  berdampingan
secara  baik, saling menghargai dan toleransi. Kedua, agar semua agama di
Indonesia merasakan hidup intern  umat  beragama  dengan  pemerintah.
Ketiga,  terwujudnya perdamaian  antar masyarakat yang berbeda agama di
negara ini dengan kepentingan pembangunan. Keempat, menghindari perang agama
sebagai mana yang terjadi diberbagai belahan dunia ini. Kelima, tidak kalah
pentingnya adalah  mengajak semua manusia mengamalkan salah satu perintah
esensial,  yaitu  keadilan  dalam  keberagaman beragama.

Terkait dengan point kelima ini, M. Natsir mengatakan "kami umat Islam
berseru kepada seluruh teman-teman sebangsa yang beragama lain  bahwa
Negara  ini  adalah  negara  kita
bersama, yang kita tegakkan untuk kita bersama, atas dasar toleransi,
tenggang rasa, bukan untuk satu  golongan  yang  khusus.  Kami  berseru
sebagaimana seruan Nabi Muhammad sesama warga yang berlainan agama. Kami di
perintahkan untuk menegakkan keadilan dan keberagaman diantara saudara.
Allah adalah Tuhan kami dan Tuhan saudara. Bagi kami amalan kami, bagi
saudara amalan saudara. Tidak ada persengketaan agama antara kami dan
saudara. Allah akan menghimpun kita dihari kiamat, dan kepadanyalah kita
kembali".

Upaya M. Natsir melalui modus vivendi tersebut jelas sekali menunjukkan
sikap positif untuk membangun bangsa ini dalam keberagaman yang didasarkan
pada sikap saling menghargai dan toleransi. Dan lebih penting lagi ada
kerinduan mendalam umat Islam untuk bias hidup tenang, penuh kedamaian di
bangsa Indonesia yang sama dihuni oleh anak bangsa yang majemuk ini.
Mudah-mudahan himbauan basauti.

(bersambung)




____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke