Sumbar Kekurangan Hotel * Ketaping Dibuka, Insan Pariwisata Pesimis Jumat, 17-September-2004, 05:21:31 10 klik
Padang, Padek-Sejak meningkatnya kunjungan wisatawan ke Sumbar, pihak hotel mengaku kewalahan karena tidak tertampungnya tamu-tamu yang datang terutama pada musim liburan. Setiap bulan setidaknya 50 ribu wisatawan yang mendarat di Bandara Tabing. Bahkan, jika Bandara Ketaping dibuka April 2005 yang hanya tinggal 7 bulan lagi, "pintu" Sumbar akan terbuka lebar kepada wisatawan mancanegara. Dapat dibayangkan betapa akan semakin semaraknya dunia pariwisata Ranah Minang. Hanya saja, dengan terbuka lebar pintu Sumbar ke dunia luar, insan pariwisata Sumbar malah mengaku pesimis. Lho? Menurut Praktisi Pariwisata Sumbar Ian Hanafiah yang juga Sekretaris ASITA (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata) Sumbar, dalam perbincangan dengan koran ini, kemarin, apalah artinya "pintu" dibuka lebar-lebar sementara sarana pendukung tidak memadai. "Saat ini saja kita sudah kewalahan menempatkan tamu lantaran semua hotel penuh pada musim liburan. Secara teoritis tingkat hunian mencapai 40 persen itu sudah bagus, namun yang terjadi sekarang tamu hotel malah mencapai 70 persen bahkan sampai 100 persen. Justru itu, kita pesimis dengan dibukanya Bandara Internasional Ketaping nantinya jika hotel tidak ditambah," ungkap Direktur ERO Tours ini. Saat ini saja, lanjutnya, pihaknya merasa kewalahan terhadap wisatawan karena keterbatasan sarana penginapan yang berskala nasional maupun internasional baik di Padang maupun Bukittinggi. "Sedianya, tamu menginap 4 hari di Bukittinggi, terpaksa kita bawa ke Maninjau atau Padang karena semua hotel sudah penuh," paparnya. Ia menilai wisata Sumbar yang ada itu baru potensi alam yang sangat bagus, seperti Danau Maninjau yang tidak kalah dengan objek wisata daerah lain. Potensi wisata Sumbar tidak kalah dengan Bali jika saja ditata secara maksimal. Pengelolaan pariwisata Sumbar belum dilakukan secara profesional, masih terdapatnya pungutan liar, perlakuan supir taksi, dan persoalan lain yang menciptakan suasana tidak nyaman bagi pengunjung. Menyinggung soal masih minimnya minat investor untuk menanamkan modalnya di sektor pariwisata, Ian menyebut bukan masalah ketiadaan minat. "Bukan tidak ada minat investor tapi kegiatan "menjual" objek wisata keluar itu yang sangat minim. Apa yang bakal dibeli orang jika barangnya tidak jelas?" ujarnya mempertanyakan. (*) ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

