Tadi pagi sebelum kerja sempat lihat berita di tv. beberapa org yg mengaku pakar
ekonomi sibuk mengatakan hapuskan subsidi bahan bakar karena katanya tidak mengena
sasaran pada rakyat miskin.
Tentulah ini sebuah topik diskusi usang.
Tapi terfikir lagi sedikit kok rasanya ada yg kurang bener ya dg ide ini. kenapa org
berfikir sangat parsial ttg komunitas. padahal katanya para pakar itu telah habis
umurnya karena sekolah. tapi dilain sisi saya berfikir, jangan2 saya sendirilah yg
perlu sekolah lagi.
Tapi ketika saya memaksa mencoba sedikit memahami persoalan ini terbayang bahwa dari
jaman dahulu yg namanya level ekonomi masyarakat/komunitas mestilah diukur secara
keselurhan dan perkembangan serta pergerakannya pun selalu keseluruhan dan bukan
sebagian-sebagian. karena secara bodoh2an saja saya merasa bahwa sesungguhnya kalau
ingin mengklasifikasikan masyarakat/komunitas menjadi kaya dan miskin maka kedua
kategori ini berada dalam keterikatan yg sangat tinggi satu sama lainnya. ekonomi org2
kaya tergantung pada ekonomi org2 miskin serta sebaliknya. bahkan untuk mendefinisikan
org miskin saja kita perlu org kaya dan sebaliknya.
Lantas ketika para pakar mengatakan bhw subsidi mesti diarahkan ke pada golongan
masyarakat miskin, bukankah ini hanya akan menjadi penanganan parsial belaka? sebagai
org yg sangat mengagumi singkronisasi dan harmonisasi, saya percaya sekali bahwa nilai
ekonomi yg mengalir secara parsial tersebut melalui subsidi berdasarkan kategori kaya
miskin akan mencari harmonisasinya sendiri. dan tentu saja dalam perjalanan menuju
harmonisasi/kesetimbangannya itu akan terjadi kompensasi2 nilai ekonomi dalam berbagai
bentuk. dan saya yakini bahwa ketika pada akhir kesetimbangannya akan bernilai nol
buat komunitas keseluruhan. karena klasifikasi kaya miskin hanyalah merupakan persepsi
internal dari komunitas itu sendiri. pada akhirnya sangat disayangkan bahwa segala
program perbaikan melalui subsidi ini hanya akan menghasilkan konsep2 kebingungan dan
sederet kata2 agak bodoh dari mulut2 "para pakar". mungkin hanya sedikit saja kurang
bodohnya dari pikiran saya ini.
Karena saya ini adalah org bodoh yg merupakan produk komunitas ini maka saya tidak
bertanggung jawab atas kepintaran. maka dengan ini saya ingin mengatakan hal yg
mungkin sedikit kurang bodoh saja, bahwa seharusnya subsidi yg semestinya bertujuan
bagi tingkat ekonomi komunitas itu selayak berfikir dalam kerangka yg lebih luas dari
komunitas itu sendiri. karena kalo kita bicara komunitas maka lingkungan nya adalah
komunitas lain. sehingga jika kita melihat ekonomi komunitas dengan kerangka internal
komunitas saja maka yg terjadi hanyalah pergerakan internal dalam komunitas itu
sendiri. sementara nilai komunitas tentulah berbanding dg komunitas lain dan bukan
antar klasifikasi dalam komunitas itu sendiri saja.
eh... saya kehilangan benang merah dari maksud yg ingin saya sampaikan. tapi intinya
sederhana saja. bahwa orientasi subsidi yg beracuan pada klasifikasi internal dalam
komunitas sendiri tidak akan memberi nilai tambah pada level ekonomi komunitas secara
keseluruhan. agar mendapatkan efek menyeluruh pada komunitas maka seharusnya kerangak
fikir mestilah ditarik lebih luas dari komunitas itu sendiri sehingga orientasi arahan
subsidi berdasarkan kaya miskin itu tidak akan memberi nilai pada komunitas. itu
menurut saya. seharusnya orientasi subsidi mestinya berdasarkan pada aspek2 yg akan
mengerakan ekonomi komunitas secara keseluruhan terhadap lingkungan nya yaitu
komunitas lain.
itu saja dulu deh. komentar ttg eonomi dari seorang yg tak punya latar belakang ilmu
ekonomi. bahkan baca laporan keuangan saja baru bisa sebulan yang lalu. silakan para
pakar mengambil alih.
salam,
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Express yourself with Y! Messenger! Free. Download now.
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________